Label Cloud

Showing posts with label Air dan Sungai. Show all posts
Showing posts with label Air dan Sungai. Show all posts

Tuesday, June 10, 2008

“Selamatkan Sungai Kita”

Selasa, 15-04-2008 | 01:15:40

BANJARMASIN, BPOST - Di atas kelotok puluhan peserta Workshop Konservasi yang diselenggarakan oleh Kompas Borneo dari 12-14 april 2008 melakukan orasi dan membentangkan spanduk dengan seruan untuk segera membersihkan sungai.

Mengenakan pakaian serba putih mereka mengajak masyarakat agar turut memperhatiakn sungai yang dinilai sudah kotor dan tercemar.

Aksi damai itu dimulai dari Sungai Pangeran hingga dermaga Pemko Banjarmasin, Senin (14/4). Dari awal pemberangkatan mereka sempat singgah di siring Jalan Jenderal Sudirman, depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Di sana mereka kembali membentangkan spanduk dan berorasi mengajak warta menjaga sungai.

Menurut Anhariansyah, Koordinator Pelaksana, sampai saat ini tidak ada tindakan terhadap orang yang membuang sampah di sungai padahal Perda Sungai sudah disahkan.

Dia menambahkan, banyaknya warga yang membuang sampah di sungai bisa mengakibatkan penyempitan serta banjir yang siap menghadang.

Jika kondisi seperti itu dibiarkan, ucap Anhariansyah, maka akan hilang budaya sungai dan dikhawatirkan terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat.

“Makanya kami mengimbau masyarakat bisa menjaga sungai dan tidak menjadikannya sebagai tempat membuang sampah,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah juga harus segera melakukan tindakan agar sungai tidak lagi tercemar. Apalagi, sambung dia, saat ini perdanya jelas-jelas sudah ada.

“Sampai saat ini tidak ada tindakan kongkret yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin, jadi buat apa Perda Sungai yang sudah disahkan,” ujarnya.

Menurut dia, dengan adanya aksi ini diharapkan pemerintah proaktif menindak siapapun yang membuang sampah di sungai. (bb)

Thursday, September 13, 2007

Memelihara Sungai: dari Hulu ke Hilir

Saturday, 01 September 2007 03:08

Kelestarian sungai, tergantung lingkungan alam khususnya hutan di hulu dan permukiman penduduk di hilir atau sepanjang sungai.

Ahmad Barjie B
Pemerhati sosial dan LH

Ada versi mengatakan, nama Kalimantan berasal dari kata ‘kali’ artinya sungai dan ‘mantan’ artinya banyak. Jadi Kalimantan berarti banyak sungai. Faktanya, di semua provinsi di Kalimantan ditemui banyak sungai, termasuk Kalsel. Sayang, sungai itu banyak yang mati, kotor, tercemar dan dikalahkan bangunan sehingga kehilangan eksistensi dan fungsinya yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan penduduk dan sumberdaya hayati.

Akhir-akhir ini, Pemko Banjarmasin bersama Pemprov Kalsel giat melakukan ‘bedah sungai’. Sejumlah pihak dilibatkan, termasuk perlombaan guna membangun kembali komitmen dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sungai, kebersihan dan kelestariannya.

Langkah proaktif Pemprov Kalsel yang ikut membenahi sungai sangat penting. Tentu akan lebih efektif jika semua provinsi melakukan hal sama. Agar diperoleh hasil optimal, diperlukan pemahaman masalah itu secara terpadu dan komprehensif disertai aksi nyata. Rusaknya sungai sangat dimensional dan tidak berdiri sendiri.

Alam dan hutan
Kelestarian sungai, tergantung lingkungan alam khususnya hutan di hulu dan permukiman penduduk di hilir atau sepanjang sungai. Kalau hutan lestari, sungainya juga lestari. Sebab, setiap pohon yang tumbuh di hutan mampu menyedot air dan mengalirkan secara perlahan melalui sungai. Pohon berdiameter satu meter sanggup menampung delapan drum air. Kalau hutan dibabat dan ribuan pohon ditebang, dapat dihitung berapa kerugiannya.

Maraknya pembalakan hutan dan penambangan batu bara, semakin mengurangi luas hutan secara drastis. Apabila pengrusakan hutan dibiarkan, mengancam kelestarian sungainya. Sebab, antara hutan dan sungai memiliki hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan.

