Label Cloud

Friday, November 24, 2006

Seribu Pohon Dekat Sungai Dibabat

Sabtu, 04 Nopember 2006 01:28:54
Pelaihari - Sesuai jadwal, dua eksekutif PT Kintap Jaya Wattindo (KJW) yakni DS dan TP, mulai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Pelaihari, Kamis (2/11). Keduanya didakwa sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas penebangan pohon dekat sungai di Desa Tebing Siring 3 Kecamatan Pelaihari.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Aini Arsyad SH didampingi M Aswadi Noor SH menyebutkan luasan hutan yang dibabat telah mencapai sekira 5 hektare. Jumlah pohon yang telah ditebang sekitar 1.000 batang dengan diameter 5-30 centimeter.

Penebangan pohon itu merupakan kegiatan KJW dalam memperluas perkebunannya. Pembukaan areal menggunakan alat berat berupa satu unit dozer yang dioperatori Suyatno. Aktivitas itu berdekatan dengan anak sungai yakni dalam rentang jarak hingga 50 meter.

Pepohonan yang telah dirobohkan lantas dirapikan dengan cara membenamkan ke dalam tanah. Selanjutnya ditutup dengan tanah atau dikumpulkan dan kemudian dibakar.

Perbuatan tersebut melanggar pasal 78 (2) jo pasal 50 (3) huruf c UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan jo pasal 55 (1) ke-1e KUHP. Dalam hal ini, DS dan TP diidentifikasi sebagai pihak yang melakukan, menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan dengan sengaja melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan 50 meter dari kiri kanan tepi anak sungai.

Pada persidangan perdana, Kamis (2/11) itu, DS dan TP didampingi kuasa hukumnya yakni Giyanto SH. Keduanya kembali akan menjalani persidangan lanjutan Rabu (8/11) mendatang dengan materi eksepsi (tanggapan atas dakwaan). roy
Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Air Sungai Pandahan Menghitam

Sabtu, 04 Nopember 2006 03:53:16
Diduga tercemar limbah industri
Pelaihari, BPost
Sejak kemarau beberapa bulan lalu hingga kini warga Desa Pandahan Kecamatan Bati Bati kesulitan memperoleh air bersih. Sementara air sungai setempat tak layak lagi dimanfaatkan karena rasanya menjadi kalat dan berwarna kuning kehitaman.

Keberadaan sungai itu sendiri selama ini cukup vital bagi warga setempat. Setidaknya digunakan untuk mandi dan cuci. Bahkan tak sedikit yang memanfaatkan untuk air minum.

Melalui pemerintah desa, warga Pandahan meminta bantuan material kepada Pemkab Tala untuk menutup aliran air dari Guntung Manggis, Banjarbaru, yang bermuara di Sungai Pandahan. Permohonan tertulis telah disampaikan beberapa waktu lalu ditandatangi Kades dan Ketua BPD Zainal Ilmi.

Warga Pandahan meyaikini penutupan aliran air dari Guntung Manggis tersebut mampu mengatasi pencemaran yang terjadi. Pasalnya, sumber pencemaran Sungai Pandahan dipastikan berasal dari Guntung Manggis.

Sekedar diketahui, Guntung Manggis merupakan kawasan industri di Kota Banjarbaru. Sejumlah pihak menduga limbah industri beberapa perusahaan mengalir ke aliran sungai yang diantaranya mengalir ke Sungai Pandahan.

Zainal menuturkan pencemaran sungai di desanya selalu terjadi setuap tahun pada musim kemarau dan menjelang musim penghujan. Saat kemarau, air berubah menjadi asin akibat intrusi payau air laut. Rasanya menjadi kalat dan warnanya berubah kuning kehitaman ketika hujan mulai turun.

Pada musim penghujan, aliran air dari Guntung Manggis akan bergerak dan turun ke Sungai Pandahan. Air dari Guntung Manggis diperkirakan membawa gas atau zat-zat berbahaya dari limbah industri yang terus mengendap dan berakumulasi selama musim kemarau.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, penurunan kualitas air Sungai Pandahan tersebut akan menyebabkan kematian populasi ikan. Biasanya ini terdeteksi bulan Desember yang ditandai mengapungnya jasad ikan. Bahkan saat ini populasi ikan di Sungai Pandahan dilaporkan mulai langka.

