Label Cloud

Wednesday, October 25, 2006

Atasi Air Bersih, Pemrov Diminta Peduli

Radar Banjarmasin - Senin, 2 Oktober 2006
Baru 7 Kecamatan yang Mendapatkan Air Bersih

MARABAHAN – Sejumlah masyarakat di Kabupaten Batola begitu mendambakan layanan air bersih. Jangankan warga yang tinggal di Komplek Perumahan yang tersebar di Kelurahan Handil Bakti dan Desa Berangas Timur Kecamatan Alalak, masyarakat yang ada di pelosok desa pun turut mendambakannya.

Sekadar diketahui, seperti yang pernah dijelaskan Direktur PDAM Batola Nazhirni SE MM, air bersih sebagai kebutuhan masyarakat yang sangat vital diakui tak bisa dijangkau seluruh Kabupaten Batola. Pasalnya dari 17 kecamatan yang ada, PDAM Batola baru mampu melayani 7 kecamatan.

Yaitu Kecamatan Marabahan melalui Unit PDAM Marabahan, Kecamatan Bakumpai melalui IKK Bakumpai, Kecamatan Cerbon melalui IKK Cerbon, Kecamatan Rantau Badauh melalui IKK Rantau Badauh, Kecamatan Anjir Pasar melalui IKK Anjir Pasar, dan dan Kecamatan Alalak melalui IKK Alalak, serta Kecamatan Tamban melalui Instalasi Pengolahan Air Bersih Sederhana (IPAS) Tamban.

Akibatnya, dari 260.967 jiwa penduduk Kabupaten Batola, baru 12,40 persen atau 24.360 jiwa saja yang mampu menikmati layanan air bersih. Masyarakat pun menyadari kemampuan dari Pemerintah Kabupaten Batola yang tidak banyak memiliki dana untuk membangun fasilitas air bersih tersebut.

“Karena itu, menurut saya, Pemerintah Provinsi Kalsel harus turut memikirkan masalah ini, karena ini terkait dengan masalah kesehatan masyarakat Kalsel sendiri,” ujar H Hasan, tokoh masyarakat Kelurahan Berangas Kecamatan Alalak.

Lain lagi yang dikemukakan Riduan warga Desa Tatah Masjid Kecamatan Alalak. Menurut Riduan, Pemkab Batola harusnya menjadikan layanan air bersih sebagai prioritas pembangunan. “Harapan saya, selain transportasi darat yang menjadi priortas, Pemkab Batola hendaknya juga memprioritaskan layanan air bersih sebagai prioritas pembangunan,” ujar Riduan.

Sekedar diketahui, kapasitas yang dimiliki masing-masing unit PDAM Batola masing-masing, Unit Kota Marabahan dengan kapasitas 30 liter per detik, IKK Bakumpai 5 liter per detik, IKK Rantau Badauh 5 liter per detik, IKK Cerbon 5 liter per detik, IKK Alalak 35 liter per ditik, IKK Anjir 10 liter per detik.(gtm)

Sunday, October 22, 2006

Menjawab Sulitnya Air Bersih di Kota Seribu Sungai (1)

Radar Banjarmasin - Senin, 18 September 2006
Mengikis Utang, Membangun Infrastuktur Layanan

Julukan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai bukan berarti penduduknya mudah mendapatkan air yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Letaknya di bawah permukaan laut dan tidak memiliki sumber air dari pegunungan yang cepat diolah menjadi air bersih. Namun demikian, PDAM Bandarmasih menjawab tantangan itu.

AIR bersih merupakan hajat hidup orang banyak. Menengok sejarah kehidupan penduduk Banjarmasin, betapa sulitnya mendapatkan air bersih yang digunakan sebagai kebutuhan pokok sehari-sehari. Seperti yang dikatakan Wali Kota Banjarmasin HA Yudhi Wahyuni, "Dulu sewaktu saya tinggal di Kayutangi, Kecamatan Banjarmasin Utara, betapa sulitnya mendapatkan kucuran air di kran. Apalagi jika musim kemarau, kucuran air itu terhenti sama sekali. Pedagang air dengan gerobak menjualnya dengan harga yang tinggi. Bahkan saya pun juga harus bangun tengah malam, hanya untuk menunggu air di kran yang kucurannya sangat kecil. Alhamdullilah, kerja keras PDAM Bandarmasih bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah dan wakil rakyat, keluhan itu bisa diatasi" kenang Yudhi.

Di tengah jepitan utang bank-bank asing (sisa utang PDAM Bandarmasih hingga 2006 sebesar Rp 110 miliar), PDAM Bandarmasih mulai percaya diri untuk bisa bangkit melayani penduduk Banjarmasin. Pinjaman dengan bunga tinggi dan denda melambung itu mulai perlahan dicicil. Bahkan PDAM Bandarmasih minta pengampunan atau pemutihan terhadap bunga pinjaman dan denda. Selain itu, tawaran utang baru diabaikan. Manajemen yang memikirkan penduduknya menikmati air bersih lebih mempercayai dana rakyat melalui APBD dan APBN, serta tarif rekening air dari pelanggan. "Kalau dana APBD dan APBN itu sumbernya dari rakyat, maka kami kembalikan pula hasilnya ke rakyat. Demikian halnya dengan tarif rekening air yang dibayar pelanggan setiap bulannya. Dengan cara itu, kami bisa melepaskan berbagai utang dengan bunga yang sangat tinggi dan denda yang sangat besar. Percuma jika hasil pendapatan PDAM terus hanya untuk membayar utang dan bunganya," kata Direktur Utama PDAM Bandarmasih Drs H Zainal Arifin MSi beberapa waktu lalu.

Keberhasilan PDAM Bandarmasih mulai dirasakan. Infrastruktur yang menjadi jantungnya pelayanan air bersih terus ditambah dan dikembangkan. Sistem kerja di internal PDAM dibenahi, termasuk SDM-nya. Dengan pasokan air baku 1.825 liter perdetik, kini produksi air bersih mencapai 1.571 liter perdetik (termasuk 500 liter perdetik dari IPA Pramuka II yang bakal diresmikan Menteri PU Joko Kirmanto).

Millennium Development Goals (MDGs) air bersih yang disasarkan pemerintah pusat tahun 2009 sudah mampu melayani 80 persen penduduk Kota Banjarmasin, sudah bukan menjadi ukuran lagi. Hingga hari ini, layanan penduduk kota sudah 83 persen. Dengan penambahan produksi air bersih dari IPA II Pramuka, tahun 2009 bukan lagi mampu melayani 80 persen penduduk, tapi hampir seratus persen. Bahkan, PDAM Bandarmasih mampu memberikan pelayanan regional kepada daerah tetangga.

Konsentrasi PDAM Bandarmasih kini tertuju pada penduduk di dua kelurahan terakhir di Kota Banjarmasin yang belum terlayani. Bagaimanakah IPA II Pramuka yang memproduksi tambahan air bersih 500 liter perdetik bisa secepat mungkin menerobos Mantuil dan Basirih yang menjadi dua kelurahan belum terlayani air bersih itu? (yusni hardi) (bersambung)

Thursday, October 19, 2006

Ikan Keramba di Sungai Kahayan Mati

Rabu, 20 September 2006
Palangkaraya, Kompas - Ribuan ikan keramba milik warga di sepanjang aliran Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, mati. Kematian ikan itu terjadi sejak sekitar dua bulan terakhir. Saat ini Laboratorium Teknik Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kota Palangkaraya sedang memantau kualitas air Sungai Kahayan.

"Dalam satu hari ikan yang mati di keramba milik warga berkisar 10 hingga 50 ekor. Jumlah warga yang mempunyai keramba di tepian Kahayan wilayah Palangkaraya ini lebih dari 1.000 orang," kata Zainuddin, pemilik keramba di Pahandut Seberang, Palangkaraya, Selasa (19/9).

Tingkat kematian ikan yang masih usia bibit lebih tinggi. Beberapa warga rugi karena satu boks isi 6.000 bibit semuanya mati setelah dimasukkan ke keramba tepian Kahayan.

Menurut Zainuddin, kerugian setiap pemilik karamba Rp 2 juta-Rp 6 juta, tergantung dari usia ikan yang mati tersebut. Sebagai gambaran, satu boks berisi 6.000 bibit patin harganya Rp 1,2 juta, sedangkan harga ikan patin usia panen (7-8 bulan) sekitar Rp 12.000 per kg dan ikan nila Rp 13.000 per kg. Awe, pemilik keramba, menuturkan, warga di tepian Kahayan rata-rata memiliki delapan karamba, masing-masing berisi sekitar 2.000 ikan.

"Kematian ikan ataupun bibit ikan dalam jumlah besar mengakibatkan keuntungan kami menipis, bahkan rugi," kata Awe.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan Bapedalda Palangkaraya Andre Manurung menduga salah satu penyebab kematian ikan itu terkait dengan derajat kekeruhan air Sungai Kahayan yang kini sedang surut.

Andre menuturkan, pekan lalu pihaknya sudah memantau kualitas air Sungai Kahayan, termasuk kandungan merkuri. Pemantauan dan pengambilan sampel air sungai dilakukan di empat titik, yaitu di wilayah Kelurahan Marang, Pahandut Seberang, Kamp Takaras, dan muara Sungai Rungan. "Sampel saat ini sedang diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah, dan dalam beberapa hari mendatang hasilnya akan dapat diketahui," katanya. (CAS)

Pencemaran

Senin, 18 September 2006
Sebagian Warga Masih Gunakan Air Sungai Lawa


Samarinda, Kompas - Meski diduga kuat tercemar, air Sungai Lawa di Kutai Barat, Kalimantan Timur, masih digunakan oleh warga untuk mandi dan mencuci. Padahal, sungai itu sedang diteliti oleh tim pemantau pencemaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Pusat dan Bapedal Daerah Kaltim.

Kepala Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Kutai Barat Wahyudinata yang dihubungi dari Samarinda, Minggu (17/9), mengakui masih ada warga di enam kampung pada Kecamatan Muara Lawa yang menggunakan air sungai karena terpaksa. Penyebabnya, bantuan pengadaan air bersih dari PT Trubaindo, perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di dekat Sungai Lawa, belum memenuhi kebutuhan sekitar 2.000 warga.

"Apalagi musim kemarau ini sungai surut dan sebenarnya air tidak layak digunakan," ujar Wahyudinata. Namun, Kepala Tambang Trubaindo, Chirasak Chantanapelin, tidak berhasil dihubungi melalui nomor telepon genggamnya.

Pencemaran di sungai itu dilaporkan mengakibatkan banyak ikan mati, warna air sempat berubah dari coklat menjadi hijau, dan warga terserang diare. Bupati Ismail Thomas telah mengimbau warga agar lebih berhati-hati menggunakan air Sungai Lawa.

Menurut Wahyudinata, PT Trubaindo adalah satu-satunya perusahaan tambang batu bara di daerah aliran sungai itu. Warga mengeluhkan turunnya kualitas air Sungai Lawa sejak beroperasinya perusahaan tambang batu bara itu (Kompas, 7/9).

PT Trubaindo meminta pihak independen menentukan penyebab pencemaran di Sungai Lawa, sebab pencemaran tersebut belum tentu akibat kegiatan perusahaan itu. Namun, perusahaan bersedia melaksanakan beberapa permintaan pemkab.

Wahyudinata mengatakan, Polres dan Pemkab Kutai Barat membentuk tim untuk mendukung kerja tim pemantau pencemaran Sungai Lawa itu. "Hasil penelitian paling cepat diketahui dalam minggu ini," ujarnya. (BRO)

Membebaskan Kota Air dari Krisis Air

Minggu, 17 September 2006
Sebuah gerobak berisi lima jeriken sengaja diparkir pemiliknya di tepi Jalan Mantuil, Kecamatan Banjar Selatan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (15/9). Lima jeriken lagi diletakkan di depan gerobak.

Burhanuddin (55), pemilik gerobak, sedang mengisi jeriken dengan air dari anak sungai Martapura tidak jauh dari gerobaknya. Air itu hanya dipakai mencuci dan mandi. "Air ini tidak dijual. Ini masih masin akibat bercampur air laut yang lagi pasang," kata Burhanuddin.

Air minum atau masak yang juga dijual pengecer keliling bersumber dari tangki air bersih yang disediakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Banjarmasin. Harganya Rp 200 hingga Rp 225 per jeriken isi 25 liter.

Air itu langsung diantar pengecer ke rumah warga dengan harga Rp 700 per jeriken. Bila warga membeli langsung di tangki air seperti dikelola Jidin di Kelurahan Mantuil, harganya Rp 600 per 30 liter.

Harga air "kemasan" itu memang beda-beda tergantung lokasi. Air PDAM yang dijual warga di daerah Alalak Utara dan Selatan, daerah perbatasan Kabupaten Barito Kuala dan Banjarmasin, Rp 1.000 per jeriken.

Warga Mantuil dan Alalak mengeluh dengan harga tersebut. Sebab, harga jual air bersih PDAM Banjarmasih Rp 800 hingga Rp 3.500 per meter kubik atau 1.000 liter, umumnya Rp 3.200 per meter kubik.

Beberapa ibu yang ditemui Kompas di Kelurahan Mantuil mengeluh, sudah bertahun-tahun tak mendapatkan air bersih murah yang mengalir 24 jam.

Apa yang dialami warga Mantuil, Banjarmasin, bukanlah hal yang baru. Fakta ini terjadi di hampir seluruh kota di Indonesia. Belum ada kota yang mampu melayani penyediaan air bersih untuk seluruh warganya. Selain tidak mampu melayani pemasangan baru, umumnya, PDAM di Indonesia masih merugi dan terjerat utang. Lantas, apa yang membedakan Banjarmasin dengan kota-kota lain dalam hal penyediaan kebutuhan dasar ini?

Kota Banjarmasin yang memiliki luas 7.200 hektar atau sekitar 72 kilometer persegi tidak terletak di dataran tinggi dengan ketersediaan air tanah yang cukup. Kota ini berada di daerah yang ketinggian rata-ratanya hanya 0,16 meter di bawah permukaan air laut. Dilewati dua sungai besar, Barito dan Martapura, daerah dengan julukan kota seribu sungai ini justru sangat bergantung pada pasang naik dan surut Laut Jawa.