Nasib sungai juga dipengaruhi perilaku manusia yang hidup di sekitar dan sepanjang sungai. Manusia yang mengotori sungai dengan sampah dan limbah, membangun di bantarannya dan berbagai tindakan negatif lain yang berlawanan dengan fungsi sungai, berakibat sungai rusak dan tidak dapat lagi menyandang fungsi utamanya. Seperti sumber air bersih, sarana ekologi, irigasi, prasarana transportasi dan pariwisata.

Sungai yang rusak mendatangkan banjir. Banjir sebenarnya peristiwa alami, sementara dan terkendali. Secara ekologis, banjir adalah fenomena alam yang mengikuti Hukum Alam. Proses terjadinya banjir dapat dipikirkan dan diperkirakan berdasarkan penalaran ilmiah, serta dapat diantisipasi secara preventif berdasarkan kaidah Hukum Alam pula. Banjir begini teratur dan positif, sebab membawa kesuburan tanah.

Hutan yang rusak dan sungai yang tidak mampu menampung luapan air hujan, berakibat banjir yang merusak dan membahayakan, tidak saja bagi lahan pertanian, peternakan, permukiman bahkan harta benda dan jiwa manusia. Banjir yang terjadi selama ini di Banjarmasin dan Kalsel, adalah paduan banjir sungai dengan air laut yang pasang naik. Banjir tidak dapat lagi diprediksi dan cenderung destruktif.

Sedimensi dan orogisasi
Mujiono Abdillah yang menulis disertasi tentang sungai dalam perspektif agama menyatakan, penyebab terjadinya banjir sungai cukup banyak. Di antaranya, pertama, faktor klimatologis (iklim). Misalnya, di musim penghujan saat volume air hujan sangat tinggi melebihi daya tampung sungai. Kedua, menurunnya daya serap tanah. Meliputi rendahnya daya serap tanah terhadap air hujan yang disebabkan penutupan permukaan tanah oleh bangunan, urug, betonisasi dan sejenisnya. Serta, rendahnya kemampuan menahan air hujan karena terjadinya dehutanisasi/rusaknya hutan (deforestry). Ketiga, penipisan hutan lindung untuk keperluan perluasan lahan pertanian di daerah hulu sungai dan meningkatnya percepatan pelarian air hujan ke sungai karena gundulnya pepohonan, penebangan dan pengelupasan permukaan tanah oleh penambangan. Keempat, perubahan peruntukan daerah penampungan air sungai menjadi daerah permukiman atau lingkungan industri. Kelima, penurunan daya tampung sungai. Berupa pendangkalan palung sungai oleh sedimensi (pelumpuran), penyumbatan sungai karena sampah dan limbah padat; penyempitan palung sungai karena disfungsi aliran sungai, seperti bangunan di bantaran sungai.

Kerusakan hutan variabel terbesar banjir di Kalsel, disusul rusaknya sungai. Pakar lingkungan Otto Soemarwoto menyatakan, berkurangnya hutan berakibat air hujan yang meresap ke dalam tanah berkurang, pengisian air tanah juga berkurang. Hilangnya hutan juga berarti makin besarnya erosi dan tingginya kandungan lumpur dalam air sungai. Sedimensi yang tinggi menyebabkan air sungai keruh, tidak layak konsumsi, tidak disenangi ikan dan juga tidak menarik pariwisata. Lumpur yang mengendap di hilir dan muara sungai, menghambat kelancaran arus air sehingga risiko banjir semakin tinggi.

Bagi Kalsel, bahkan tiga provinsi lainnya di Kalimantan, telah terjadi akumulasi kerusakan: hutan rusak di daerah hulu dan sungai rusak di hilirnya. Memelihara sungai harus terpadu dengan menyasar keduanya. Menjaga kebersihan dan kelestarian sungai tidak terpisahkan dari keharusan menjaga kelestarian hutan di daerah hulu, kemudian menjaga kebersihan dan kelestarian sungai di sepanjang alirannya. Semua itu menuntut kesadaran, komitmen dan konstribusi positif semua pihak. Tidak hanya pemerintah, juga pengusaha dan masyarakat. Mahalnya harga air, tingginya kebutuhan air bersih, punahnya sebagian spesies ikan air tawar, seringnya kemacetan dan kecelakaan jalan darat, adanya kerinduan mandi dan bermain di sungai, kiranya mendorong kita kembali menghidupkan sungai.