Dalam proposalnya, Desa Pandahan meminta bantuan ke Pemkab Tala senilai Rp9,2 juta. Ini untuk kebutuhan pengadaan material (kayu galam, karung, dan lainnya). Material ini digunakan untuk menutup aliran air dari Guntung Manggis di muara Sungai Pandahan. Lebar aliran 5 meter. roy
Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Thursday, November 23, 2006

Metode Al-Banjari Dalam Memelihara Lingkungan

Senin, 30 Oktober 2006 01:03
Hal terpenting yang patut diamati dari usaha Al-Banjari dalam membuka perkampungan Dalam Pagar, Al-Banjari berhasil meletakkan tiga dasar penting dalam membangun masyarakat yakni pendidikan, keekonomian dan kemandirian.

Oleh: Zulfa Jamalie
Pelajar Universiti Utara Malaysia

Diskursus tentang lingkungan hidup menarik untuk dibicarakan dan dicermati. Terlebih di tengah berbagai persoalan kerusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi dewasa ini. Karena itu berbagai upaya untuk menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menjadi sangat penting digagas. Salah satu di antaranya dengan pendekatan dakwah. Melalui model ini diharapkan dakwah hadir dalam format yang multidimensi.

Artinya, dakwah tidak hanya melulu membicarakan ajaran agama an sich, tetapi juga implikasi penting dari sejumlah ibadah dan perintah agama terutama yang khusus berkaitan dengan masalah lingkungan. Dengan model dakwah lingkungan diharapkan pula secara terarah mampu memotivasi masyarakat untuk mencintai dan mengelola lingkungannya dengan baik. Salah satu sumber yang bisa dielaborasi adalah gerakan dakwah lingkungan yang dilakukan ulama besar banua, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Tulisan ini adalah sepenggal informasi yang disarikan dari hasil penelitian saya berkenaan Dakwah Lingkungan Al-Banjari. Diharapkan bisa menjadi media silaturahmi kepada pembaca BPost, terutama dalam rangka memperingati dua abad haul Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, 5 Syawal 1427 H - 28 Oktober 2006.

Setelah diberikan tanah lungguh oleh Sultan Banjar, dibantu anak cucu dan menantu Al-Banjari menggarap dan membuka daerah itu yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Dalam Pagar. Menurut saya, di sinilah aktivitas dakwah Islam berwawasan lingkungan mulai digiatkan oleh Al-Banjari. Paling tidak, kaitannya dengan pembukaan Kampung Dalam Pagar. Ada tiga tahapan penting yang dilakukan Al-Banjari: pembukaan lahan (kampung baru), pembangunan dan penataan bangunan; pemberdayaan lingkungan. Hal terpenting yang patut diamati dari usaha Al-Banjari dalam membuka perkampungan Dalam Pagar, Al-Banjari berhasil meletakkan tiga dasar penting dalam membangun masyarakat yakni pendidikan, keekonomian dan kemandirian.

Di Dalam Pagar pula kemudian Al-Banjari bersama anak menantu membangun surau dan tempat tinggal yang sekaligus difungsikan sebagai mandarasah (madrasah). Hal ini menjadi cikal bakal lahirnya sistem pendidikan secara kelembagaan di Kalsel, sebagaimana sistem pondok pesantren. Boleh jadi, inilah pesantren di Bumi Kalimantan.

Al-Banjari secara taktis juga memberi contoh kepada masyarakat bagaimana membangun rumah yang baik, berwawasan lingkungan dan berdasarkan hitungan yang matang dari segi lokasi maupun posisi sehingga terhindar dari hal yang tidak diinginkan seperti banjir, erosi, abrasi sungai atau gangguan binatang. Al-Banjari secara terarah menata permukimam dan Dalam Pagar menjadi kampong yang ramah lingkungan.