Itu sebabnya, intrusi air laut yang membuat air sungai dan parit Banjarmasin menjadi asin setiap kemarau bukanlah hal yang asing bagi warga.

Kondisi ini dialami dalam dua bulan terakhir. Keadaan yang sama juga dialami Kota Pontianak dan terkadang Samarinda.

Dalam kondisi seperti ini, PDAM setempat menjadi sasaran kemarahan warga. Biasanya, perusahaan tersebut langsung menghentikan pengolahan air bersihnya akibat kadar garamnya di atas 400 part per million (ppm), sebagaimana dipersyaratkan departemen kesehatan. Kalau dipaksakan beroperasi, warga akhirnya memperoleh air payau yang bisa membahayakan kesehatan.

Apa yang terjadi di Banjarmasin di musim kemarau sekarang. Warga yang protes meminta air bersih masih ada, tetapi dapat dikatakan tinggal sedikit.

Padahal, kadar garam air sungai Barito sempat mencapai 4.000-5.000 ppm. "Satu intake, yakni pengambilan air baku di Sungai Bilu dengan kemampuan 500 liter per detik, sekarang memang dimatikan karena terintrusi air laut," kata Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Banjarmasin, Zainal Arifin.

Namun, penyediaan air bersih di Banjarmasin sudah tidak masalah lagi karena memiliki intake Sungai Martapura yang berada di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Letaknya 20 kilometer dari Banjarmasin dengan kapasitas 1.275 liter per detik.

Selain itu, juga dari intake Pematang Panjang, yang mengambil air baku dari irigasi Riam Kanan dengan kapasitas 600 liter per detik, mampu melayani 83 persen dari penduduk yang mencapai 612.687 jiwa dengan jumlah sambungan 85.214 unit.

Tahun ini, cakupan pelayanannya diperkirakan mencapai 85 persen, di mana sejak Agustus lalu, kemampuan pasokan air bersih ke rumah-rumah warga berlangsung 24 jam. Hal ini karena kemampuan produksi air bersihnya sudah mencapai 1.571 liter per detik.

Kondisi ini sangat kontras dengan lima tahun lalu, saat cakupan pelayanan hanya 56 persen dari jumlah penduduk. Selain itu setiap musim kemarau, hampir 50 persen dari cakupan pelayanan tersebut terhenti total akibat bahan baku air sungainya asin.

Kondisi ini bisa diatasi setelah melakukan investasi dalam enam tahun terakhir dalam bentuk penanaman atau penyertaan modal dari pemerintah pusat melalui APBN, APBD Kalsel, APBD Banjarmasin, swasta, dan dana pelanggan PDAM sendiri.

Tahun 2009 cakupan pelayanan air bersih sudah mencapai 100 persen. Bahkan, sampai tahun 2013, PDAM Banjarmasin mampu melakukan penambahan sambungan sebanyak 50.000 unit dengan pelayanan nonstop 24 jam. (M Syaifullah)

Sungai Kering, Sawah di Kalimantan Selatan Terancam Puso

Selasa, 12 September 2006
Banjarmasin, Kompas - Sekitar 200 hektar sawah di dua kabupaten di Kalimantan Selatan terancam gagal panen seiring dengan mengering dan menyusutnya permukaan air di beberapa sungai. Di Kalimantan Tengah, permukaan air Sungai Kahayan sudah turun hingga 6 meter.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kalsel Sriyono mengatakan, 200 hektar (ha) sawah rawa dan lebak itu ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Tanah Bumbu. Kekeringan diperkirakan terus berlanjut hingga akhir Desember.

"Petugas lapangan terus berupaya mengatasi keadaan, antara lain dengan mencari sumber air dan mengalirkan ke sawah-sawah yang terancam kekeringan," kata Sriyono, Senin (11/9).

Di Hulu Sungai Utara ada 81 pompa untuk sebagian dari 25.000 ha tanaman padi rawa dan lebak. Pertanian rawa lebak mencapai 100.000 ha dari 510.000 ha areal padi Kalsel.

Sriyono optimistis produksi padi tahun ini mencapai 1,6 juta ton gabah kering giling dengan luas tanam 510.000 ha. Sampai akhir Agustus, 350.000 ha sawah dan ladang sudah dipanen.

"Itu sebabnya kenapa Kalsel tidak perlu beras impor. Hasil panen padi daerah ini surplus, bahkan sebagian dijual ke Jawa," kata Sriyono.

Sejumlah petani padi rawa lebak di Hulu Sungai Utara dan Banjar mengaku tidak bisa menghidupkan mesin pompa karena sulit memperoleh solar. Kalaupun ada, harga solar berkisar Rp 5.500 hingga Rp 7.000 per liter.

Kepala Dinas Perkebunan Kalsel Haryono mengatakan, jika kekeringan terus berlangsung sampai akhir Desember, berbagai proyek seperti peremajaan karet dan lainnya bakal kesulitan.

Kahayan

Permukaan air Sungai Kahayan yang melintasi Palangkaraya, Kalteng, sudah turun 6 meter. Dua kapal patroli militer yang sejak musim hujan lalu ditambatkan di dekat dermaga sudah tergolek di dasar sungai. Separuh badan sungai berubah menjadi hamparan tanah, terutama di bagian tepi sudah ditumbuhi rumput setinggi 50-an sentimeter.

Surutnya Kahayan mengganggu angkutan air, terutama yang menuju Kabupaten Gunung Mas di hulu. Namun, harga kebutuhan pokok di Kuala Kurun, ibu kota Gunung Mas, relatif stabil karena adanya jalur darat yang dapat dimanfaatkan untuk mengangkut barang dari Palangkaraya.

Kenaikan mencolok hanya ter jadi pada solar, yang selama sekitar satu bulan terakhir naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 9.000 per liter. Harga minyak tanah juga naik dari Rp 4.000 menjadi di Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per liter.

Selain Kahayan, Sungai Katingan di Kabupaten Katingan pun makin surut. Gosong pasir dasar sungai di bawah jembatan arah Kasongan, ibu kota Katingan, mulai melebar ke tengah. Sebulan lalu, gosong pasir hanya ada di tepi sungai.

"Ada kabar transportasi dan distribusi barang di kawasan hulu Katingan makin sulit sebab alur hilir Katingan makin surut," kata Usman, warga Kasongan. (CAS)

Wednesday, October 18, 2006

Air Kian Asin

Selasa, 17 Oktober 2006 01:59:32

TINGKAT keasinan Sungai Barito dan Sungai Martapura, Kota Banjarmasin dalam sepuluh hari terakhir kian meluas. Bila sebelumnya hanya terasa di dalam kota, kini sudah sampai ke pinggiran seperti wilayah sungai Lulut.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin Drs Zainal Arifin di balaikota Banjarmasin, Selasa mengakui kuatnya intrusi air laut ke dalam sungai Martapura, menyusul musim kemarau yang terus berlanjut.

Akibat begitu tingginya kadar garam yang mencemari sungai Martapura itu, maka dalam seminggu terakhir intake Sungai Bilu milik PDAM Bandarmasih tidak lagi dioperasikan.

Kadar garam yang bisa ditoleransi untuk dijadikan air baku PDAM, 250 miligram per liter, tetapi kadar garam di Sungai Bilu kini mencapai 10 ribu miligram per liter.ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Hujan Buatan Tidak Efektif

Minggu, 15 Oktober 2006 01:31:27

Banjarbaru, BPost
Hujan buatan yang digelar pemerintah pusat melalui Bakornas PB, BPPT dan TNI AU untuk mengendalikan dampak asap di Indonesia ternyata tidak efektif. Pasalnya, kondisi atmosfer Kalimantan yang kering mengakibatkan penaburan garam pada awan sia-sia.

Dalam sebulan terakhir, didapati siklon tropis di sekitar Filipina yang terus bergerak ke arah utara. Massa udara basah yang ada akhirnya tersedot ke arah Filipina. Alhasil, atmosfer di sekitar Sumatera dan Kalimantan termasuk Jawa mengalami kekeringan.

Kepala BPPT, Prof Ir Said F Jenie, Sc.D, ditemui usai evaluasi hujan buatan di wilayah Kalimantan dari Posko Pangkalan Udara Syamsudin Noor mengatakan kondisi tersebut. Menurutnya, langkah efektif mematikan hotspot adalah dengan water bom atau pengendalian sejak dini.

Modifikasi cuaca, kata dia, lebih berfungsi mengurangi kekeringan, diantaranya mengisi air waduk yang surut akibat kemarau panjang dan berdampak luas pada warga. Hujan buatan beberapa hari lalu tidak efektif karena kondisi cuaca di Kalimantan dan Sumatera kurang mendukung.

Suplai uap air kurang, mengingat suhu muka laut di sebelah Barat Sumatera bagian Selatan dan di Selatan Jawa masih dingin, sehingga tidak ada proses penguapan di wilayah tersebut.

"Kondisi alamnya memang belum mendukung. Kita akan menerapkan metode berbasis teknologi yang lebih mengena," jelasnya.

Sementara itu, angin di atas Jawa Sumatera bagian Selatan serta Kalimantan bertiup dari Tenggara. Akibatnya kondisi temperatur permukaan laut masih dingin (1 derajat di bawah rata-rata). Ini langsung berimplikasi pada tak terjadinya penguapan dan minimnya suplai air di atmosfer dan tidak tumbuhnya awan konvektif.

Ditanya, apakah hujan buatan akan terus dilakukan. Pihaknya mengaku masih berkoordinasi dengan berbagai pihak. Setelah dievaluasi, akan diambil kebijakan dari Menkokesra.

Sementara itu, Sucantika Budi, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Banjarbaru menyebutkan, suhu udara di Kalsel beberapa hari terakhir sangat fluktuasi. Artinya, peluang terjadinya kabut asap karena kebakaran lahan masih saja bisa terjadi.

"Tidak ada cuaca extrim (cuex) sebenarnya ya. Saat ini suhunya berfluktuasi. Sempat tercatat 35,37 derajat celcius dan ada mencapai 37 derajat. Begitu juga dengan kelembaban antara 40 persen dan tiba-tiba menurun menjadi 24 persen pada Senin (9/10)," tandas Sucantika.

Sementara prediksi hujan alamiah dengan kondisi sekarang tak mengubah prakiraan sebelumnya. Hujan masih akan terjadi pada dekade (pekan) III Oktober hingga pekan II November. Pada rentang waktu tersebut, tidak adanya cuex seperti gejala elnino, masih diperkirakan besar kemungkinan tak berubah. Hujan masih akan turun saat itu. niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Pemko Tambah Armada Sampah

Minggu, 15 Oktober 2006 01:42:04

PEMERINTAH Kota Banjarmasin bertekad menciptakan kota yang lebih bersih dengan menambah berbagai fasilitas kebersihan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan armada angkutan sampah per kecamatan.

"Armada angkutan sampah yang beroperasi di kecamatan ini adalah kendaraan roda tiga, jenis Tossa yang diperkirakan bisa beroperasi masuk ke dalam gang dan jalan-jalan sempit kecamatan," jelas Kepala Dinas Kebersihan Sayidin Noor, kemarin.

Melalui armada ini, lanjutnya, maka diharapkan seluruh tumpukan sampah di perkampungan bisa diangkut ke tempat pembuangan sampah sementara sebelum akhirnya dibawa ke lokasi pembuangan akhir di Basirih.

Pemanfaatan armada kendaraan bermotor ini merupakan era baru dalam pengangkutan sampah, sebab selama ini hanya memanfaatkan gerobak sampah. Dengan pemanfatan armada ini pula maka diharapkan pengangkutan sampah ke pembuangan sampah sementara lebih cepat dari biasanya. ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Benco Segera Keruk Alur

Minggu, 15 Oktober 2006 01:41:50

Banjarmasin, BPost
Setelah terlambat sekian lama, akhirnya kapal keruk Benco 5 Tuvalu milik PT Teratai tiba di Pelabuhan Trisakti, Sabtu (14/10) siang. Kapal itu ditarget bekerja selama 70 hari mengeruk lumpur alur Sungai Barito.

Wartawan BPost, Minggu (15/10) berkesempatan bersama ketua panitia lelang, Robiansyah, Direktur PT Teratai, Surya dan H Noordi Samadi, Direktur Utama PT Sehati Jaya Samudera (agen pelayaran kapal keruk) melihat langsung kapal keruk yang diparkir di perairan Pelabuhan Trisakti.

Jika dilihat sepintas, bentuk kapal keruk itu tak ubahnya seperti kapal kargo atau kontainer. Pada bagian belakang kapal juga ada dek (dua tingkat) untuk para awak kapal. Sementara pada bagian tengah kapal, tampak datar.

Namun setelah diperhatikan sampai ke atas kapal ternyata di bagian tengah kapal keruk yang bernama lengkap Benco 5 Tuvalu itu terdapat wadah layaknya kolam penampungan. Di sekiling kolam tampak pipa yang melingkar , ujung pipa menjorok ke laut disamping kanan kapal.

Menurut keterangan Surya, kegunaan dari kolam besar tersebut untuk menampung lumpur yang akan dikeruk. Sementara pipa berdiameter 50 sentimeter itu berfungsi sebagai pompa sedot.

"Setelah lumpur yang disedot dan ditampung di kolam, untuk membuangnya kita menggunakan pintu yang ada pada bagian depan kolam karena bisa buka tutup. Mengenai lokasi pembuangan lumpurnya nanti tentu sesuai apa yang ditentukan," kata Surya.

Captain Kapal Benco, Tandungan mengakui salah satu faktor penyebab terlambatnya kapal keruk yang dikemudikannya itu tiba di Pelabuhan Trisakti karena masalah cuaca yang akhirnya berpengaruh terhadap kondisi laut yang dilewati.

"Sebenarnya target waktu perjalanan kita dari Johor Malaysia (Rabu (4/10)) tujuh hari sudah sampai di Pelabuhan Trisakti. Namun karena terhalang ombak yang begitu besar akhirnya waktu perjalanan kapal kita ini molor sampai sembilan hari," akunya.