e-mail: barjie_b@yahoo.com


Monday, September 10, 2007

Sampah Dibuang di Permukiman Warga Keluhkan Bau dan Serangan Lalat

Wednesday, 29 August 2007 22:52

BANJARBARU, BPOST - Dua bulan terakhir diam-diam armada pengangkut sampah milik Dinas Tata Kota (Distako) Banjarbaru membuang sampah ke eks tempat pembuangan akhir (TPA) yang telah ditutup di kawasan Guntung Pinang RT 47 RW 8 Trikora, Banjarbaru. Akibatnya, permukiman warga termasuk satu pesantren di sekitarnya pun terganggu.

Warga pun jengkel dan resah karena setiap hari sejak praktik pembuangan sampah itu, rumah mereka tak pelak diserbu tebaran lalat dan bau sampah. Padahal, seharusnya Distako Banjarbaru, membuang muatan sampah tersebut ke TPA Hutan Panjang, Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka.

Pantauan BPost, ada dua titik terbaru yang menjadi sasaran penumpukan sampah oleh armada milik Distako. Satu titik di jalur Jalan Pondok Pesantren Warosatul Fukoha dan satu titik lagi paling luas hingga memakan luasan dua hektare berada sekitar 500 meter dari jalan utama Guntung Pinang.

Dua titik eks TPA yang masing-masing memakan luasan sekitar satu hektare ini berada di sebelah kiri jalan sekitar belokan menuju pondok Pesantren Warosatul Fukoha. Di titik tersebut tampak gunungan sampah yang kelihatan masih baru ditumpahkan truk sampah.

Armada sampah yang biasa masuk diyakini dari armada truk sampah Banjarbaru. "Hampir dua bulan ini truk sampah itu masuk di Guntung Pinang ini. Masuknya setiap hari. Biasanya truk sampah datang membongkar muatannya antara jam tujuh sampai jam sembilan pagi," kata seorang warga setempat minta tak dimuat namanya.

Masih menurut warga, terkadang bila sore hari, juga ditemukan truk sampah masuk yang mengangkut sampah pasar. Pagi hari kemarin (Rabu, 29/8) saja, warga melihat ada dua truk sampah yang bongkar di sini.

Warga pun menuturkan, aktivitas pembuangan sampah mengganggu santri-santri pesantren. Kesehatan mereka bisa terancam akibat bibit kuman bawaan lalat.

Menariknya, pihak Distako Banjarbaru mengaku tidak tahu pembuangan sampah ke lokasi itu. "Maaf, saya malah belum mengetahui perkembangan itu. Terima kasih atas masukannya. Secepatnya kami tindaklanjuti. TPA kan ada di Gunung Kupang kenapa membuangnya ke Guntung Pinang. Itu kan sudah lama ditutup," ucapnya.

Menanggapi keluhan itu juga, Zahedi menegaskan akan memanggil seluruh sopir armada truk sampah untuk dimintai penjelasan. Termasuk juga stafnya yang bertugas mengawasi sampah. niz


    Sungai Peramuan Aman Apriji: Tak Ada Pencemaran, Hanya Tumpukan Sampah

    Radar Banjarmasin ; Selasa, 28 Agustus 2007

    BANJARBARU – Warga dan petani yang berdiam di sepanjang bantaran Sungai Peramuan tak perlu gelisah dulu dengan kabar pencemaran limbah oli. Sebab menurut hasil pemeriksaan dari Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup (Distam LH), sungai tersebut sama sekali tak tercemar.

    Sejak ada kabar tercemarnya air sungai Peramuan, petugas Distam LH langsung turun dan mengecek ke sungai. Petugas mengaku hanya menemukan adanya tumpukan sampah-sampah.

    “Pasca adanya keluhan itu, keesokan harinya langsung kita cek. Kemungkinan adanya pencemaran limbah oli terlalu dini untuk disimpulkan, apalagi hasil penelitian kita tak dapat terdeteksi adanya pencemaran,” kata Ir M Apriji, Kasi Perizinan dan Pengendalian Pencemaran Distam LH saat dikonfirmasi koran ini, kemarin.