Al-Banjari juga seorang petani yang andal. Ini terlihat dari keberhasilan usahanya membuka persawahan dan perkebunan di Kalampayan, dekat Lok Gabang. Semula daerah ini merupakan lahan ‘rawa tidur’ yang sangat luas dan belum/tidak bisa dimanfaatkan karena selalu tergenang air. Untuk kepentingan masyarakat banyak serta dalam rangka meningkatkan taraf hidup mereka melalui usaha pertanian, Al-Banjari membuat saluran air sepanjang delapan kilometer.

Berdasarkan fakta itu, pada prinsipnya Al-Banjari berhasil membuka lahan (hutan) untuk tempat tinggal dan perkampungan baru (Kampung Dalam Pagar) dengan baik. Kemudian meletakkan kondisi dasar masyarakat yang sadar lingkungan dan perkampungan yang ramah lingkungan, yang bertumpu pada kehidupan keagamaan, pendidikan dan ekonomi. Bahkan Al-Banjari berhasil mengubah tanah mati dan lahan tidur menjadi produktif, memberikan manfaat dan keuntungan kepada masyarakat.

Bagaimana dengan kiprah kita? Mudah-mudahan kita dapat mengikuti jejak langkah dan perjuangan Al-Banjari dalam membangun dan memberdayakan masyarakat.

e-mail: zuljamalie@yahoo.co.id

Banjir Ancam Jorong * Pemecahan Sungai Asam Asam ditunda * Warga harus waspada

Sabtu, 28 Oktober 2006 01:44:10
Pelaihari, BPost
Warga Desa Asam Asam Kecamatan Jorong dan sekitarnya harus tetap waspada pada musim penghujan tahun depan. Musibah banjir kemungkinan besar masih mengancam menyusul penundaan rencana pemecahan sungai setempat.

Penundaan program fisik tersebut ditegaskan Kadis Kimprasda Tala H Anang Aderiani Basuni, Jumat (20/10).

"Program itu tidak memungkinkan terakomodasi dalam perubahan anggaran 2006. Jadi, akan kita anggarkan dalam APBD 2007 mendatang."

Seperti diwartakan beberapa waktu lalu, banjir cukup besar melanda dan menenggelamkan ribuan rumah warga Desa Asam Asam. Tidak hanya itu, beberapa titik jalan arteri nasional di desa setempat juga putus selama beberapa hari.

Mencegah terulangnya musibah serupa, disolusikan memecah sungai setempat. Dengan begitu luapan air dari gunung pada musim penghujan cepat turun ke laut sehingga tidak sempat menggenang dan meluapi permukiman penduduk.

Kala itu, Dinas Kimprasda berjanji secepatnya akan melaksanakan rencana tersebut. Ditargetkan terlaksana pada 2006 melalui anggaran biaya tambahan (ABT).

Ternyata, pembahasan ABT berlarut-larut dan baru disahkan pekan tadi. "Waktu yang tersedia tidak memungkinkan lagi, hanya dua bulanan. Padahal, proses lelang saja menelan waktu 40 hari," sebut Anang.

Pemecahan sungai Asam Asam, beber Anang, bukan pekerjaan sederhana yang bisa dilaksanakan dalam waktu singkat. Lebih dari itu merupakan pekerjaan cukup besar dan menelan biaya yang tidak sedikit di atas Rp100 juta. Karenanya harus melalui proses pelelangan.

Pejabat eselon II di Bumi Tuntung Pandang ini memastikan pemecahan sungai Asam-Asam tersebut akan menjadi prioritas dalam proyek fisik tahun depan. Karenanya Anang mengimbau warga Asam Asam tidak perlu khawatir.

Pihaknya sendiri bahkan telah membuat perencanaannya. Beberapa pekan pasca banjir beberapa waktu lalu, beberapa staf teknis Kimprasda langsung diterjunkan ke lokasi guna menentukan model dan pola pemecahan sungai yang paling tepat.