Terlepas dari masalah itu, kata Tandungan, yang jelas ia bersama kru kapal yang lain merasa bersyukur telah berhasil membawa kapal keruk tersebut sampai ke Banjarmasin dengan selamat. "Karena ini merupakan pengalaman membawa kapal cukup lama," katanya.

Karena menurut Robiansyah, sebelumnya sampai kapal keruk tersebut juga sempat kandas di Muara Barito selama lebih kurang dua hari akibat kehabisan bahan bakar minyak solar.

Dikatakan Robiansyah, terlepas dari masalah itu yang jelas sekarang ini pihaknya sedikit lega karena kapal keruk itu akhirnya datang meskipun terjadi beberapa kali keterlambatan.

"Sebagaimana tahapan pelaksanaan proyek yang ditentukan. Karena kapalnya sudah datang, besok (hari ini) sebelum dilakukan penandatangan kontrak, panitia lelang akan melakukan pengecekan ulang terhadap kondisi kapal keruk itu," katanya.

Karena, kata Robiansyah, akibat terjadinya beberapa kali keterlambatan pihaknya meminta agar tingkat daya keruk kapal itu itu bisa mencapai 10-15 ribu meter kubik per hari.

"Sehingga diharapkan lama pengerjaan proyek alur ditarget selama 70 hari bisa selesai. Dengan jumlah lumpur yang dikeruk 678 ribu meter kubik di spot 9.500-11.500," ungkap Robiansyah sembari mengaku bila disepakati besok kontraknya ditandatangani. mdn

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Hujan Buatan Matikan Separuh Hot Spot

Senin, 18 September 2006 01:01:08

Banjarbaru, BPost
Niat Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) meminimalkan jumlah titik api (hot spot) dengan hujan buatan terbukti manjur. Terbukti, selama empat hari tim bekerja, hampir 50 persen hot spot yang tersebar di wilayah Kalimantan disapu hujan buatan yang sebelumnya disemai tim gabungan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Jakarta (BPPT) dan TNI Angkatan Udara Indonesia (AU) Bandara Syamsudin Noor.

"Selama empat hari kita terbang, tim Flight Scientis (FS) sudah menangkap ada penurunan jumlah titik api. Ada penurunan sekitar 50 persen dari titik api saat semula kita datang empat hari lalu," tandas Asril salah seorang anggota FS.

Pengurangan hot spot itu didapatkan selain dari pantauan visual kasat mata saat terbang, juga dari data berbagai sumber. Satelit NOAA dan landsat sempat menangkap turunnya hujan di sekitar awan yang disemai saat tim menyemaikan awan yang rain enchancement (berpotensi hujan, Red).

Garam yang ditebar dari ketinggian sekitar 9.000 kaki ke awan-awan ini langsung mencurahkan air dan jatuh di sekitar lokasi pembakaran hutan, seperti di Gambut yang selama ini terkenal sebagai produsen asap yang lumayan tinggi di Kalimantan Selatan.

Dari data yang dikumpulkan tim FS diketahui, dampak asap di Kalteng dan Kalbar relatif lebih kondusif. Akumulasinya tidak lagi meninggi, meski dalam berjalannya waktu tak bisa dipastikan apakah pengurangan ini akan terus terjadi.

Asril dan timnya akan melakukan evaluasi apakah timnya masih perlu berada di Kalsel. Tapi, dia merekomendasikan hujan buatan sudah cukup di Kalimantan. niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Hujan Buatan Mulai Turun

Minggu, 17 September 2006 04:20

Banjarmasin, BPost
Hujan deras yang mengguyur wilayah Gambut, Kabupaten Banjar, Sabtu (16/9) sore kemungkinan besar merupakan hasil suntikan garam di sebuah awan yang berada di atas Banjarmasin.

Garam itu disuntikkan tim Flight Scientis dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bekerja sama dengan TNI AU pada siang harinnya.

Anggota tim Flight Scientis, Asril kepada BPost mengemukakan, awan yang berada di atas Kota Banjarmasin itu memang sangat bagus. Artinya, meskipun tidak disemai garam, awan itu berpotensi mengeluarkan hujan yang cepat dan deras.

"Namun dengan penambahan garam, awan itu akan lebih cepat menjadi hujan dan menghasilkan hujan yang lebih besar," beber Asril.

Lalu mengapa hujan justru turun di Gambut? Menurut Asril, awan itu sifatnya bergerak sesuai dengan arah angin. "Karena terbawa angin, bisa saja kemudian jatuh di wilayah Gambut dan sekitarnya," jelas Asril. rbt

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

‘Keledai’ Dan ‘Lubang’ Di Inpres Gambut

Sabtu, 16 September 2006 02:42

Oleh:
Budi Kurniawan
Alumnus FISIP Unlam Banjarmasin

Kamis (31/8) bisa jadi adalah hari membahagiakan bagi berbagai pihak yang dalam waktu lama mendambakan kejelasan status lahan eks Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare. Usai rezim Orde Baru tumbang, proyek mahabesar yang diagung-agungkan akan menjadi lumbung padi nasional di luar pulau Jawa ini menjadi sangat terbengkalai. Segala hal menjadi tidak terurus, termasuk transmigran yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan orang Dayak Ngaju yang sejak lama bermukim di lahan itu.

Pemprop Kalteng sepertinya serius untuk memanfaatkan kembali lahan eks PLG itu, baik secara hukum dan ekonomi kini mendapat kejelasan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mencanangkan rehabilitasi dan revitalisasi lahan eks PLG, menyatakan akan menerbitkan Intruksi Presiden (Inpres) yang di dalamnya antara lain mengatur soal lahan eks PLG. SBY juga berjanji mendukung rencana Pemprov Kalteng membenahi berbagai infrastruktur.

Jika janji itu benar dilunasi, maka Kalteng sesungguhnya relatif beruntung. Payung hukum yang selama ini didambakan telah terkembang, sehingga langkah apa pun yang diambil di lahan eks PLG akan memiliki kekuatan hukum yang mengikat semua orang. Pengumpulan dan penyediaan dana untuk merehabilitasi dan merevitalisasi lahan eks PLG, juga kini punya dasar hukum.

Tapi jika janji itu tak terbayar, maka Inpres ini bisa jadi akan menambah daftar panjang kebijakan Presiden di masa silam yang juga tak terbayar. Malah menjadi semacam sarana ingkar janji dan pengingkaran hukum.

Presiden Soeharto, pendahulu SBY, misalnya, mengeluarkan Keppres Nomor 82 Tahun 1995 sebagai landasan dimulainya pengerjaan PLG Sejuta Hektare. Keppres ini lahir tak lama setelah sejumlah broker dan menteri bertemu Soeharto, menyokong dan meyakinkan bahwa PLG Sejuta Hektare adalah kebijakan tepat untuk menjadikan Kalteng sebagai lumbung padi nasional di luar Jawa.

Soeharto juga mengeluarkan Keppres yang dikeluarkan pada 23 Januari 1996, membuat PLG Sejuta Hektare langsung jalan. Keluarnya Keppres ini sebenarnya mengangkangi UU Nomor 24 Tahun 1992 yang menetapkan area gambut sebagai kawasan lindung.

Tapi anehnya, tak seperti proyek besar lainnya, PLG tak disertai studi kelayakan mendalam dan tanpa analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). UU yang mengharuskan studi kelayakan itu diterabas habis. Padahal, dampak dari PLG itu pasti akan mengubah segalanya di Bumi Kalteng. Perubahan lanskap fisik, ekonomi, sosial dan budaya, pasti lebih besar dan jutaan kali lebih besar dari jutaan hektare lahan yang akan disulap menjadi persawahan itu.

Keppres Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menyatakan, kriteria kawasan bergambut adalah tanah bergambut dengan ketebalan gambut tiga meter atau lebih terdapat di bagian hulu sungai dan rawa juga diingkari. Kawasan bergambut yang di dalam Keppres itu termasuk dalam kelompok kawasan lindung yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya; perlindungan itu untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir serta melindungi ekosistem yang khas di kawasan bersangkutan, tak ada pengaruhnya.

Belajar dari pengalaman ingkar janji dan tumpang-tindihnya kebijakan politik yang diambil pemerintah pusat di Jakarta, maka sangat masuk akal jika langkah untuk mengawal janji soal Inpres Gambut ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan kritis. Terutama oleh pihak yang memahami bagaimana cara mengelola gambut dengan baik dan benar.

Bukan seperti ‘pengawalan’ yang dilakukan sekelompok kaum cerdik pandai di Jakarta dan sebuah perguruan tinggi pertanian negeri terkemuka di Bogor, yang telah banyak kecipratan dana. Namun bungkam seribu bahasa, tak berani bicara bahwa skenario yang akan dikembangkan Orba di Kalteng hanya akan menyengsarakan rakyat.

***

Mengharapkan seluruh lahan eks PLG (1,5 juta hektare) berfungsi kembali dan menghasilkan padi seperti impian Soeharto, untuk saat ini tentu sudah tak masuk akal. Kerusakan di sana-sini membuat hanya sebagian kecil dari lahan eks PLG itu bisa dimanfaatkan lagi. Dalam catatan Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang SH, potensi lahan untuk tanaman padi di lahan eks PLG berjumlah mencapai mencapai 160.000 hektare. Sedangkan jumlah trasmigran di kawasan Dadahup --salah satu kawasan yang masuk dalam wilayah lahan eks PLG-- hanya mencapai 8.487 KK dari semula 15.600 KK.

Sedangkan menurut Menteri Pertanian Anton Apriantono, dari 1,4 juta hektare bekas pengembangan lahan gambut hanya 330.000 hektare yang potensial untuk lahan pertanian. Sisanya harus dikembalikan ke konservasi. Dari 330.000 hektare lahan untuk pertanian, hanya 50.000 hektare yang cocok untuk ditanami padi dan sekitar 12.000 hektare dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat. Di lokasi itu, produktivitas padi cukup tinggi jika ditunjang teknologi dan bibit unggul.

Namun, untuk mengelola lahan yang sedikit itu tentu saja dana yang diperlukan masih besar. Jika dibandingkan dengan dana yang dihamburkan pemerintah pusat pada 1995 saat PLG baru akan dijalankan sebesar 2-3 miliar dolar AS (ketika perhitungan itu dibuat, nilai satu dolar AS setara Rp2.300), tentu dana yang kini diperlukan tak sebesar itu. Tapi, tentu saja soal dana ini akan merepotkan. Selain repot untuk mendapatkannya, juga akan repot mengawasinya.

Seperti kata orang bijak bestari, hanya keledai yang jatuh dua kali di lubang sama dan pengalaman adalah guru yang baik, maka dalam soal lahan eks PLG Sejuta Hektare, diperlukan kearifan dan transparansi dalam segala hal. Terutama soal bagaimana memperoleh dana pembiayaan dan mengalokasikannya. Jika itu tak terjadi, maka ‘keledai’ baru akan lahir (lagi) dan ‘lubang’ baru akan tergali lagi. Kedua hal yang pasti sama-sama tidak dihendaki.

e-mail: budibanjar@yahoo.com

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Saturday, October 14, 2006

Dukung Penundaan Amdal

Jumat, 13 Oktober 2006 01:13:16

MARTAPURA - Keinginan menunda pembuatan dokumen analisa mengenai dampak lingkungan (amdal) oleh Pemkab Banjar, mendapat dukungan anggota DPRD Banjar yang juga aktivis lingkungan hidup, Andin Sofyanoor.

Ia mengaku, belum mendapat laporan tentang ada niatan penundaan itu. Sehingga, tidak mengetahui persis latar belakang perkembangan tersebut.

Dirinya berharap, pihak Bapedalda dapat mengkonfirmasi tentang niatan penundaan itu ke dewan. Setidaknya, supaya dapat saling beri masukan. Hanya, dirinya sangat mendukung dan setuju akan hal ini.

"Saya sangat setuju, dan di sisi lain bersyukur, dengan rencana penundaan tersebut," ucapnya, saat dimintai tanggapan, Jumat (13/10).

Pasalnya, kata politisi muda ini, tak pernah ada dalam sejarah di manapun kalau pemerintah yang membuatkan dokumen Amdal. Harusnya, tetaplah pihak investor yang membuat Amdal.

Hal itu berdasar acuan yang ada. Di antaranya, peraturan pemerintah tentang lingkungan hidup dan Kepmen Kimpraswil No 17/2002 tentang batasan UKL/UPL dengan Amdal.

Namun demikian, ia menegaskan, dirinya tetap berkomitmen kalau pembuatan dokumen Amdal harus diserahkan kepada investor yang membangun Pasar Ahad tersebut.

Langkah terdekat, perlu melakukan adendum atau memperbarui kontrak kerja sebelumnya antara pemkab dengan investor. Mengingat, 20 tahun yang akan datang, pasar itu baru menjadi aset pemkab. mtb/awj

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

KRISIS AIR BERSIH Melanda KALSEL

Jumat, 13 Oktober 2006 00:4

Warga Pedalaman Mulai Menjerit

KEMARAU panjang mulai berdampak. Masyarakay Kalimantan Selatan, terutama yang tinggal di pedalaman mulai merasakan krisis air bersih. Krisis air bersih di daerah pedalaman dilaporkan warga kepada Gubernur Kalsel Rudy Ariffin yang melakukan kunjungan Safari Ramadan ke Kabupaten Balangan.

Kasubdin Dokumentasi Humas Pemprov Kalsel, Zainuddin, Kamis (12/10) mengatakan, Gubernur Rudy Ariffin mendapat laporan sebagian warga terpaksa memanfaatkan air tambak untuk kebutuhan sehari-hari, sebab air sungai atau telaga sudah kering.

Meski di Balangan sudah dibangun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tetapi dari 160 desa yang ada di kabupaten tersebut, baru sekitar 25 persen yang bisa dilayani air bersih PDAM setempat. Sementara yang lain tetap mengandalkan air sungai dan air telaga dan sumber lainnya.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin ketika berbuka puasa bersama tokoh masyarakat, alim ulama, di Masjid Istiqamah kota Paringin, Rabu malam (11/10) memahami kesulitan masyarakat memperoleh air bersih itu, dan berjanji akan memberikan bantuan sebuah mobil tangki air kepada PDAM setempat sehingga memudahkan pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang agak jauh dan terpencil.