    Disebutkan Apriji, kesimpulan tak adanya pencemaran limbah oli itu sendiri berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Apalagi, untuk menentukan aliran sungai itu tercemar limbah oli dibutuhkan hasil penelitian yang akurat.

    Tak itu saja, sejauh ini di Banjarbaru tak ditemui limbah oli dibuang sembarangan oleh bengkel-bengkel. Ini mengingat, limbah oli ini memiliki nilai dan bisa dijual Rp1.000-Rp3.000 per liternya. Bahkan, sejauh ini di Banjarbaru sendiri ada perusahaan pengumpul oli bekas yang akan dijual lagi.

    “Saat ini tak ada lagi bengkel yang membuang limbah oli sembarang. Bayangkan saja, satu drum oli bekas saja bisa dijual mencapai Rp200 ribu. Bengkel tak susah-susah lagi menjual oli bekas, karena ada pengumpul yang mengambil ke tiap-tiap bengkel,” jelas Apriji.

    Meski tak menemukan ada pencemaran limbah oli itu, pihaknya tetap merespon keluhan yang disampaikan petani itu yang langsung ditindak lanjuti dengan turun ke lapangan.

    Menyinggung soal adanya penumpukan sampah yang menghambat aliran air sungai, tersumbatnya sampah-sampah itu diakibatkan adanya pintu air yang rusak. Meski begitu, berdasarkan informasi dari warga sekitar, nanti setelah diperbaiki permasalahan itu bisa diatasi.(mul)

    Air Sungai Tercemar Bakteri Coli

    Saturday, 25 August 2007 00:56:39

    BANJARMASIN, BPOST - Direktur Perusahaan Daerah Instalasi Pengolahan Air Limbah (PD Ipal) Kota Banjarmasin, Muhidin MT mengakui sanitasi di lingkungan Kota Banjarmasin sudah pada tarap yang mengkhawatirkan.

    Hampir semua air sungai dan air lingkungan permukiman penduduk tercemar tinja manusia. Menurutnya, itu tak lepas dari kebiasaan warga yang membuang tinja langsung ke sungai.

    Ditemui wartawan di sela-sela peringatan setahun berdirinya PD Ipal di Banjarmasin, Jumat (24/8), Muhidin menyebutkan akibat pencemaran tinja maka air lingkungan Banjarmasin tidak sehat, karena tinja mengandung bakteri coli.

    Selain itu, kondisi septic tank (tempat penampungan tinja) atau kakus rumah-rumah penduduk di Banjarmasin juga kebanyakan dibuat tidak standar. Akibatnya, tinja mencemari air di sekitar kakus dan mengalir kemana-mana.

    Bukan hanya pencemaran tinja yang relatif tinggi di sungai-sungai Banjarmasin. Menurutnya, pencemaran air limbah rumah tangga juga tinggi. Itu belum ditambah pencemaran industri yang akhirnya membuat air Kota Banjarmasin sudah tidak sehat lagi.

    Oleh karena itu, Pemko Banjarmasin mendirikan PD Ipal ini maksudnya untuk mencegah pencemaran air kemudian diolah hingga bersih agar lingkungan juga bersih.

    Menyinggung kondisi PD Ipal yang sudah berdiri sejak setahun, ia menyebutkan cukup menggembirakan. Itu karena sudah memiliki dua titik lokasi pengolahan air limbah yang berkapasitas 500 meterkubik (M3)r per hari.ant

    Sunday, September 09, 2007

    Warga Sungai Pinang Berburu Air Takut Minum Air Sungai

    Thursday, 23 August 2007 01:34

    MARTAPURA, BPOST - Warga Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar mulai berburu air. Sumber air, termasuk sumur gali sudah mulai banyak yang mengering. Di kecamatan ini ada satu sungai yang airnya melimpah, tapi warga tak berani mengonsumsi karena keruh dan tercemar bekas penambangan emas.

    Triyono, seorang guru SD Dadap Belimbing Sungai Pinang mengatakan, pambakal (kades) setempat sudah meminta warga mencari sumber air alternatif.