Model yang dibuat ketika itu yakni memecah Sungai Asam-Asam yang ada dekat lokasi persawahan. Areal persawahan ini sekaligus difungsikan sebagai penampung luapan air. Sebagian luapan air lainnya akan mengalir ke laut. roy

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Sunday, November 19, 2006

PARIWISATA

Sabtu, 11 November 2006

Samarinda, Kompas - Meski pengelolaan obyek wisata alam di Kutai Barat, Kalimantan Timur, telah melibatkan warga setempat, hasilnya belum optimal. Hal ini diperkirakan akibat kurangnya promosi. Karena itu, pemerintah setempat akan melibatkan diri secara aktif.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Barat Stanislaus Liah mengungkapkan hal itu di Sendawar, Kamis (9/11) malam.

Obyek wisata, terutama air terjun, yang dikelola warga, antara lain ada di Jantur Menarung dan Kampung Ombau Asa, Kecamatan Barong Tongkok. Warga menjaga dan menarik retribusi dari pengunjung. Tarif retribusi Rp 1.000 hingga Rp 2.000.

Namun, tarif tersebut tidak mutlak berlaku. Satu mobil berisi delapan orang, misalnya, pernah dimintai Rp 4.000. Harga yang sama juga dibayar oleh dua pengunjung bersepeda motor.

Selama ini hasil retribusi digunakan untuk berbagai keperluan warga, seperti membiayai perbaikan jalan kampung atau penyelenggaraan acara adat. Perawatan dan pembangunan fasilitas obyek wisata ditanggung pemerintah kabupaten.

Kondisi ini, kata Liah lagi, membebani keuangan pemerintah daerah karena tidak ada pemasukan dari retribusi. Karena itu, pemerintah kabupaten berencana memungut sebagian hasil retribusi. "Pengelolaan obyek wisata tetap melibatkan warga agar mereka dapat manfaat," katanya.

Agar pengelolaan pariwisata lebih optimal, lanjutnya, pemerintah mempersiapkan sejumlah peraturan tentang cara pengelolaan beserta retribusinya. Pemerintah setempat ingin pariwisata menjadi satu sektor penghasil pendapatan asli daerah utama, selain tambang.

Kabupaten berpenduduk 156.000 jiwa itu memiliki 20 air terjun. Beberapa air terjun bahkan potensial dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro. (BRO)

Saturday, November 18, 2006

430 Warga Diare, Delapan Meninggal

Selasa, 07 November 2006
Banjarmasin, Kompas - Dalam dua bulan terakhir, 430 warga di Kalimantan Selatan terserang diare. Sebanyak delapan di antaranya meninggal karena kondisinya sudah buruk saat dibawa ke rumah sakit atau puskesmas.

Warga terserang diare karena mereka mengonsumsi air yang tidak layak minum. Di samping itu, ada juga yang mengonsumsi air sungai tanpa merebusnya dengan baik.

"Mereka terpaksa. Sebagian besar sumber air di daerah itu kotor akibat kemarau berkepanjangan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan (Kalsel) Rosehan Adhani di Banjarbaru, Senin (6/11).

Ratusan warga yang menderita diare itu tinggal di tiga kabupaten, yaitu Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, dan Hulu Sungai Tengah. Di Hulu Sungai Selatan tercatat 378 penderita, empat di antaranya meninggal dunia.

Sementara di Hulu Sungai Utara, satu dari 52 penderita meninggal dunia. Dinas Kesehatan belum memiliki data jumlah penderita diare di Hulu Sungai Tengah, tetapi diketahui tiga warga meninggal karena penyakit tersebut.

Desa terparah

Di Hulu Sungai Selatan, ungkap Rosehan, serangan diare yang terparah menimpa Desa Tambangan, Kecamatan Daha Selatan.

Sampai Jumat pekan lalu, masih ada 19 penderita yang dirawat di puskesmas. Sementara di Hulu Sungai Utara, 40 penderita masih dirawat.

Rosehan berpendapat, warga sesungguhnya tahu akan risikonya jika mereka mengonsumsi air yang tidak layak minum. Namun, sebagian besar terpaksa melakukannya—termasuk tidak merebus air sampai matang—karena keterbatasan dana.

Di daerah-daerah itu, harga minyak tanah mencapai Rp 5.700 per liter. Kayu bakar yang menjadi bahan bakar alternatif juga sulit ditemukan.