Sejumlah warga Balangan menjelaskan bahwa kesulitan air dialami warga yang jauh dari sungai besar, dan persawahan. Mereka tinggal di pegunungan.

Tetapi bagi warga yang tinggal di dekat Sungai Tabalong, Sungai Balangan, serta Sungai Pitap untuk saat ini masih bisa memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari.ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Irigasi Mulai Kering

umat, 13 Oktober 2006 01:18:15

Banjarmasin, BPost
Kemarau panjang menimbulkan masalah penyediaan bahan baku air bersih. Setelah masalah tingkat keasinan air di Sungai Bilu melampaui ambang batas, PDAM Bandarmasih dihadapkan masalah keringnya aliran air irigasi.

Direktur Utama PDAM Bandarmasih mengatakan, sejak 10 hari lalu, pihaknya tidak bisa menggunakan air baku dari intake Sungai Bilau dan saluran irigasi. Akibatnya, untuk mendapatkan air baku, hanya mengandalkan intake Sungai Tabuk.

"Ini murni faktor alam. Untung saja kita memiliki intake di Sungai Tabuk, kalau tidak mungkin warga tidak mendapatkan suplai air bersih," ujar Zainal di sela-sela makan sahur bersama, Kamis (12/10) dini hari, didampingi Direktur Teknik Ir Muhlis, Kabag Pelanggan Budi, Kabag Humas Rusdi dan Sekretaris Wahid.

Mantan Kabag Humas Pemko Banjarmasin ini menambahkan, penggunaan intake Sungai Tabuk memiliki konsekuensi yakni biaya operasional meningkat. Karena jarak pengiriman air ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) cukup jauh.

"Meski hanya mengandalkan intake Sungai Tabuk, Insya Allah suplai air bersih pada Lebaran nanti tidak akan mengalami gangguan," tukas Zainal.

Dikatakannya, intake Sungai Tabuk setelah beroperasinya sistem perpipaan besar yang baru dipasang telah mampu berproduksi 1.200 liter per detik. Produksi itu masih bisa ditingkatkan jika mesin pompa air memadai.

"Makanya kami mencanangkan baru pada 2016 pelayanan PDAM Bandarmasih prima. Sebab masih banyak yang perlu kita benahi terkait peralatan seperti pipa jaringan, reservoir, dan mesin pompa yang harus diganti," tandasnya.ais

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Sampah Pasar Menumpuk

Kamis, 12 Oktober 2006 01:28:38

Pelaihari, BPost
Upaya Kantor Pasar menata dan membersihkan pusat pasar Kota Pelaihari terkendala, karena sebagian pedagang masih setengah hati merespon sehingga sampah semakin menggunung.

Berdasarkan pantauan BPost, aneka jenis sampah (organik dan anorganik) menghiasi sudut-sudut pasar. Tumpukan sampah dalam jumlah besar mudah dijumpai di los sayuran. Bahkan, ada satu los yang berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah.

Sampah tersebut sepertinya jarang terangkut secara tuntas, sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap. Got bagian ujung dekat los ikan juga dipenuhi belatung.

Kepala Kantor Pasar Tala Drs HM Rafiki Effendi MSi tak menepis fakta negatif itu. "Kami akui sampah di pasar memang belum bisa tertangani secara maksimal. Tapi, kami terus berupaya menanggulanginya."

Ada sejumlah kendala yang dihadapi, di antaranya keterbatasan sarana dan anggaran. Juga, masih rendahnya kesadaran pedagang. "Coba bayangkan, belum selesai kami membersihkan sampah di pasar, ada beberapa pedagang yang melemparkan sampah. Boro-boro membantu, ini malah menambah sampah," tutur Rafiki.

Lebih ironis lagi, bak sampah yang diletakkan di pertokoan kelontongan sering hilang. Bahkan, seringkali tiang penyangganya pun raib dijarah tangan jahil.

"Beberapa pedagang keberatan ada bak sampah di tiap dua pintu toko, katanya bak sampah itu membuat toko mereka tertutupi," ucap Rafiki sedih.

Pihaknya kini terus meningkatkan koordinasi dengan Dinas Kimprasda dalam penanganan sampah pasar. Di antaranya memaksimalkan volume pengambilan sampah.

Selama ini, Dinas Kimprasda menyediakan satu unit truk untuk mengangkut sampah pasar. Tahun ini, Dinas Kimprasda mendapat bantuan enam unit bak sampah permanen dari pemprov. "Saya minta empat unit diletakkan di pasar," tukas Rafiki.

Namun fasilitas tersebut belum menjamin seluruh sampah di pasar bisa diatasi. Pasalnya, sebagian tumpukan sampah di dalam sulit dijangkau angkutan (truk sampah).

Perlu adanya perda sampah. Tanpa adanya piranti hukum, sulit untuk mewujudkan daerah yang bersih, termasuk di kawasan pasar. roy

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Mesin Pengolah Dorong Industri Rotan

Kamis, 12 Oktober 2006 01:28:30

Amuntai, BPost
Tiga unit peralatan mesin pengolah rotan yang diberikan Dirjen Industri Kecil Menengah Departemen Perindustrian RI, diharapkan mampu membangkitkan industri rotan di Kabupaten Hulu Sungai Utara, juga memperbaiki kualitas produk.

Jenis peralatan itu masing-masing satu unit mesin pembelah (split) yang dilengkapi delapan roller, mesin penipis kapasitas 40 kg per delapan jam, dan rattan weaving.

Wakil Bupati HSU, HM Welny, mengatakan tiga unit mesin itu masih menunggu kiriman dari pusat. "Diperkirakan Oktober sudah datang karena sudah ditenderkan," kata Welny yang juga Pembina UKM HSU.

Mesin pengolah ini, kata Welny, akan dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mandiri di Desa Jumba, Amuntai Selatan, karena di daerah tersebut sebagian besar perajin rotan masih eksis.

Dengan bantuan mesin itu, diharapkan membantu perajin meningkatkan kuantitas produksi maupun kualitas.

Syamsuri, staf Bidang Perindustrian Dinas Perindagkop HSU, mengatakan perkembangan industri rotan, khususnya lampit, mengalami penurunan. "Dulu ratusan, kini hanya 30-an industri," ujarnya.

Merosotnya produksi di HSU ini, jelas dia, antara lain disebabkan persaingan dengan perajin negara seperti China. Produksi lampit dan anyaman rotan dari HSU pada masa kejayaannya 1980-1990-an merebut pasar luar negri seperti Jepang, China dan Korea. Masuknya produk China membuat produk HSU kalah bersaing dari segi kualitas.

Sampai saat ini, perajin HSU berupaya meningkat kualitas produk, meskipun kegiatan produksi terbatas pesanan pihak kedua (perusahaan pengekspor) kerajinan rotan di Banjarmasin.Dulu kegiatan pengiriman keluar negeri dilakukan sendiri oleh pengusaha pengolahan rotan di daerah ini.

"Sekarang tidak ada lagi. Mereka bekerjasama dengan perusahaan eksportir rotan di Banjarmasin. Perusahaan itulah yang memfasilitasi pesanan, jenis desain produk sampai pengadaan bahan baku rotannya. Perajin tinggal melaksanakan order itu," jelas Syamsuri. han

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

300 Ha Lahan Pertanian Terbakar

Kamis, 12 Oktober 2006 01:28:23

Paringin, BPost
Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (PPP) Kabupaten Balangan menyatakan, selama musim kemarau tahun ini sebanyak 300 hektare lahan pertanian di kabupaten Balangan terbakar. Selain terbakar sendiri, sebagian sengaja dibakar masyarakat untuk membuka perkebunan.

Kepala Dinas PPP Bakhtiar Akhmad, Selasa (10/10), menjelaskan kawasan terbakar selain hutan dan semak yang merupakan lahan tidur, juga areal persawahan yang sudah selesai panen padi.

Sedangkan pembakaran disengaja dilakukan untuk berkebun jagung, kacang dan tanaman palawija lainnya. Kebakaran dan pembakaran lahan yang berpotensi menyebabkan kabut asap ini, tersebar di Kecamatan Lampihong, Batumandi, Awayan dan Paringin.

"Sulit mencegah mereka melakukan pembakaran, karena petani sudah menganggap inilah satu-satunya cara yang paling murah dan mudah untuk bertani," kata Bahtiar.

Selain kebakaran lahan pertanian, kemarau juga membuat 150 ha tanaman padi mengalami gagal panen akibat kekeringan. Pertanian padi di Balangan selain mengandalkan sawah tadah hujan, juga ladang gilir-balik, yang digarap masyarakat Dayak di Pegunungan Meratus.

Ladang gilir balik relatif tahan kekeringan, namun rawan berbagai hama seperti tikus.

Menurut data dinas itu, luas areal tanam untuk pertanian di Balangan seluruhnya berjumlah 28.000 ha. Dari luas itu, hanya ditanami 18.000 ha, sisanya lahan tidur.

Gagal panen disebabkan tidak ada sumber air yang bisa membantu petani melakukan penyiraman. Sungai-sungai mengalami kekeringan. "Kalaupun diberi pompa air akan sulit juga mencari sumber air," kata Bahtiar.

Mengenai ketersediaan pangan, Bahtiar menyebutkan, Kabupaten Balangan memang bukan lumbung pangan, karena selama ini kebutuhan daerah pemekaran itu sebagian masih dipasok daerah lain.

Lalu apa upaya mengatasi permasalahan yang dihadapi petani saat kekeringan? "Satu-satunya dengan sistem irigasi. Sekarang sudah dibangun Bendung Pitap di Awayan yang ditarget mengairi ribuan hektare lahan pertanian. Tapi soal sejauh mana penyelesaiannya, kami belum mengetahui, karena itu proyek provinsi," katanya. han

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Diare Kembali Menyerang

Rabu, 11 Oktober 2006 00:55:20

Amuntai, BPost
Sepekan terakhir ruangan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pembalah Batung, Amuntai, kembali dipenuhi pasien penderita diare. Bahkan, di antaranya sempat dirawat di lorong rumah sakit.

Sebelumnya, pada Agustus dan September lalu juga terjadi lonjakan pasien diare di rumah sakit yang berada di ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara itu.

Data di bagian perawatan anak, selama Oktober pihak RS menerima 40 pasien rawat inap khusus penderita diare dari berbagai kecamatan di HSU.

Sebelumnya, September lalu, ruang anak mendapat kunjungan 58 pasien diare balita. Salah satu orangtua pasien dari Amuntai Selatan mengaku, anaknya sempat dirawat di luar zaal kelas III, karena ruangan sudah penuh.

"Sekarang pasiennya sudah banyak pulang, kami akhirnya bisa mendapat ruangan," katanya.

Rosidawati, Kepala Ruang Perawatan A RSUD Pembalah Batung, mengatakan setelah mendapat perawatan, kini tinggal 12 pasien anak.

Kepala Dinas Kesehatan HSU, drg Isnur Hatta, mengakui diare masih merupakan penyakit rangking atas yang diderita balita di HSU.

Namun, sela Hatta, lonjakan pasien di rumah sakit belum bisa dijadikan ukuran menetapkan kondisi luar biasa (KLB). "Kalau dilihat data yang dikumpulkan dari puskesmas di HSU dan rumah sakit, malah terjadi penurunan, dari 727 pada Agustus menjadi 673 pada September. Sedangkan kasus diare Oktober masih di olah," jelasnya.

Catatan BPost, kasus diare dari Januari hingga Juli 2006, berkisar 277 hingga 398 kasus. Agustus, terlihat lonjakan cukup tajam, yaitu 727, hingga turun menjadi 673 pada September.

Sementara itu, meskipun pihak dinkes belum menemukan lonjakan pasien ISPA akibat kabut asap yang masih menyerang HSU, namun sudah banyak warga menderita batuk-batuk, demam dan sakit tenggorokan. Keluhan itu tak hanya dialami anak-anak, tapi juga orang dewasa.

Di masjid-masjid banyak jamaah Shalat Tarawih batuk-batuk bersahutan, yang diuga akibat gangguan udara.

"Saya shalat di Masjid Raya, banyak jamaah batuk-batuk bersahutan," kata seorang warga Kebun Sari. han

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Kapal Keruk Tiba Di Trisakti

Rabu, 11 Oktober 2006 01:10:06
Kelayakan Dicek Ulang

Banjarmasin, BPost
Setelah mengalami keterlambatan beberapa hari, Kapal Benco yang dikirim PT Teratai untuk mengeruk Alur Sungai Barito, Rabu (11/10) ini tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.

Kapal yang dikirim dari Johor Malaysia tersebut pagi kemarin sudah memasuki perairan Kapuas, Kalimantan Tengah.

"Dari hasil kontak kita, kapal keruk itu sudah sampai di daerah Kapuas hari ini (kemarin-red). Maka Rabu dinihari kapal itu sudah sampai di pelabuhan," kata Ketua Panitia Lelang Proyek Alur, Robiansyah.

Dengan datangnya kapal keruk itu berarti telah menghapus berbagai keraguan sementara pihak yang sempat pusing akibat keterlambatan itu. Hanya saja, meski kapal tersebut sudah standby, pihaknya tetap melakukan pengecekan ulang terhadap kelayakan kapal, sebelum kontrak ditandatangani.

"Artinya kondisi kapal keruk tersebut tetap harus kita pastikan dulu apakah masih layak pakai atau tidak, sebagaimana hasil pengecekan kita pertama di Malaysia," katanya.

Ia mengakui akibat keterlambatan, jadwal pengerjaan yang direncanakan 80 hari sejak 30 September, terpaksa mundur beberapa hari. Karenanya, untuk menutup waktu yang terbuang itu ia berharap bisa mengoptimalkan kinerja kapal tersebut.

"Daya keruk kapal tersebut bisa sampai 10 ribu kubik per hari. Untuk menutupinya kalau bisa per hari bisa di atas itu," pintanya.

Sesuai rencana awal, pengerukan ditargetkan sepanjang sekitar 2 kilometer di spot 9.500-11.500 dengan kedalaman pengerukan (lowest water surfice dsingkat LWS) 4 meter dan lebar 100 meter.