    "Pambakal sudah menginstruksikan kepada seluruh masyarakat, terutama yang sering masuk hutan untuk mencari sumber air baru. Jika ada, akan diambil airnya untuk keperluan sehari-hari dalam jangka panjang," kata Triyono.

    Menurutnya, di desanya ada sungai Pamuatan yang terkenal tidak pernah kering. Tapi warga tidak berani mengambil air sungai selebar enam meter ini untuk memasak dan minum karena airnya selalu keruh dan mengandung merkuri.

    Sungai Pamuatan ini sudah sejak tahun 1950-an digunakan sebagai tempat penambangan emas dan intan. Penambangan oleh ratusan warga di RT 4,5 dan 6 Dusun Dadap ini, sudah ada yang menggunakan mesin, tapi masih banyak yang manual.

    "Sebetulnya sumber air Sungai Pamuatan tak pernah kering, tapi warga takut karena mengandung banyak merkuri dan selalu keruh. Warga hanya menggunakannya untuk mencuci pakaian saja," kata Triyono.

    Triyono menjelaskan, musim kemarau tahun lalu, masyarakat sangat kesulitan air bersih. Beberapa sungai kecil sekitarnya banyak yang kering. Begitu juga dengan sumur gali, airnya banyak yang kering.

    Bahkan, beberapa sumur gali yang ada di desa ini, airnya mengandung zat besi (Fe) dalam kadar yang tinggi, sehingga baunya seperti besi karatan saat diminum.

    Beberapa waktu lalu, warga menemukan sumber air dari sungai Hapi, dua kilometer dari desa. Sungai itu, kini sudah dibendung dan airnya dialirkan ke desa, menggunakan pipa paralon. Air sungai ini cukup jernih. Diperkirakan, tak mengandung logam berbahaya karena jauh dari lokasi penambangan.

    "Setelah dibendung, kini airnya sudah setinggi satu meter lebih. Diperkirakan, ini bisa sedikit mengatasi kesulitan air warga. Kami, kini masih mencari sumber air baru, terutama dalam hutan," jelasnya.

    Pemerintah desa setempat juga sudah memprogramkan sungai Maniatang. Kini, sungai ini sudah mulai dipasang pipa. Jaraknya empat kilometer dari Desa Belimbing. "Kemungkinan besar tahun ini sungai ini berhasil dialirkan ke desa," kata Triyono. sig

    Thursday, August 30, 2007

    Sungai Tabanio Kritis Lagi

    Monday, 13 August 2007 01:15

    PELAIHARI, BPOST - Manajemen Perusahaan Daerah Air Minum Pelaihari kembali dilanda kerisauan. Debit air Sungai Tabanio susut drastis menyusul cuaca panas terus-menerus dua pekan terakhir.

    "Kondisi saat ini memang masih lebih baik dibandingkan awal Juli lalu, tapi terus terang saya khawatir karena sepertinya kemarau sudah mulai benar-benar lerlangsung, sementara pekerjaan perbaikan tanggul bendungan belum juga selesai," kata Plt Dirut PDAM Pelaihari H Dwi Wahatno Bagio, Jumat (10/8).

    Ketinggian air saat ini kurang lebih masih mencapai satu meter. Permukaan air masih menyentuh pintu air bendungan meski hanya di bagian bawah. Kondisi ini belum separah awal Juli lalu, di mana air telah berada di bawah pintu air.

    Beruntung saat itu hujan lebat kembali turun dan terus berlangsung sepanjang siang dan malam selama delapan hari. Debit air di Sungai Tabanio pun kembali meninggi. Air Sungai Tabanio adalah bahan baku utama air bersih PDAM Pelaihari.

    Sejak dua pekan terakhir cuaca cerah kembali. Diperkirakan kemarau efektif mulai berlangsung saat ini yang ditandai dengan meningginya temperatur dan menurunnya kelembaban udara.

    Sementara itu, sampai sekarang pekerjaan perbaikan tanggul bendungan yang ditangani Dinas Kimprasda belum juga selesai. Tanggul tanah sepanjang kurang lebih 100 meter ini jebol dihantam banjir Februari silam.

    Pekerjaan tanggul itu sendiri mendapat perhatian khusus Bupati H Adriansyah, mengingat hal itu menyangkut hajat hidup masyarakat banyak.