"Yang memprihatinkan, kadang air tersebut hanya mereka saring atau endapkan, setelah itu langsung diminum tanpa direbus lebih dahulu," kata Rosehan menambahkan. (FUL)

Sunday, November 12, 2006

"Tabat" di Kawasan Rawan Terbakar Diperbanyak

Senin, 30 Oktober 2006
Palangkaraya, Kompas - Organisasi konservasi lingkungan, WWF-Indonesia, yang merupakan mitra Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, memperbanyak jumlah tabat pada kanal-kanal kawasan gambut Taman Nasional Sebangau yang mudah terbakar. Tabat adalah bendungan kayu yang dapat membuat kawasan gambut tetap basah dan lembab.

"Kami sudah membuat empat tabat di kanal Sebangau Sanitra Indah, enam di sekitar Sungai Simpang Kiri dan Simpang Kanan," kata Pemimpin Proyek WWF-Indonesia Kalteng Drasospolino, Minggu (29/10).

Tabat mencegah air yang dikandung tanah gambut terkuras ke dalam kanal atau parit. Fungsi tabat dalam mencegah kebakaran gambut sudah terbukti di sekitar kanal Sebangau Sanitra Indah (SSI). Kanal tersebut membentang 24 kilometer dari tepian Sungai Sebangau ke dalam kawasan hutan TN Sebangau.

Tahun lalu, dua tabat dibangun pada kanal SSI Kilometer 1 dan KM 10, yang masuk kawasan Sebangau di Kabupaten Pulang Pisau. Pada Agustus 2005, ketika terjadi kebakaran di kawasan SSI, daerah di sekitar tabat tersebut tidak ikut terbakar.

"Tahun ini kami membangun lagi dua tabat di Kilometer 3,5 dan KM 6. Terbukti gambut di sekitar tabat-tabat tersebut tidak lagi terbakar," ujar Drasospolino.

Ketika mengunjungi TN Sebangau awal bulan ini, Kompas menyaksikan lahan gambut di sekitar tabat SSI sudah ditumbuhi semak dan perdu.

Tahun depan, WWF merencanakan membangun lagi dua tabat untuk menjaga kelembaban gambut di kiri-kanan kanal SSI.

"Biaya pembuatan tabat tergantung ukuran. Tabat di kanal yang lebarnya 1,5 hingga dua meter butuh biaya kurang dari Rp 10 juta. Namun, biaya pembuatan satu unit tabat di kanal SSI yang lebarnya 9 meter butuh sekitar Rp 80 juta," tutur Drasospolino.

Rawan terbakar

Hutan Sebangau luasnya 568.700 hektar dan mencakup tiga kabupaten/kota, yakni Katingan, Pulang Pisau, dan Palangkaraya. Areal hutan itu merupakan ekosistem rawa gambut dengan ketebalan tanah gambut tiga meter hingga 10 m. Saat kering, kawasan itu rawan terbakar.

Di Sebangau terdapat 166 jenis flora, termasuk yang dilindungi seperti ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), dan belangeran (Shorea belongeran). Selain itu, juga ada 116 jenis burung, 35 jenis mamalia, dan 36 jenis ikan. Juga terdapat sekitar 6.200 orangutan (Pongo pygmaeus), di samping bekantan (Nasalis larvatus) dan bangau tong-tong (Leptoptilus javanicus).

Kalsel

Di Kalimantan Selatan, hujan yang mengguyur sebagian kota dalam beberapa hari terakhir belum mampu mengatasi kabut asap. Pencemaran asap di Banjarmasin dan sekitarnya masih dikategorikan membahayakan kesehatan.

Pada Minggu (29/10) di sekitar jalan penghubung Banjarmasin-Banjarbaru, sejumlah kawasan masih terbakar. Api masih terus membara karena diduga masih ada warga yang membuka lahan seusai berlebaran.

Kabut asap tebal, terutama pada malam dan pagi hari. Jarak pandang di Kecamatan Kertak Hanyar dan Gambut, misalnya, hanya berkisar 100 m hingga 500 m.

Kabut asap juga menyelimuti jalan Trans-Kalimantan poros Kalsel-Kalimantan Timur, terutama terjadi di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Utara. Asap menebal terutama pada sore hari.