Menurut Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin, Captain Sufrisman Djaffar, apabila target itu tercapai arus lalu lintas pelayaran kapal di alur bisa berlangsung selama 16-20 jam setiap hari dengan draft kapal mencapai lima meter.

"Artinya meski tambahan air pasang di alur hanya 1,1 meter, kapal dengan draft lima meter masih bisa lewat. Apalagi ketinggian air pasangnya lebih. Jadi karena kita lihat daftar pasang surut di alur rata-rata di atas satu meter, maka waktu kapal untuk lewat di alur cukup lama," pungkas Sufrisman. mdn

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

MEMBURU AWAN, MEMBUAT HUJAN (2-HABIS)

Rabu, 11 Oktober 2006 01:25:21
Berharap Awan Hitam Terbang Tinggi

Munculnya kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan sungguh memprihatinkan. Tak kurang, Wapres Jusuf Kalla pun mendesak agar hujan buatan digalakkan. Bagaimana potensi di Kalimantan?

Dari pantauan citra satelit, Senin (9/10) lalu, awan comulunimbus (awan hitam) sudah mulai banyak menggumpal di atas langit Kalsel, Kalteng dan Kalbar. Pertumbuhan awan yang cukup banyak itu, diprediksi bakal sering memunculkan hujan.

Asalkan, kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan berkurang. Pasalnya, kabut asap inilah yang sering menghalangi awan-awan itu berubah menjadi hujan.

Kabut asap ini menghalangi awan comulunimbus mencapai ketinggian di atas 11 ribu feet dimana awan biasa diproduksi menjadi hujan. Selain itu, kabut asap juga menghalangi sinar matahari untuk mengurai awan cumulus tersebut.

Kabut asap sendiri tampak pekat pada ketinggian 7.000-8.000 feet. Populasi asap itu merata di wilayah Kalsel, Kalteng dan Kalbar sehingga cukup menyulitkan terjadinya hujan.

M Djazim Syaifullah SSi MSi dari BPPT mengatakan, dari pantauannya tiap hari sejak tanggal 1 Oktober, kali ini pertumbuhan awan comulunimbus-nya paling bagus.

Melalui Hercules A1323, awan itu diperkirakan sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu feet. Biasanya, awan ini hanya tampak pada ketinggian 8.500-9.000 feet sehingga sulit dimodifikasi menjadi hujan.

"Pada ketinggian itu sebetulnya bisa saja kita taburi garam, tapi tidak efektif. Bahkan comulunimbus sudah ada yang tampak pada ketinggian 14 ribu feet. Ini menggembirakan," paparnya.

Djazim mengatakan, agar kerja tim pemodifikasi cuaca tidak sia-sia, masyarakat diharapkan tidak lagi membakar lahan yang bisa menambah hotspot.

Memang, dari data yang ada, comulunimbus paling banyak terdapat di atas langit Sampit. Kemungkinannya di turun hujan dalam satu dua hari ini.

Menurutnya, jika awan comulunimbus banyak terdapat pada ketinggian di atas 10 ribu feet, diperkirakan hujan akan turun dalam waktu beberapa menit, setelah ditaburi serbuk garam.

Saat penerbangan itu, tim menyebar bubuk garam pada enam titik, yaitu utara teluk Sebangau, Sampit, Pangkalan Bun, Palangka Raya, Kapuas dan Pulang Pisau. Lantas, di mana yang paling cepat turun hujan? Hasilnya perlu kita tunggu.

Djazim mengatakan, dalam pemodifikasian cuaca tersebut, keberadaan Hercules sangat diperlukan. Pasalnya, wilayah yang harus ditaburi garam sangat luas, yaitu hampir seluruh Kalimantan. Sebetulnya BPPT mempunyai pesawat jenis CASA, tapi tidak efektif dipakai karena daya jangkaunya terbatas.

Danlanud Syamsudin Noor, Letkol Penerbang Anang Nurhadi pun mengakui keandalan Hercules. Pesawat jenis ini sudah banyak berjasa bagi Indonesia. Selain melayani keperluan TNI AU, pesawat ini juga terbukti berjasa untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

Hercules yang dipakai untuk modifikasi cuaca kemarin berjenis shortbody dengan seri A1323. Indonesia mempunyai 10 Hercules yang ditempatkan di dua skadron, Halim Perdanakusuma Jakarta dan Abdurrahman Saleh Malang. Tim pemodifikasi cuaca ini, bekerja setiap hari sejak t 1 Oktober, kecuali 4 Oktober karena stok garam BPPT habis.

"Keandalan pesawat ini diakui di seluruh dunia. Mempunyai empat mesin yang tangguh. Bila satu mesin mati, pesawat masih bisa berjalan normal," kata Anang. sigit rahmawan/eko sutriyanto

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Anggrek Gunung Dijarah

Selasa, 10 Oktober 2006 01:06:24

Kandangan, BPost
Kekayaan alam hutan di Loksado berupa anggrek gunung dijarah. Seminggu lalu, masyarakat adat Dayak di Loksado berhasil mencegah dua oknum aparat yang kedapatan ingin membawa tanaman mahal tersebut tanpa permisi.

Penelusuran BPost di beberapa balai adat, warga mengaku sering kedatangan orang luar yang minta dicarikan anggrek gunung dengan iming-iming Rp50 ribu.

Rahmad Iriadi, pengamat sosial di HSS khawatir, bila anggrek gunung ini dibiarkan begitu saja dijarah bakal punah. "Pemkab harus mengantisipasi secara dini, karena ini adalah kekayaan hutan di Loksado yang nilai ekonomisnya tinggi," ujarnya.

Aktivis Loksado ini juga mengaku sempat mendengar adanya oknum aparat ditahan warga akibat membawa anggrek gunung tanpa permisi.

Amil, tokoh masyarakat Desa Ulang mengakui, anggrek gunung diminati masyarakat karena nilai jualnya tinggi, terutama anggrek hitam atau anggrek yang batangnya seperti tebu.

"Jangan coba-coba menjarah anggrek gunung, karena ini tanggung jawab kami kepada nenek moyang untuk menjaga kelestarian kekayaan hutan," tandas Amil.

Masyarakat Loksado punya hukum adat tersendiri yang akan dikenakan bila ada yang berani menjarah anggrek gunung tersebut.

"Bila tertangkap basah membawa anggrek gunung dari hutan Loksado tanpa izin kepala adat setempat, akan didenda Rp25 ribu," kata Amil.

"Sebenarnya bila minta izin baik-baik kepada tetuha balai adat tak menjadi masalah," ujar Amil.

Kadishutbun HSS Ir Udi Prasetyo MP mengakui, hutan Loksado kaya akan anggrek gunung. Beberapa jenis di antaranya merupakan tanaman yang dilindungi undang-undang karena langka.

Pihak Dishutbun sebenarnya sudah menyiapkan dana survei anggrek gunung. "Pihak Yayasan Malaris yang direncanakan melakukan survei belum datang kepada kami," kata Udi. ary

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

2.000 Masker Dibagikan

Selasa, 10 Oktober 2006 01:06:08

Banjarbaru, BPost
Udara di wilayah Banjarbaru yang belum sehat akibat kabut asap, membuat sejumlah kalangan merasa perlu terus membagikan masker kepada warga.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, dr Diah Ratih Haris, mengatakan pihaknya masih membagikan masker terutama untuk kelompok rentan, seperti lansia yang ada di panti jompo di Landasan Ulin seperti dan balita.

Pembagian masker juga dilakukan, Senin (9/10), selesai apel pagi oleh Wakil Walikota Banjarbaru, Drs Ruzaidin Noor, beserta anggota PMI Banjarbaru.

Tampak pula dalam pembagian Taslim AD perwakilan dari PMI turun ke jalan membagi masker. Langkah ini disambut positif warga. Hanya dalam hitungan jam, 2.000 masker yang disediakan habis.

Taslim berpesan agar masyarakat Banjarbaru tidak membakar lahan secara sembarangan. Selain itu terhadap pengendara harap berhati-hati sehubungan jarak pandang yang terbatas.

Sebelumnya pemko melalui dinas kesehatan (Dinkes) juga telah membagikan masker sebanyak 8.500 buah di akhir September. niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

MEMBURU AWAN, MEMBUAT HUJAN (1)

Selasa, 10 Oktober 2006 02:31:52
Taburkan Garam Di Langit Sampit

Sejak tanggal 1 Oktober lalu, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan TNI Angkatan Udara (AU) terus melakukan tugasnya memodifikasi cuaca, atau populer dikatakan membuat hujan buatan di atas wilayah Kalimantan. Tujuannya satu, mematikan api (hotspot) akibat pembakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Mereka terus memburu awan yang berpotensi menjadi hujan menggunakan pesawat andalan TNI AU, Hercules tipe C130 dengan kode A1323. Dari data yang dipegang Danlanud Syamsudin Noor, hotspot pada tanggal 7 Oktober lalu mencapai ribuan, 88 di Kalbar, 1.710 di Kalteng, 172 di Kalsel dan 30 di Kaltim.

Senin (9/10) Kemarin, 14 pasukan TNI AU dipimpin pilot, Kapten Penerbang Sugeng, Zailani dan Fata kembali memburu awan cumulus yang berpotensi dijadikan hujan. Sembilan ton serbuk garam mereka bawa. Hercules take off pukul 13.30 dari Syamsudin Noor. Langsung menuju langit Pontianak.

Baru sepuluh menit pesawat meninggalkan daratan, langsung tampak hamparan kabut asap pekat di depan pesawat. Pandangan mata telanjang tidak mampu menembus pekatnya kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan tersebut. Praktis, saat itu pilot hanya menggunakan Global Position System (GPS) guna memandu laju pesawat agar tetap berada di jalurnya.

Sampai di atas langit Pontianak, tidak tampak awan yang dicari-cari. Di atas langit Kota Katulistiwa, awan tampak tipis berada di ketinggian 9000 feet. Merasa tidak menemukan apa yang dicari, Hercules diarahkan ke atas langit Ketapang dan Sampit. Di sini, mereka menemukan awan cumulus yang bergumpal-gumpal.

Menyaksikan awan yang diburunya selama berhari-hari tampak berdiri kokoh di hadapan pesawat, anggota tim langsung bersemangat. Begitu juga dengan dua orang dari BPPT, M Djazim Syaifullah SSi MSi dan Budi, langsung memindai kertas kerja yang sejak awal dipegangnya.

Begitu pesawat buatan Amerika tahun 1982 ini memasuki gumpalan cumulus, pesawat langsung bergoyang. Udara di dalam pesawat yang semula panas karena tanpa AC langsung berubah menjadi dingin. Beberapa pasukan TNI AU yang sudah bersiap di bagian belakang pesawat dengan cekatan langsung menaburkan garam yang sudah dihaluskan hingga berbentuk bedak itu dari pintu belakang, samping kanan-kiri pesawat.

"Hari ini paling bagus di antara hari-hari sebelumnya. Baru hari ini kami menemukan awan yang begitu banyak," kata Kapten Penerbang Sugeng kepada BPost di kokpit Hercules.

Menurutnya, awan itu berada pada ketinggian 11 ribu feet. Hari-hari sebelumnya, awan tampak tipis dan berada pada ketinggian di bawah 9000 feet sehingga sulit dijadikan hujan buatan. Awan yang berpotensi menjadi hujan biasanya terdapat pada ketinggian di atas 11 ribu feet. Selama beberapa hari terakhir awan sulit mencapai ketinggian 11 ribu feet karena terhalang oleh tebalnya kabut asap.

Sugeng mengatakan, hari kemarin sasaran tim pemodifikasi cuaca adalah langit Kalteng dan Kalbar. Pasalnya, dua wilayah tersebut paling parah sergapan kabut asapnya. Dari pantauan di peralatan pesawatnya sejak tanggal 1 Oktober lalu, paling parah terjadi di Palangka Raya.

"Palangka paling parah karena jauh dari laut. Asap Kalsel biasanya bergeser ke Palangka karena diterpa angin laut yang kencang," jelas Sugeng yang berasal dari Skuadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta itu. sigit rahmawan/eko sutriyanto (Bersambung)

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Hujan Buatan Sasar Perbatasan Kalselteng

Senin, 09 Oktober 2006 02:04:16

Banjarbaru - Hujan buatan yang dirasa perlu diguyurkan kembali di Kalsel seperti permintaan Gubernur Kalsel Rudy Arifin, ditanggapi oleh tim pembuat hujan. Kini, tim menyasar perbatasan Kalsel dan Kalteng, selain memenuhi permintaan Pemerintah Provinsi (Pemrov) Kalteng.

Sunu Tikno, Koordinator Tim dari BPPT Jakarta dihubungi di posko pembuatan hujan di Bandara Syamsudin Noor, mengaku sasaran pihaknya memang saat ini sesuai permintaan. Karena banyaknya hot spot di Kalteng, maka arah terbang tim untuk menabur garam pun ke arah Utara. Namun, jika memang ada permintaan Kalsel ujar Sunu, maka bukan tidak mungkin akan mereka penuhi.

"Sekarang kita menyasar ke perbatasan Kalselteng. Kalau memang diperlukan di atas Gambut dan Tahura di Riam Kanan, maka otomatis akan kita penuhi dan sesuaikan," terangnya.

Dijelaskan Sunu, untuk menyasar Kalsel ada prosedur teknis yang harus mereka jalani. Jika ada di posisi hot spot Kalsel, pesawat Hercules milik TNI AU yang membawa tim harus terbang lebih tinggi, mengingat letaknya yang tepat di Timur titik stasioner yang artinya pesawat saat ada di kawasan itu biasanya masih dalam posisi take of. Nah, untuk memicu hujan, pesawat harus terbang lebih tinggi lagi.

Seperti diketahui, sejak Minggu (1/10), selama 10 hari tim Flight Scientis (FS) kembali bekerja keras memicu awan mengguyurkan hujan di atas titik api. Mereka mencari awan potensial yang akan disemai untuk hujan.