    Saat coffee morning awal Juli lalu di Gunung Kayangan, bupati mengintruksikan pejabat teknis Kimprasda untuk melakukan langkah nyata untuk mempercepat perbaikan tanggul tersebut.

    Ironisnya, pekerjaan tersebut harus diikuti pembukaan pintu air bendungan sehingga debit air Sungai Tabanio terus menyusut. Jika genangan air di Sungai Tabanio dalam, kabarnya akan mengganggu pekerjaan perbaikan tanggul.

    "Itulah hal lain yang membuat saya khawatir. Mestinya debit air yang sudah menurun ini bisa dipertahankan dengan menutup pintu air bendungan. Tapi, sekarang terpaksa dibuka untuk memperlancar pekerjaan tanggul itu," ucap Wahatno.

    Dirinya sudah meminta kepada Kadis Kimprasda supaya mencari strategi lain dalam menangani tanggul, sehingga pintu air bisa ditutup. "Saya fikir masih ada cara lain, apalagi tidak ada pekerjaan pengecoran di bagian bawah tanggul," ucap Wahatno.

    Dihubungi melalui telepon selular, Kadis Kimprasda HM Amin ST mengatakan pekerjaan tanggul mulai diintensifkan sejak Senin tadi seiring mulai menurunnya muka air. "Kami sedang berusaha maksimal untuk menyelesaikannya. Namun perlu diketahui, jika bendung Kunyit banjir, satu minggu tidak bisa kerja." roy


    Enam DAS di Kalsel Kritis

    Saturday, 11 August 2007 03:00

    BANJARMASIN, BPOST - Enam dari 12 daerah aliran sungai (DAS) di Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam kondisi sangat kristis, sedangkan empat DAS lainnya juga potensial kritis, akibatnya saat curah hujan tinggi, DAS-DAS tersebut tidak mampu mengendalikana luapan air sungai.

    Informasi yang dihimpun dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedalda) Kalsel, enam DAS yang kini kondisinya sangat kritis tersebut yaitu, DAS Barito dengan dua sub DAS yaitu Riam Kiwa dan Riam Kanan.

    Selanjutnya DAS Tabanio dengan sub DAS Asam-Asam, Sawarangan dan Sabahur. Setelah itu DAS Kintap dengan sub DAS Kintap dan Kintap Kecil, kemudian DAS Satui terbagi dua sub DAS yaitu, sub DAS Satui Hulu dan sub DAS Satui Hilir.

    DAS Batulicin yang terbagi menjadi sub DAS Batulicin dan sub DAS Sungai Dua kondisinya juga sangat mengkhawatirkan dan menjadi penyebab terjadinya luapan banjir di daerah Batulicin Tanah Bumbu sejak tahun 2006.

    Terakhir yaitu DAS Cengal yang meliputi sub Das Cengal Hulu dan Cengal Hilir juga tidak lagi mampu menampung curah hujan yang cukup atau menjadi kekeringan pada saat kemarau.

    Kepala Dinas Bappedalda Kalsel Rachmadi Kurdi mengungkapkan, keenam DAS tersebut merupakan daerah aliran sungai di empat kabupaten yaitu Kabupaten Banjar, Tanah Laut (Tala), Tanah Bumbu (Tanbu) dan Kotabaru, yang sejak 2006 selalu menjadi langganan banjir saat curah hujan dengan intensitas tinggi.

    Kenapa kritis?, tambah Rachmadi, karena hutan di kawasan DAS tersebut kurang dari 30 persen yang diakibatkan oleh aktivitas penebangan liar, perladangan, kebakaran hutan dan lahan.

    Juga akibat pembukaan areal tambang PETI dan pengolahan pertanian yang belum sesuai pola konservasi lahan. Sendimentasi sungai cukup tinggi yang mengakibatkan pendangkalan di sepanjang DAS membuat air sunga meluap dan terjadilah banjir.

    Sementara itu, empat DAS lainnya yang potensial kritis yaitu, DAS Kusan dengan wilayah sub DAS kusan Hulu, Kusan Tengah, Kusan Hilir dan Cantung.

    Selanjutnya DAS Pulau Laut, dengan wilayah sub DAS Semarang dan Sekojang, kemudian DAS Sebuku dan DAS Manunggal dengan wilayah sub DAS Manunggal Hulu dan Hilir.