"Biasanya pembakaran untuk membuka ladang ada di dua daerah, yakni di pegunungan oleh peladang, dan rawa lebak oleh petani rawa," ungkap Akhmad Rijali Saidy, staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.(CAS/FUL)

Angkutan Sungai Lumpuh

Kamis, 26 Oktober 2006
Palangkaraya, Kompas - Walau hujan sudah sesekali turun, dua sungai besar di Kalimantan, Kapuas dan Kahayan, masih surut. Di Kahayan, Kalimantan Tengah, dua bulan terakhir ini angkutan sungai antara Palangkaraya dan Kuala Kurun lumpuh.

Kini, hubungan antara Palangkaraya dengan ibu kota Kabupaten Gunung Mas mengandalkan jalan darat sepanjang 180 kilometer (km). Ironisnya, jalur darat yang bergelombang dan tidak beraspal baik itu tidak bisa diandalkan pada musim hujan.

Berdasarkan pantauan Kompas, Rabu (25/10), selisih tinggi permukaan Kahayan masih empat meter di bawah tinggi permukaan pada musim hujan. Panjang Sungai Kahayan 600 km, dan 500 km di antaranya dapat dilayari.

Sungai dengan kedalaman rata-rata tujuh meter ini berhulu di Gunung Mas. Dengan lebar sungai rata-rata 450 meter, Sungai Kahayan melintasi Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau sebelum bermuara di Laut Jawa.

Kemarau ini, lebar Kahayan yang melintasi Palangkaraya menyusut menjadi 100 meter. "Kedalaman sungai di banyak tempat kurang dari satu meter sehingga motoris enggan membawa penumpang," kata Yosef, motoris yang selama 65 hari tidak berani membawa penumpang.

Apabila dipaksakan, speedboat yang dia bawa bisa kandas di dangkalan lumpur dan pasir. Penumpang pun, kata Yosef, banyak yang takut menggunakan speedboat dan memilih menggunakan mobil angkutan umum.

Adhian, warga Kuala Kurun, menuturkan, jalan Palangkaraya-Kuala Kurun sangat licin dan kendaraan rawan tergelincir atau amblas dalam lumpur saat musim hujan. Namun, kemarau ini, jalan itu mudah dilalui, baik mobil maupun sepeda motor.

Tarif dan waktu tempuh antara mobil angkutan umum dan speedboat di rute Palangkaraya-Kuala Kurun bersaing. Tarif mobil Palangkaraya-Kuala Kurun Rp 100.000 per penumpang dengan waktu tempuh lima jam, sedangkan tarif speedboat Rp 120.000 selama empat jam perjalanan.

Adapun Sungai Kapuas masih surut meski hujan turun di sebagian wilayah Kalbar dalam beberapa hari terakhir. Bagian Kapuas yang surut ada di Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu.

Bagi warga Pontianak di bagian hilir sungai, imbas penyurutan sungai adalah masih payaunya air PDAM. Ini terjadi akibat intrusi air laut, yang memasuki Sungai Kapuas pada malam hari.

"Di Sanggau, lebar Kapuas tersisa 50 persen (50-70 meter). Dua hari terakhir memang turun hujan, tetapi hanya sekitar 30 menit saja," ungkap Yuliantini, penduduk Kabupaten Sanggau.

Transportasi sungai di kawasan itu belum normal. Hanya kapal cepat ukuran kecil yang dapat beroperasi. Di Putussibau, Kapuas Hulu, Sungai Kapuas belum normal. Dasar sungai tampak di beberapa tempat. (CAS/RYO)


Search :










Berita Lainnya :

·
Bandar dan Pengedar Dibekuk di Ende
·
Mendapat Remisi, Terpidana Mujarod Bebas
·
Cuaca Cerah di Daerah Palangkaraya dan Pontianak
·
Bandara SMB II Ditutup Lagi
·
Kekhawatiran Itu Kembali Menjadi Kenyataan
·
Bebas, Sumanto Jalani Terapi di Ponpes
·
Angkutan Sungai Lumpuh
·
Perekonomian Babel Bakal Melambat
·
Bandara Baru Juanda Surabaya Dioperasikan
·
Perahu Wisata Tenggelam, 5 Tewas
·
Kilas Daerah

KABUT ASAP

Kamis, 26 Oktober 2006







Palangkaraya, Kompas - Warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan Pontianak, Kalimantan Barat, leluasa menikmati dua hari Lebaran. Hujan lebat yang mengguyur kedua kota itu menyingkirkan kabut asap yang sebelumnya terus mengganggu aktivitas warga.