Tim ini sudah bergerak terus dengan jalur tepat di atas titik api yakni dari Landasan Ulin ke arah Utara. Tepatnya di Kasarangan, Kuala Sirau dan Palangkaraya.niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Diare Mengancam

Senin, 09 Oktober 2006 02:04:09

Banjarbaru, BPost
Warga Kota Banjarbaru, beberapa pekan terakhir dipusingkan dengan minimnya air bersih.

Kelangkaan air minum memaksa orang mengon sumsi air minum yang tidak memenuhi standar keseha tan, selain terpaksa memba tasi minum.

"Iya ini airnya sudah berbau. Keruh lagi. Sudah jelek sekali," keluh Hani, warga Sungai Ulin.

Akibatnya, ada beberapa jenis penyakit yang menyerang warga. Diantaranya yang terhebat adalah diare. Tidak sedikit warga Kota Idaman yang mengeluhkan sakit diare.

Tak heran jika sejumlah pusat pelayanan kesehatan masyarakat di Kota berjuluk kota sehat ini kerapkali menerima kunjungan warga yang mengeluhkan penyakit diare. Bahkan, di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banjarbaru juga tak sedikit merawat mereka yang datang karena terserang diare.

Aliya misalkan, bayi berusia enam bulan ini terpaksa dilarikan ke paramedis terdekat karena terserang diare. Sudah beberapa hari terakhir, pencernaan bayi ini tak sehat. Beruntung diarenya tak disertai muntah.

Kondisi ini diakui oleh Kabid Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Banjarbaru, dr Diah Ratih Haris.

"Diare memang masih dan siap mengintai warga Kota Banjarbaru sekarang. Apalagi musim kemarau seperti ini kan banyak sumur kering dan air bersih sulit didapat, kalau pun ada airnya kualitasnya rendah," bebernya.

Kendati demikian, jumlah pasien atau warga kota yang terserang diare masih relatif aman. Artinya jumlah dan kasusnya masih relatif dapat tertanggulangi. Belum sampai Kejadian Luar Biasa (KLB), sambung Diah.

Karena itu, warga kota diminta waspada dan lebih selektif memilih air. Menjaga daya tahan tubuh dengan asupan gizi yang cukup dan selalu hidup bersih.

Ditanya bagaimana antisipasi jika sewaktu-waktu Banjarbaru harus bersiaga karena KLB diare, setengah berharap Diah memastikan Dinas Kesehatan telah mempersiapkan semuanya. Termasuk stok obat yang mencukupi di gudang farmasi. niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Rantau Jaya Kesulitan Air

Jumat, 06 Oktober 2006 01:06:00

Kotabaru, BPost
Akibat kemarau, warga Desa Rantau Jaya, Kecamatan Sungai Durian Kotabaru dalam beberapa bulan terakhir kesulitan air bersih. Untuk memenuhi keperluan sehari-hari, terpaksa menggunakan air di bekas kubangan babi.

Sejak memasuki musim kemarau, masyarakat eks warga transmigrasi tahun 1984 tersebut mengalami kesulitan air bersih, terutama untuk mandi dan mencuci.

Kesulitan itu sedikit berkurang karena adanya program air bersih dari dana Gerakan Pembangunan Desa (Gerbangdes) dan langsung didistribusikan ke kelompok rumah warga.

Namun sejak terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan mahalnya harga solar, membuat mesin pendistribusianan air bersih tersebut macet.

Camat Sungai Durian Saukani mengatakan, untuk mengatasi kesulitan air bersih, pihaknya pernah mencoba membuat sumur bor. Tetapi usaha tersebut sia-sia, katanya.

Di hadapan warga Rantau Jaya saat bersafari Ramadhan, Bupati Kotabaru Drs Sjachrani Mataja mengatakan, tahun 2007 akan dialokasikan dana untuk membangun bendungan yang dapat menyimpan air untuk keperluan hingga beberapa bulan.dhs/ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Kanal Penyebab Kekeringan

Kamis, 05 Oktober 2006 01:06:54

Barabai, BPost
Pengerukan sungai untuk membuat kanal di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) beberapa tahun yang lalu, berdampak kekeringan di tiga desa di Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU), yakni Desa Kadundung, Desa Kasarangan, dan Desa Walangka.

Sungai yang membelah tiga desa itu, menurut warga, sebelum pembuatan kanal tak pernah kering, sekarang justru sebaliknya, surut dan hanya menyisakan kedalaman sekitar lima centimeter.

Padahal sekitar 3.000 orang di tiga desa itu bergantung pada sungai tersebut. Terlebih saat kemarau, sumur-sumur kering.

"Kita jadi korban. Kanal itu membawa nilai positif cuma untuk warga perkotaan, kita yang di desa, dekat sungai, kena imbas buruknya," tukas Rahmadi, salah satu warga Desa Kadundung, mengungkapkan kalau pembuatan kanal itu menguntungkan warga di Barabai --ibukota Kabupaten HST-- untuk menanggulangi banjir.

Dia juga mengungkapkan, upaya warga menyampaikan keluhan ke DPRD pun tidak menunjukkan kemajuan, padahal setiap waktu kondisi sungai memprihatinkan.

M Surya, Ketua RT 3 Desa Kadundung mengungkapkan, kondisi tersebut terjadi dalam tiga tahun terakhir. Untuk mendapatkan air, warga berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer mencari kanal yang masih ada airnya.

Wakil Ketua DPRD HST, Faqih Jarjani, menyangkal dewan kurang proaktif. "Keluhan warga telah kita jawab, dan permintaan untuk membersihkan sungai telah disampaikan ke eksekutif," katanya.

Dinas Pekerjaaan Umum HST saat akan dikonfirmasi melalui Bagian Prasarana Pengairannya, Rabu (4/10), hanya menyebutkan dalam minggu-minggu mengerjakan pemeliharaan sungai tersebut.

"Ini rutin kita tiap tahun, kami harap warga sabar. Minggu-minggu ini ada pemeliharaan kembali," kata Kasubdin Prasarana Pengairannya, H Mahmud BE. yud

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Air Sungai Kian Asin

Rabu, 04 Oktober 2006 02:29:43

Banjarmasin, BPost
Warga Banjarmasin mulai mengeluhkan tingginya tingkat keasinan air Sungai Barito dan Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber pemenuhan kebutuhan sebagian warga, terutama yang tinggal di kawasan pinggiran sungai.

"Jangankan untuk minum, untuk mandi dan cuci pakaian saja sudah tidak bisa karena asin. Sampai-sampai sabun saja tidak berbusa," kata seorang warga di pinggir Sungai Awang, Selasa (3/10).

Keasinan air Sungai Awang yang merupakan anak Sungai Barito dan Sungai Martapura tersebut, terjadi dalam seminggu terakhir. Itu ditandai kian berubahnya warna air dari agak keruh menjadi bening kemerahan. Bahkan menurut warga, bila air sudah berubah warna seperti itu maka ikan di sungai itu pun sudah didominasi ikan laut.

Karena kadar garam yang begitu tinggi maka warga kini beralih memanfaatkan air rawa-rawa. Walau agak keruh tetapi di tempat itu tidak asin.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Drs Zainal Arifin, mengakui tingginya kadar garam dalam air Sungai Martapura, sehingga pemanfaatan air sungai untuk PDAM sejak sehari lalu sudah dihentikan.

"Kita sejak sehari lalu sudah tidak memasok lagi air baku di intake Sungai Bilu, karena kadar garam di lokasi tersebut sudah tercatat 5000 miligram per liter, padahal baku mutunya hanya 250 miligram per liter," kata Zainal Arifin.

"Bisa dibayangkan kalau di daerah Sungai Bilu saja kandungan garam mencapai setinggi itu, apalagi bila diukur di kawasan Trisakti atau Banjar Raya Sungai Barito kemungkin mendekati angka 7000 miligram per liter," tambahnya.ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Murung Sungai Batal Dikeruk

Selasa, 03 Oktober 2006 01:08:41

Amuntai, BPost
Warga Sungai Pandan yang bermukim di bantaran Sungai Nagara sekitar Pasar Alabio kecewa. Pasalnya, program pengerukan murung (gundukan tanah di tikungan sungai) yang menghambat arus transportasi sungai dan membuat anak sungai di sekitarnya kering jika kemarau, tak masuk dalam program APBD pada ABT 2005-2006.

Suhaimi, anggota DPRD asal Sungai Pandan mengatakan, sebenarnya program tersebut sudah disetujui bersama dalam rapat kerja untuk dikerjakan pada APBD 2006. Tim Dinas PU dan Dispenda juga sudah turun meninjau langsung kondisi murung yang persis di belakang Pasar Alabio itu.

"Setelah APBD disahkan, ternyata program ini ditinggal. Ketika dikonfirmasi, pihak panitia anggaran beralasan tak cukup dana. Padahal ini benar-benar kebutuhan masyarakat dan mendesak untuk dikeruk," kata Suhaimi.

Menurutnya, pengerukan gundukan tanah di muara sungai itu penting, karena menyulitkan angkutan air seperti perahu pengangkut barang menuju sungai besar. Warga sekitar pun kekeringan, sehingga terpaksa menggunakan air keruh yang menyusut untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

"Jika murung itu dikeruk, setidaknya air dari induk sungai bisa mengalir ke anak sungai," kata Suhaimi yang Kamis (29/9) lalu kembali meninjau lokasi sungai bersama sejumlah anggota dewan asal daerah pemilihan Kecamatan Sungai Pandan.

Disebutkan, panjang sungai yang perlu dikeruk sekitar 5 kilometer dari Desa Rantau Bujur, termasuk mengeruk gundukan tanah itu.

Kepala Dinas PU HSU Edian Nor Idur saat dikonfirmasi mengakui sudah melaksanakan peninjauan lapangan. Sebenarnya proyek itu sudah disetujui bupati, tapi ternyata di ABT tidak ada. Bupati sudah memberi solusi, mungkin diambil dari pos anggaran lain, jadi bisa dikerjakan tahun ini di penghujung musim kemarau," jelas Edian. han

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Eks Kebakaran Rampa Kumuh

Senin, 02 Oktober 2006 00:30:32

Kotabaru, BPost
Kawasan permukiman Desa Rampa Lama dan Kelurahan Kotabaru Hulu, Pulau Laut Utara, yang sebelumnya merupakan ‘lapangan hitam’ seluas 14 hektare akibat kebakaran besar, kini marak bangunan kokoh.

Anehnya, di antaranya bangunan tersebut berdiri papan pengumuman dilarang mendirikan bangunan untuk sementara waktu dari Pemkab Kotabaru.

Keinginan Pemkab Kotabaru menata kawasan itu, tampaknya masih rencana. Pasalnya, hingga kemarin di lokasi eks kebakaran belum terlihat tanda-tanda adanya rekontruksi jalan dan titian. Sehingga, warga bebas membangun rumah mulai dari tempat tinggal darurat bertap daun dinding seng hingga rumah permanen menggunakan sirap dan beton.

Di sepanjang kios buah, bersebelahan dengan Bamega Maal, dan Pasar Kemakmuran, puluhan kios dibangun dan dipakai berjualan. Sementara, di sepanjang Jalan Damanhuri, Kelurahan Kotabaru Hulu, sejumlah pedagang bahan bangunan juga membuka usaha mereka. Gudang kayu juga terlihat berdiri kokoh.

Memasuki kawasan Desa Rampa yang dekat dengan bibir pantai perairan Rampa juga telihat rumah permanen berdiri. Meski dihubungkan dengan titian darurat yang dibuat secara swadaya oleh warga, namun tidak mengurangi niat mereka membangun rumah di sana.

Diakui seorang warga, mereka membangun rumah sebagai tempat tinggal, karena tidak betah berada di penampungan. Meski tahu adanya larangan pemkab, namun lambannya rekontruksi menjadi alasan warga melanggar aturan tersebut.

Sebelum dilanda kebakaran, di kawasan tersebut terdapat sekitar 2.192 rumah dan hanya dihubungkan dengan titian tua.

Wakil Ketua DPRD Kotabaru, Alfidri Supian Noor, kemarin (1/10), mengatakan pemkab harus segera turun ke lapangan untuk merealisasikan program perbaikan infrasruktur.

Pemkab harus menjelaskan semua kendala dihadapi, kata Yayan, agar warga bisa mengerti soal keterlambatan rekontruksi.

"Melarang warga membangun kembali di lahan eks kebakaran tidak mungkin, karena mereka tidak betah di pengungsian. Sebaiknya pemkab memberikan penjelasan kepada korban kebakaran, mengapa rekontruksi yang anggarannya sudah disetujui dewan sekitar Rp14 miliar, itu belum dilaksanakan," terangnya.

Saat ini yang menjadi kendala utama adalah surat dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), yang berisi larangan melakukan penunjukkan langsung soal proyek rekontruksi eks kebakaran. dhs

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Musim Hujan Diprediksi Mundur

Senin, 02 Oktober 2006 00:30:21

Martapura, BPost
Berdasar prediksi BMG, musim kemarau masih akan terus berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November nanti. Akibatnya, kebakaran lahan seperti di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam beberapa waktu lalu masih akan terjadi.

Komandan Operasi Manggala Agni BKSDA, Jamaluddin, Sabtu (30/9) memprediksi kebakaran di Tahura masih mungkin terjadi lagi. "Untuk itu, pihaknya terus melakukan patroli secara rutin di kawasan itu.

"Selain itu, armada dan personil selalu kita siagakan, menghadapi setiap kemungkinan," jelasnya.

Sementara itu, pengamat cuaca dari BMG, Irwan Sanjaya mengatakan, kawasan lahan kering bakal rentan terbakar, akibat musim kemarau lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.

"Tanda-tanda elnino ternyata masih ada, sehingga musim hujan akan mundur. Biasanya, akhir September dan awal Oktober, musim hujan sudah masuk ditandai gerimis, namun kali ini tidak juga muncul," bebernya.

Dikatakan, setelah pihaknya melakukan analisa atas dua variabel, yakni suhu permukaan laut dan ekuator (garus khatulistiwa) yang masih cukup tinggi, maka dipenuhi syarat musim kemarau bakal lebih panjang dari biasanya.