    Keempat DAS tersebut, tambahnya, kawasan hutannya tidak lebih dari 30 persen, dan beberapa aliran sungainya juga mulai mengalami pendangkalan dengan sendimentasi yang lumayan tinggi.ant

    Monday, July 23, 2007

    Pengerukan Sungai HSU Mubazir

    Tuesday, 24 July 2007 01:21

    BANJARMASIN, BPOST- Proyek pengerukan Sungai Tiung, Sungai Luang dan Pal Batu di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), dinilai mubazir.

    Hal ini disampaikan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Provinsi Kalsel pada rapat paripurna, pendapat akhir fraksi terhadap rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kalsel 2006, Senin.

    FPKB minta gubernur dan dinas terkait selaku pengguna anggaran memerhatikan proyek pengerukan ketiga sungai tersebut, karena efektifitas keberhasilan pekerjaan dan realisasinya sulit diukur, sehingga bisa mubazir.

    Juru bicara fraksi, H Husni Nurin memaparkan, pengerukan sungai-sungai di HSU tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan teknologi yang lebih dari sekedar menempatkan eksavator di atas tongkang.

    Begitu pula, cara pembuangan lumpurnya, masih membuat sedimentasi kembali berulang dalam waktu singkat. "Sebaiknya proyek tersebut dihentikan saja. Kecuali ditemukan cara yang lebih baik dari yang sudah ada,"katanya.

    Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN), melalui juru bicara Ahariani, juga mempertanyakan pelaksanaan proyek pengerukan Sungai Luang HSU (185 Km utara Banjarmasin) Dinas Perhubungan (Dihub) provinsi tersebut.

    Berdasarkan laporan dan keluhan masyarakat, menurut fraksi ini, cara mengerjakan sifatnya cuma pembersihan, bukan pengerukan.

    Kritik terhadap proyek itu juga dikemukakan fraksi-fraksi lain di DPRD Kalsel. pada rapat paripurna yang dihadiri Gubernur H Rudy Ariffin.

    Walau dengan berbagai catatan, delapan fraksi akhirnya menerima Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2006 tersebut yang mengalami surplus Rp50,2 miliar lebih dengan sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa), Rp 201 miliar lebih. ant


    Sunday, July 22, 2007

    Sungai, Bak Sampah Raksasa

    Senin, 23 Juli 2007

    BANJARMASIN ,- Wakil Gubernur Kalsel HM Rosehan NB menilai kondisi sungai yang ada di Kota Banjarmasin sangat memprihatinkan, semuanya kotor dan ditutupi bangunan-bangunan liar yang terkesan kumuh. Bahkan, parahnya, ada kecenderungan sungai menjadi bak sampah raksasa, sehinga segala kotoran dan sampah ditampung. Akibatnya, tidak sedikit sungai yang tersumbat dan airnya tidak bisa mengalir.

    “Dahulu sungai banyak memberikan penghidupan kepada nenek moyang dan juga orangtua kita. Itu karena sungai masih terpelihara kebersihannya dan berfungsi dengan baik. Tapi sekarang kondisinya sudah banyak berubah dan kotor,” ujar Rosehan pada sela-sela launching acara “Bedah Sungai” yang dipusatkan di depan Stadion 17 Mei Banjarmasin, kemarin.

    Menurut Rosehan, sungai adalah salah satu bagian dari kekayaan alam yang banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, terutama bagi masyarakat di Kota Banjarmasin. Ia menambahkan, sungai dapat menjadi sumber penghidupan karena di dalamnya terdapat banyak ikan, dan menjadi sumber kebutuhan secara turun menurun masyarakat. “Sungai merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Banua ini. Tak hanya untuk kebutuhan mandi, mencuci dan minum, tapi juga sebagai sarana transportasi masyarakat,” ujarnya.

    Sehubungan dengan itu, kata Rosehan, Pemprov Kalsel menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pembenahan dan pembangunan sungai di Kalsel, khususnya Kota Banjarmasin yang menjadi ibukota provinsi. Lebih lanjut, ia mengharapkan kegiatan Bedah Sungai tersebut memberikan dorongan, motivasi, serta membangkitkan kembali kesadaran yang tinggi kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian sungai. “Saya berharap momentum ini menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Kalsel agar lebih peduli dengan kebersihan sungai, terutama di lingkungannya masing-masing. Kegiatan bersih-bersih bisa dilakukan di lingkungan RT, sekitar tempat tinggal, atau tempat usaha,” pesannya.