Hujan lebat turun di Palangkaraya pada Minggu malam hingga Senin (23/10) pagi. Kabut asap yang selama beberapa pekan menyelimuti, mulai tipis. Jarak pandang, Rabu (25/10), sekitar 500 meter-1.000 meter. Sebelumnya, seringkali kurang dari 50 meter.

Di Pontianak, hujan deras mengguyur selama Idul Fitri, Selasa dan Rabu (25/10), menyebabkan asap menghilang dan jarak pandang mencapai satu setengah kilometer.

Cuaca cerah dua hari Lebaran ini dimanfaatkan warga untuk berkeliling kota, termasuk bersilaturahmi ke rumah kerabat.

Meski demikian, udara di Palangkaraya masih tercemar dan dalam indikator sangat tidak sehat pada Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, terdapat lima kategori ISPU.

ISPU dalam poin 0-50 dikategorikan baik, 51-100 sedang, 101-199 tidak sehat, 200-299 sangat tidak sehat, dan 300 ke atas masuk kategori berbahaya. Demikian diungkapkan Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan, Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah Kota Palangkaraya Andre Manurung.

Mulai Oktober

Badan Meteorologi Palangkaraya, kemarin, memperkirakan, musim hujan di Kalteng mulai Oktober ini, diawali dari bagian utara, seperti Kabupaten Murung Raya, disusul kabupaten-kabupaten di daerah tengah dan selatan, seperti Barito Selatan dan Kabupaten Pulang Pisau.

Kepala Subdinas Perlindungan dan Pengamanan Hutan, Dinas Kehutanan Kalteng, Andarias Lempang, berharap hujan akan memadamkan kebakaran lahan yang sejauh ini sulit dikendalikan. "Pemadaman secara manual ataupun bom air selama ini terbukti belum mampu mengatasi kabut asap akibat lahan yang terbakar. Pemadaman yang tidak tuntas justru menebalkan asap yang mengepul," kata dia.

Bencana asap di Kalteng pada tahun 1997 dan 2002, hujan juga menjadi faktor yang mengakhiri bencana tersebut.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalteng, Satriadi, terus mendesak pemerintah untuk memerhatikan warga yang terganggu kesehatannya akibat kabut asap.

Data Dinas Kesehatan Palangkaraya menyebutkan, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan atas di Palangkaraya, pekan lalu, 1.763 orang. Jumlah itu didapat dari pasien di puskesmas, belum termasuk pasien yang berobat ke tempat lain. (CAS/RYO)

Friday, November 10, 2006

Warga Konsumsi Air Eks Tambang

Sabtu, 07 Oktober 2006
Banjarmasin, Kompas - Berbagai gejala kekeringan melanda sejumlah daerah menyusul musim kemarau yang belum berakhir. Warga sejumlah desa di Kabupaten Balangan, Kalimantan, sebulan terakhir ini, terpaksa mengonsumsi air dari kolam-kolam bekas tambang batu bara PT Bantala Coal Mining.

Warga Ambiyang, Piyait, dan Tundakan di Kecamatan Awayan itu harus berjalan dua kilometer untuk mencapai kolam bekas tambang tersebut. Mereka tidak peduli akan kebersihan dan keamanan air di kolam-kolam itu.

Air itu dipakai untuk minum, masak, mandi, dan mencuci karena sungai dan sumur yang ada di desa itu kering kerontang. "Kami sudah melaporkan ini kepada Bupati Balangan," kata Hamsi, warga Ambiyang, Jumat (6/10).

Bupati Balangan Seffek Effendi mengatakan, pemerintah kabupaten tengah menyiapkan bantuan berupa bak penampung air. Air bersih akan dipasok dari Perusahaan Daerah Air Minum Balangan dengan truk tangki.