"Tiupan angin pasat dari Barat sangat lemah, padahal angin inilah yang membawa awan hujan. Sebaliknya, tiupan angin kering dari arah Timur begitu mempengaruhi, sehingga cuaca di kawasan khatulistiwa senantiasa panas. Yah, bulan Ramadhan kali ini memang cukup berat, karena sebagian besar harinya dilalui di musim kemarau," tandasnya.

Terakhir, kebakaran Tahura baru bisa dikuasai pada Jumat (29/9) malam, setelah mulai berkobar sejak pagi Jumat itu. Tak kurang tiga regu Manggala Agni yang berkedudukan di Pelaihari serta tambahan dua regu dari BKSDA bersama aparat Dishut Kalseldan Balai Teknologi Reboisasi bahu-membahu memadamkan api.

"Api memang sulit dijinakkan, karena angin berhembus sangat kencang. Untung saja, kebakaran tidak sampai meluas sebagaimana peristiwa minggu sebelumnya. Saya perkirakan ada lahan seluas 100 hektare yang terbakar, namun hampir seluruhnya adalah semak belukar," paparnya.

Jamaluddin tidak bisa memastikan sumber api, namun diperkirakan api berasal dari obyek wisata Kolam Belanda. Praktis, kebakaran baru tersebut melanjutkan sisa kebakaran sebelumnya, ke arah Barat. Meski demikian, ia memastikan pada Jumat malam itu, api sudah padam seluruhnya.

"Guna menjaga kesterilan kawasan dari api, kita tetap menugaskan sejumlah petugas untuk berpatroli secara rutin," ungkapnya.

Sebelumnya, sekitar 400-an hektare lahan di Tahura yang sebagian besar tumbuhan ilalang, terdapat 35 hektare lahan demplot milik Dishut Kalsel terdiri dari tumbuhan mahoni dan karet yang baru ditanam setahun lalu yang terbakar dalam kebakaran di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Mandiangin, Karang Intan, Senin (18/9) kemarin.

Kerugian diperkirakan hampir seratus juta lebih akibat lahan demplot seluas 35 hektare habis. Setiap hektare demplot tersebut ketika ditanam menelan dana Rp3,5 juta. Kebakaran itu diduga berasal dari arah Desa Kiram dan kemudian merambat melewati Gunung Matangbuta. adi

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Kapal Keruk Datang

Senin, 02 Oktober 2006 00:48:20

Banjarmasin, BPost
Kapal Benco yang didatangkan dari Malaysia, diperkirakan tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Senin (2/10) malam ini. Begitu tiba, kapal itu segera mengeruk lumpur di alur Sungai Barito.

"Sekarang ada dua tongkang kandas. Namun besok malam (malam ini) kapal keruk datang dan akan langsung melakukan pengerukan, sehingga persoalan alur bisa segera diatasi," ungkap Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan, Abdul Hafaz di gubernuran, Minggu (1/10).

Senada, Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Capt Sufrisman Djaffar mengungkapkan, Kapal Benco yang berdiameter tiga meter asal Johor Malaysia tersebut diperkirakan merapat Senin (2/10) malam.

Selanjutnya, Adpel akan menandai tempat-tempat yang akan dikeruk sepanjang 100 meter untuk memudahkan petugas dalam melakukan pengerukan.

"Laut ini kan luasnya mencapai 5 ribu meter, sementara yang mau dikeruk hanya 100 meter, sehingga perlu dipasang tanda dulu, dan mulai Rabu (4/10) diperkirakan baru akan dimulai pengerukan," katanya.

Menurutnya, pengerukan dilakukan dengan cara memotong lumpur alur, kemudian dikeruk dan lumpurnya dimasukkan ke dalam kapal, baru dibuang dengan jarak empat kilometer dari alur. Ini berbeda dengan pengerukan sebelumnya, yang langsung dibuang tidak jauh dari alur, sehingga cepat terjadi pendangkalan kembali.

Kapal Benco ini mampu mengeruk sebanyak 10 ribu kubik setiap harinya, sementara lumpur yang harus dikeruk mencapai 678 ribu kubik. Dengan demikian diperkirakan pengerukan ini akan selesai dalam waktu 68 hari.

Sesuai kontrak yang dimenangkan oleh PT Melati tersebut, pengerukan harus dimulai 25 September maka keterlambatan waktu selama 10 hari, masih bisa terkejar.

Sufrisman memastikan aktivitas pengerukan alur ini nanti tidak akan mengganggu keluar masuknya kapal, mengingat diameter kapal keruk yang hanya 3 meter atau masuk dalam katagori kecil.

"Arus lalu lintas laut tidak akan dialihkan, hanya sistem pengerukannya saja yang diatur, bila air surut, pengerukan dilakukan di alur utama, bila air pasang alur yang akan dijalani yang dikeruk," katanya.

Pihak PT Melati terpaksa menyewa kapal keruk dari Malaysia mengingat kapal keruk dalam negeri sudah banyak yang rusak. Diharapkan kapal keruk Benco mampu dimanfaatkan dengan maksimal.

Sementara, kandasnya dua kapal tongkang tersebut, hingga kini belum mengganggu aktivitas keluar masuk kapal. "Kalau hanya satu atau dua yang kandas, alur masih aman. Kecuali sampai empat tongkang yang kandas, kita akan stop tongkang-tongkang lain masuk alur," tandas Sufrisman.ant

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Friday, October 13, 2006

Anggaran Air Bersih

Sabtu, 30 September 2006 01:01:44

PELAIHARI - LSM Bina Lingkungan Hidup Indonesia (BLHI) Tanah Laut menilai krisis air bersih saat ini telah menjadi ancaman serius. Pemkab Tala serta Pemprop harus segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah itu.

Caranya? "Sediakan anggaran yang memadai pada ABT 2006 dan APBD 2007," cetus Ketua BLHI wilayah Tala, Marliana SAg, dalam pers rilisnya, kemarin.

Dana tersebut dibutuhkan untuk memperbaiki dan membangun sarana air bersih. Terutama untuk memperbanyak sumur artetis di wilayah kecamatan yang selama ini selalu mengalami kekurangan air, seperti, di Kintap, Jorong, dan Batu Ampar.

Marliana juga menyarankan agar manajemen PDAM Pelaihari mencari tambahan bahan baku air bersih. Misalnya, memanfaatkan waduk di Sungai Jelai (eks PTPN XIII).

Hal penting yang harus diperhatikan semua pihak dalam upaya mempertahankan kandungan air tanah yaitu menjaga kelestarian hutan. Keberadaan hutan sangat penting, karena berfungsi menjaga serapan air.

Diperlukan sosialisasi yang lebih intensif oleh instansi lintas sektoral. Sasarannya untuk meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian hutan sekaligus meninggalkan kebiasaan menebangi hutan. roy

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Amoniak Cemari Sungai

Sabtu, 30 September 2006 01:02:27

* Warga Panjaratan krisis air
* Harus diolah sebelum dikonsumsi

Pelaihari, BPost
Masyarakat Desa Panjaratan mesti berhati-hati jika ingin mengonsumsi air sungai setempat, karena dari hasil penelitian Balai Teknologi Kesehatan Lingkungan (BTKL) Banjarbaru ditemukan zat NH3 (amoniak) yang melebihi ambang batas.

Pemeriksaan dilakukan BTKL Banjarbaru berdasarkan sampel yang dikirim oleh Bagian Lingkungan Hidup Pemkab Tanah Laut. Hasilnya, mengandung NH3 sebesar 1,5 mg per liter. Padahal ambang batasnya air golongan B (harus diolah jika dikonsumsi) 0,05 mg per liter.

"Tapi, amoniak itu bukan gas berbahaya. Amoniak dihasilkan dari pembusukan bahan organik, termasuk limbah kotoran manusia. Meski tak berbahaya, tapi air yang tercemar amoniak baunya cukup menyengat. Apalagi, di bantaran Sungai Panjaratan banyak jamban," jelas Kasubag Pemantauan dan Pemulihan Bagian LH Pemkab Tala, Amperansyah, Kamis (28/9).

Meski aman dikonsumsi, Amperansyah mengingatkan warga untuk mengolah air lebih dulu, misalnya penaburan tawas atau pengendapan dengan penyaringan pasir.

Dalam memenuhi kebutuhan air, warga Panjaratan bergantung pada sungai. Beberapa warga memiliki sumur, namun tidak bisa diandalkan karena tingginya kadar besi (Fe).

Sejak musim kemarau beberapa bulan lalu, mereka mulai kesulitan air menyusul menyusutnya debit dan kualitas air sungai.

Beberapa waktu lalu, warga Panjaratan mengeluhkan terlarutnya minyak ke sungai. Diduga minyak tersebut berasal dari aktivitas tambang batu bara yang berada di bagian hulu.

Namun hasil uji lab, tidak ditemukan zat berahaya atau melebihi batas ambang, kecuali NH3. Selebihnya masih berada di bawah batas ambang. Kadar Fe 3,5507 mg/l dari batas ambang 5 mg, air raksa (Hg) kurang dari 0,0001 mg, NO2 (nitrit) 0,0012 mg, arsen (As) tidak terdeteksi.

Zat berbahaya yang patut diwaspadai, beber Amperansyah, yaitu Hg dan NO2. Keduanya merupakan logam berat sehingga berbahaya terhadap kesehatan jika kadarnya melampaui batas ambang.

Lebih lanjut Amperansyah mengatakan pihaknya juga akan memeriksa sampel air Sungai Tabonio menyusul semakin pekatnya tingkat kekeruhan. Sampel diambil di intake (pompa hisab) IPA PDAM di Desa Bajuin Kecamatan Pelaihari.

Sampel air --dua jerigen volume lima liter-- dikirimkan ke Laboratorium BTKL Banjarbaru. Pemeriksaan kualitas dilakukan menyusul adanya keluhan PDAM yang kini kesulitan mengolah air baku.

"Katanya, sekarang kebutuhan tawas per hari mencapai 350 kilogram dari kondisi normal 50 kilogram. Kapasitas produksi juga turun drastis menjadi 20 liter per detik," ucap Amperansyah. roy

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Drainase Penuh Sampah

Kamis, 28 September 2006 00:52:04

Martapura, BPost
Sebagai penghuni kota berjuluk Serambi Makkah, sudah seharusnya warga Kota Martapura mampu menjaga kebersihan yang merupakan sebagian daripada iman. Sayangnya, di beberapa sudut kota justru terlihat kondisi sebaliknya, kotor.

Dari pantauan BPost, di Jalan A Yani km 40 tepatnya seberang Pasar Martapura, drainase dipenuhi sampah seperti botol, kantong plastik dan sampah rumah tangga lainnya. Meski musim kemarau, baunya cukup mengganggu bagi yang lewat di kawasan itu.

Jika tidak segera dibersihkan, maka pada musim hujan, justru sampah-sampah tersebut berpotensi menyumbat saluran box culvert yang terdapat di sejumlah titik.

Ironisnya, pemandangan drainase kotor itu justru sangat dekat dengan Mahligai Sultan Adam dan kediaman resmi Bupati Banjar. Pasalnya, kekotoran selokan bisa dilihat di muara Jalan Keraton, Jalan Sasaran dan muara Jalan Kurnia.

Pengamat pemerintahan Supiansyah, Rabu (27/9), mengatakan semestinya Pemkab Banjar melalui Distakober lebih aktif mengadakan pembersihan drainase.

"Memang, kita akui, kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya masih rendah, namun hal ini bukan membuat pemerintah berpangku tangan," tuturnya.

Supiansyah mengaku, ketika hujan beberapa hari lalu, akibat tumpukan sampah memang mengakibatkan box culvert di sejumlah titik menjadi tersumbat.

Kepala Dinas Tata Kota dan Kebersihan (Distakober) Banjar, Sofwan Soeryadi, mengatakan pihaknya memiliki program optimalilasi drainase. "Pelaksanaannya bergilir. Beberapa waktu lalu kita mengoptimalisasikan drainase di Pesayangan, sebagian Jalan A Yani, Jalan Batuah dengan cara mengeruk atau memperbaiki dindingnya."

Mengenai drainase di seberang Pasar Martapura, menurut Sofwan, segera dikerjakan. "Drainase di situ jadi target kita. Memang kesadaran masyarakat bayar retribusi sampah, tinggi. Cuma kita harap diiringi perbuatan, dalam arti sadar membuang sampah pada tempatnya," kata dia.

Sebagai warga beragama, lanjutnya, semestinya Kota Martapura yang berpenduduk agamis lebih memahami makna kebersihan sebagian dari pada iman. adi

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Jaga Kebersihan

Senin, 25 September 2006 00:14:01

Banjarmasin, BPost
Predikat terkotor yang disandang Kecamatan Banjarmasin Barat, ternyata tak membuat kaget warga kecamatan tersebut. Selain karena pemerintah kecamatan kurang melakukan usaha peningkatan kebersihan, Pemko dianggap memiliki andil besar membuat wilayah itu kotor.

Khairudin, warga RT 8 Kelurahan Pelambuan Kecamatan Banjarmasin Barat mengatakan, selama ini wilayah yang dia huni cenderung dianaktirikan Pemko.

"Jalan kami berlobang, karena setiap hari puluhan truk kontainer dan truk batu bara melewatinya. Sudah begitu jarang diadakan perbaikan. Akibatnya, kemacetan jalan dan debu dari kendaraan sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat di sini," ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, semua aktivitas industri dan pelabuhan ada di Kecamatan Banjarmasin Barat. Tetapi yang justru mengambil keputusan dalam menetapkan lokasi berkenaan dengan kedua hal tersebut adalah pihak Pemko. Jadi dalam penilaian lomba kebersihan sangat tidak menguntungkan bagi Kecamatan Banjarmasin Barat.

Warga lain, Pandi mengungkapkan, masyarakat Kecamatan Banjarmasin Barat sebetulnya sangat menyadari dan memahami makna kebersihan itu sendiri.

Namun kesadaran mereka akan kebersihan pada akhirnya harus berbenturan dengan kondisi lingkungan sekitar mereka."Sebagai contoh kecil, setiap hari kami membersihkan rumah kami dengan cara menyapunya. Tetapi hal tersebut menjadi percuma ketika puluhan truk batu bara lewat dan debunya beterbangan sampai masuk ke dalam rumah,"kesalnya.

Ke depan mereka mengharapkan agar pemerintah kecamatan bisa menyediakan anggaran lebih, khususnya untuk penyediaan sarana dan prasarana kebersihan serta melakukan penataan ulang terhadap sarana kebersihan yang ada.

Selain itu, penekanan untuk terus melaksanakan dan menjaga kebersihan lingkungan, jangan hanya ditujukan kepada masyarakat semata tetapi juga kepada pihak-pihak swasta yang memiliki kepentingan di wilayah Kecamatan Banjarmasin Barat.ck6

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Banjarmasin Barat Terkotor

Minggu, 24 September 2006 03:02

Banjarmasin, BPost
Camat Banjarmasin Barat, Sastra Hairansyah, hanya bisa tersenyum kecut, ketika mendengar wilayah yang dia pimpin harus memasang bendera hitam.

Maklum, kecamatan yang berada di tepian Sungai Barito itu dinyatakan sebagai kecamatan terkotor dalam lomba kebersihan antarkecamatan yang didukung Banjarmasin Post Group.

Pengumuman hasil penilaian dibacakan Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni dalam peringatan puncak Hari Jadi ke-480 Kota Banjarmasin di Balaikota, Sabtu (23/9) pagi.

"Terus terang saja, masih ada sedikit ganjalan dalam hati saya berkenaan dengan keputusan tim juri. Tapi hasil ini tetap akan saya terima dengan lapang dada," ungkapnya.

Ke depan, Sastra berjanji sesegera mungkin melakukan upaya agar bendera hitam yang harus dipasang di kantornya bisa secepatnya diturunkan.

Caranya adalah dengan kembali mengkonsolidasikan segala potensi yang ada di wilayah Kecamatan Banjarmasin Barat mulai dari tingkat RT hingga kelurahan untuk bersama-sama kembali melakukan perubahan menuju ke arah yang lebih bersih

Dikatakanya, selama ini usaha yang ditempuh sudah maksimal. "Bendera hitam yang saya terima langsung dari Walikota bukan berarti melambangkan bahwa selama ini kami tidak melakukan usaha sama sekali untuk meningkatkan kualitas kebersihan di Kecamatan Banjarmasin Barat," katanya.

Ketua tim juri lomba kebersihan, Hamdi, mengungkapkan, yang membuat kecamatan Banjarmasin Barat berada di posisi paling bawah adalah semata-mata kesalahan strategi yang diambil pihak kecamatan.

"Banjarmasin Barat menetapkan wilayah kawasan terencana yang ada di wilayahnya adalah Kompleks Wildan. Menurut penilaian dan pengamatan juri, komplek ini sudah tidak layak dikatakan sebagai kawasan terencana, melainkan sudah termasuk dalam kawasan alami," jelasnya.

Sehingga, total nilai antara Kecamatan Banjarmasin Barat dan Kecamatan Banjarmasin Selatan yang ditetapkan sebagai terbaik ke empat, hanya berbeda tipis. Untuk Banjarmasin Barat memperoleh total nilai 64,19, sedangkan Banjarmasin Selatan memperoleh total nilai 64,57.

Terpilih sebagai kecamatan terbersih adalah Kacamatan Banjarmasin Timur dengan total nilai 73,11. Selain menjadi yang terbersih, beberapa fasilitas umum yang ada di wilayah ini juga memperoleh kategori Best Location untuk kategori Puskesmas, SMP, SMA, dan Kantor Kecamatan.ck6

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Dukung Pabrik Chitosan

Minggu, 24 September 2006 03:01

Pelaihari, BPost
Rencana pendirian pabrik chitosan oleh Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Kalsel direspon positif oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Tanah Laut.

"Kami siap memfasilitasi. Tapi, sampai sekarang kami belum pernah bertemu dengan PPNSI. Proposalnya belum masuk pada kami," kata Kadis Perikanan dan Kelautan Tala Ir H Soetrisno, Jumat (22/9).

Seperti telah diwartakan, Ketua PPNSI Kalsel Danang berencana membangun pabrik chitosan. Kebutuhan bahan baku berupa limbah (cangkang) kepala udang diharapkan bisa dipasok dari Tala.

Chitosan adalah nama produk jadi pengolahan limbah tersebut menjadi bahan pengawet alami yang ramah lingkungan. Pemanfaatan chitosan terus meningkat di Jawa sebagai alternatif pengganti formalin.

Kendati mendukung secara penuh, Soetrisno menyarankan PPNSI lebih dulu melakukan kajian teknis yang lebih komprehensif. "Pabrik itu kan butuh kontinuitas bahan baku, limbah yang ada di Tala apakah cukup untuk pemenuhan bahan baku?"

Pasalnya, limbah udang di Tala yang ada saat ini, terutama yang ada pada nelayan masih dalam skala terbatas. Sementara limbah udang cool storage (perusahaan pembekuan) umumnya telah terserap oleh pihak ketiga untuk pakan ikan.

Limbah di kalangan nelayan pun sebagian besar juga terdistribusi ke Jawa. Ada pengusaha pengumpul limbah cangkang udang di Sungai Bakau Kecamatan Kurau yang mengumpulkan limbah udang di kawasan tersebut hingga ke nelayan di tempat lain, seperti di Batakan.

Meski begitu, Soetrisno memastikan PPNSI tetap bisa memperoleh bahan baku. "Dalam dunia dagang itu kan harga yang menentukan. Jika PPNSI bisa memberikan penawaran harga yang lebih baik, tentu nelayan atau cool storage akan membuka diri."

Didampingi Kabid Perlindungan Sumber Daya Hayati Ir Rahmi Yuliani dan dua pejabat lainnya, Soetrisno mengatakan, keberadaan chitosan saat ini cukup bermanfaat bagi masyarakat. roy

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Kisah Dari Sepuntung Rokok

Sabtu, 23 September 2006 03:26

Nasrullah
Mahasiswa S2 Antropologi UGM

Permasalahan utama dari upaya mewujudkan kebersihan adalah budaya dari dalam diri kita. Ungkapan ngalih mambuang ratik di palataran mencerminkan kenyataan demikian.

Diskusi kecil saya dengan Viona, mahasiswi antropologi dari Institut für Völkerkunde Albert Ludwigs-Universität Freiburg Germany di kampus Fakultas Ilmu Budaya, UGM, sejenak terhenti. Saya melihat Viona melirik ke kiri dan ke kanan. Belum sempat saya menanyakan maksudnya, tangan kirinya telah merogoh sesuatu dari dalam tas. Ia mengeluarkan bungkusan rokok, sementara tangan kanannya memasukkan abu rokok ke dalam bungkusan hingga puntung rokok turut dimasukkan juga.

Praktis, bahasa nonverbal Jerman ini lebih menarik bagi saya dibanding diskusi. Pada kesempatan lain, saya sering melihat orang bule berbuat demikian. Ada yang membawa kotak atau bungkusan kecil dari kertas. Sambil merokok, ia jadikan kotak itu sebagai asbak. Di kantin kampus, sambil minum-minum kami melihat sekumpulan mahasiswa Jepang berbicara. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka masuk ke kantin dan meletakkan rokok ke dalam asbak.

Saya mencoba bertanya kepada seorang teman, bagaimana sikap kita kalau merokok. Jawabnya, jangankan di luar, di dalam kantin yang ada asbak di depan mata saja belum tentu kita membuang puntung rokok ke situ. Malah kita melempar puntung keluar, atau membuang ke bawah meja sambil menginjak puntung rokok sampai berhamburan sisa tembakau.

Sikap orang asing demikian, merupakan pilihan tepat bagi kita untuk ditiru. Padahal, di tempat itu tidak ada larangan membuang sampah sembarangan apalagi sanksi berupa denda bagi yang melakukannya. Saya yakin, baik Viona ataupun orang asing tersebut tidak mengetahui ada hadits Nabi yang menyebutkan kebersihan bagian dari iman.

Dari peristiwa tersebut, mengingatkan saya pada status Kota Banjarmasin yang religius sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia. Kiranya, Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-480, bisa menjadi momen penting untuk membahas upaya mewujudkan kebersihan kota demi mendapatkan Adipura 2007.

Belajar Kepada Polda

Permasalahan utama dari upaya mewujudkan kebersihan adalah budaya dari dalam diri kita. Ungkapan ngalih mambuang ratik di palataran mencerminkan kenyataan demikian. Sampai sekarang --entah karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan-- belum ada model atau konsep tertentu yang dilaksanakan Pemkot Banjarmasin dalam mewujudkan kebersihan kota. Beberapa kali saya mengakses website Pemkot Banjarmasin (www.banjarmasin.go.id), tidak ada pemberitaan atau informasi berkenaan dengan upaya kebersihan kota. Berkaitan kisah di atas, saya sama sekali tidak berharap timbul inspirasi bagi pejabat Pemkot Banjarmasin untuk mengadakan studi banding ke negara Eropa mengenai persoalan kebersihan.

Bagaimana pun, upaya mewujudkan kebersihan kota memerlukan model atau cara yang sistematis. Memang diperlukan kajian atau perbandingan dengan daerah tertentu, terutama mempertimbangkan kemiripan budaya masyarakat setempat. Saya mengambil perbandingan keberhasilan upaya Polda Kalsel dalam menerapkan upaya ketertiban lalu lintas. Kita bisa menyaksikan pengguna jalan raya seperti roda dua telah menggunakan helm standar.

Sepintas memang tidak ada hubungannya dengan kebersihan. Namun pengguna jalan raya maupun masyarakat Kota Banjarmasin mempunyai latar belakang kesamaan budaya. Sebenarnya tidak mudah mengupayakan ketertiban lalu lintas seperti di Kota Banjarmasin, karena kita terlanjur hidup dalam budaya transportasi sungai. Sungai tidak ada traffic light, kapal atau kelotok tidak memakai rem, juga tidak memerlukan jalur tertentu. Kita bisa sesuka hati membelokkan kapal. Begitulah budaya sungai dan ini wajar adanya. Namun, manakala dibawa ke darat terutama jalan raya, tentu akan menjadi permasalahan serius.

Beberapa hal bisa diadopsi dari upaya mewujudkan ketertiban lalu lintas oleh Polda Kalsel. Mereka melaksanakan Bulan Tertib Lalu Lintas, melalui beberapa tahapan setiap minggu. Misalnya penerapan helm standar, mereka melakukan pertemuan dengan dealer atau penjual helm kerupuk kemudian membuat nota kesepahaman (MoU) dengan media massa untuk memfasilitasi kegiatan Bulan Tertib Lalu Lintas tersebut. Termasuk mengadakan dialog di beberapa radio swasta. Bulan Tertib Lalu Lintas, bukan berarti hanya berlaku satu bulan. Artinya, setelah itu adalah penegakkan ketentuan sesuai peraturan.

Sosialisasi helm standar dimulai di jajaran Polda sendiri, kemudian ke sekolah dan kampus. Hingga kegiatan di jalan raya, membuat efek jera menggunakan Operasi Simpatik yakni memberikan teguran simpatik kepada pengguna jalan. Sebaliknya tidak manusiawi, ketika menerapkan perda kebersihan langsung menindak pelanggar di tempat kejadian tanpa melakukan tindakan simpatik. Jika mau serius mewujudkan kebersihan kota, sebaiknya memang dimulai dari institusi pemerintah sendiri atau pun dari kalangan pejabat. Karena, dari situlah memberikan contoh baik dengan harapan diikuti oleh masyarakat. Bukannya mengeksekusi masyarakat lapisan bawah karena melanggar perda kebersihan, justru hal ini akan menimbulkan sikap antipati. Kampanye kebersihan juga penting, sebagai bentuk sosialisasi praktis.

‘Pastikan Bunyi Klik’ yang dilakukan Polda Kalsel, sifatnya sangat persuasif untuk mengajak masyarakat, populer dan enak didengar. Kemudian entah darimana munculnya istilah helm standar dan helm kerupuk, namun dapat memberikan kesan oposisi sehingga memakai helm bukan standar (helm kerupuk) merupakan sebutan tidak mengenakkan didengar. Kampanye serupa, jika diterapkan tentu sangat mendukung upaya mewujudkan kebersihan kota. Saya yakin, pasangan Yudhi Wahyuni dan Alwi Sahlan bisa melakukannya, karena sudah berpengalaman dalam membuat jargon pada pemilihan kepala daerah langsung hingga mereka terpilih.

Tanpa Berharap

Gara-gara mendapat predikat kota terkotor, lantas pemerintah kota berupa meraih Adipura 2007. Di sini ada hal yang mengganjal dalam pikiran saya, target Adipura jangan dijadikan sebagai tujuan akhir. Di tengah gencarnya upaya masyarakat mewujudkan Syariat Islam, mengapa tidak kita mulai dari upaya kebersihan.

Bukankah sejauh mata memandang dari ketinggian kota Banjarmasin, kita akan melihat di setiap sudut kota terdapat masjid atau mushalla. Tempat ibadah tersebut sangat strategis, kalau kita manfaatkannya untuk mengajak masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Apalagi seruan semacam ini berdasarkan dari hadits Nabi SAW.

Bukankah pula, pasangan pimpinan Pemkot Banjarmasin memiliki latar belakang pengetahuan agama. Tentu akan sejalan kalau kampanye tersebut dimulai dari tempat ibadah. Sangat aneh tentunya, kalau orang asing yang tidak tahu sama sekali pada ajaran Islam telah mengajak pemeluknya untuk memperhatikan kebersihan, justru terlebih dahulu mereka mempraktikkannya. Sementara Banjarmasin yang penduduk religius, justru memiliki predikat kota terkotor.

Selagi belum terlambat, kita tidak ingin menyaksikan Banjarmasin menjadi lautan sampah seperti di Kota Bandung. Kita menjaga kebersihan dengan kesadaran pribadi. Mulailah dari sepuntung rokok.

Bagaimana Pak Wali dan Pak Wakil? Dirgahayu Kota Banjarmasin.

e-mail: eje_jela@yahoo.com

Copyright © 2003 Banjarmasin Post