"Untuk jangka panjang, kami akan memberikan penambahan pipa pompa air agar tak perlu mengambil air dari lubang bekas tambang," ujar Seffek. Krisis air juga terjadi di pinggir Kecamatan Paringin. Warga membeli air bersih dari PDAM Rp 40.000-Rp 50.000 per tangki isi 3.000 liter.

Di Banjarmasin, butuh dana Rp 32 miliar untuk membuat waduk penampung air dan membuat jaringan pipa. Saat ini, 15.000 calon pelanggan belum terlayani air bersih dari PDAM Bandarmasih, Banjarmasin.

Direktur Umum Bandarmasih, Zainal Arifin, mengatakan, dana diharapkan bersumber dari PDAM, bantuan APBN, APBD Kalsel, dan APBD Banjarmasin. "Di kedua kelurahan itu kondisi air Muara Sungai Barito (yang diandalkan warga) juga tak layak karena terintrusi air laut," katanya. Selama kemarau ini, lanjut Zainal, hanya satu pipa pengambilan air baku (intake) milik Bandarmasih yang dimatikan, karena air Sungai Martapura kadar garamnya tinggi sekali. Ada dua intake untuk pengolah air.

Sementara itu di Kalimantan Barat, Sungai Kapuas surut sehingga angkutan sungai tidak bisa mencapai daerah hulu. Penduduk kota Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, hanya dapat mengandalkan perahu kecil.

Kompas mencatat, Sungai Kapuas juga surut pada awal kemarau. Pertengahan September debit air sempat normal karena hujan kerap turun. "Masyarakat Putussibau bisa bermain bola di tepian Kapuas. Warga beramai-ramai mandi di sungai," kata Kamin. Dalam kondisi normal, lebar sungai Kapuas 200 meter. Kini mereka bisa jalan kaki di atasnya. Selain kering, kini kabut asap juga menyelimuti sungai.

Kompleks Danau Sentarum—ada sekitar 30 danau kecil—juga surut airnya. Sentarum terletak sekitar 700 km timur laut Pontianak. Peneliti Center For International Forestry Research (CIFOR), Elizabeth Linda menginformasikan, kedalaman danau tinggal empat meter dari antara 8-10 meter saat normal. Danau ini menyerap 25 persen air Sungai Kapuas dan di musim kemarau, 50 persen air Sungai Kapuas berasal dari Sentarum.

Hampir kering

Air di sumber air dalam goa di Dusun Tlagawarak, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari,Kabupaten Wonogiri kini makin susut karena makin banyak warga yang mengambil air akibat kemarau panjang. Sumber air Goa Pego yang biasanya sedalam satu meter kini dalamnya tinggal setengah mata kaki.

Untuk mengisi satu jeriken 30 liter, butuh waktu sekitar 30 menit. Warga kini terpaksa membeli pada penjual air tangki keliling, dan andalkan bantuan donatur.

"Dulu kami masih bisa mengambil tiga hingga empat jeriken air sehari. Tapi, karena semakin banyak warga yang butuh, air semakin susut," kata Ngadilah, warga Kamis (5/10). Untuk mengambil air dia harus antre sekitar tiga jam. Kondisi serupa terjadi di mata air Goa Kaligede, Dusun Gubar, Desa Giripurwo.

Sabtu (7/10) ini, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul akan mendistribusikan bantuan air gratis tahap dua kepada masyarakat yang kekeringan, golongan ekonomi lemah. Melalui APBD Perubahan Tingkat II, anggaran bantuan air gratis bagi warga tak mampu sekitar Rp 1,2 miliar.

Pascagempa, 41 desa menjadi kawasan baru rawan kekeringan, setelah sebelumnya selalu terjadi di ratusan desa pada 11 kecamatan. Wilayah baru kekeringan, seperti di Kecamatan Patuk, makin mengkhawatirkan.

Sementara di Kabupaten Purwakarta, kerugian akibat keringnya sawah sekitar Rp 1,681 miliar—dari biaya produksi yang terlanjur keluar. (FUL/RYO/MKN/ITA)