    Pantauan koran ini kemarin, aksi Bedah Sungai kemarin diikuti ratusan anggota TNI-AD, Polri, perwakilan Pemkot Banjarmasin, Pemprov Kalsel, BPK, serta masyarakat sekitar. Aksi bersih-bersih kemarin juga dihadiri Wakil Walikota Banjarmasin H Alwi Sahlan, sejumlah pejabat teras Pemkot Banjarmasin, dan Pemprov Kalsel. (sga)


    Ajak Gotong Royong Lewat Bedah Sungai

    Monday, 23 July 2007 02:23:57

    BANJARMASIN, BPOST - Kondisi sungai di Kota Banjarmasin semakin hari kian dangkal dan sempit. Melihat kenyataan itu, Wakil Gubernur Kalsel Rosehan NB, mengajak warga bersama-sama membersihkan sungai yang ada di wilayahnya.

    Sebagai langkah simbolis, Minggu (22/7) pagi, Wagub bersama TNI, Polri, unsur muspida lain, tokoh masyarakat serta warga melakukan aksi bersih-bersih sungai. Kegiatan yang diberi nama "Bedah Sungai" itu dipusatkan di Sungai Jafri Zam-Zam, tepatnya di depan Stadion 17 Mei.

    Dalam kegiatan itu semua pihak bergotong royong mengangkat sampah yang mengotori dan membuat aliran sungai menjadi dangkal. Bahkan sebagian warga dengan sukarela menyediakan beragam konsumsi, mulai dari minuman sampai nasi kuning.

    Wagub Rosehan NB mengatakan, Bedah Sungai hanya istilah, tetapi inti dari kegiatan itu adalah untuk menghidupkan kembali gotong-royong di masyarakat. Terutama untuk menyelamatkan sungai-sungai yang menjadi ciri khas Kota Banjarmasin.

    "Apa yang kita laksanakan ini untuk memancing kepedulian warga terhadap sungai yang ada di wilayahnya. Kalau sungai kita bersih selain kita nyaman memandang juga airnya yang bersih bisa dimanfaatkan," ujarnya di sela-sela kegiatan.

    Terkait keberadaan bangunan-bangunan yang ada di bibir sungai, Rosehan menegaskan hal itu menjadi tanggungjawab pemerintah Kota Banjarmasin. Terutama tidak memberikan izin mendirikan bangunan di jalur hijau seperti di bibir sungai. ais

    Sunday, July 08, 2007

    Sungai di Kalsel Kritis Pelaksanaan Program Bedah Sungai Molor

    Rabu, 4 Juli 2007
    BANJARMASIN ,- Kepala Bapedalda Kalsel Rachmadi Kurdi mengemukakan, sejumlah sungai dan anak sungai di Kalsel mulai kritis atau mengalami pendangkalan akibat tingginya sedimentasi. Ironisnya, kalau tidak segera dilakukan revitalisasi, diperkirakan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan banyak sungai dan anak sungai yang mampet.

    “Pendangkalan terjadi akibat masih banyaknya warga Kalsel yang membuang sampah ke sungai, sehingga menumpuk yang menyebabkan sungan mendangkal dan juga tercemar,” ujar Rachmadi Kurdi kepada wartawan, Senin (2/7).

    Rachmadi lantas menyebutkan sungai-sungai yang mengalami pendangkalan, diantaranya Sungai Barito, Sungai Martapura, Sungai Basirih. “Sungai yang besar saja tercemar, apalagi sungai kecil atau anak sungai,” cetusnya.

    Untuk itulah, tandasnya, perlu segera dilakukan revitalisasi untuk melestarikan sungai-sungai di Kalsel. Salah satu caranya adalah mengarahkan semua proyek yang dikerjakan pemerintah lebih mendukung program kelestarian sungai.

    Pemprov Kalsel, lanjutnya, sudah mencanangkan gerakan aksi bersih-bersih sungai yang diberi nama “Bedah Sungai”. Namun kegiatan yang semula dijadwalkan pada Minggu 8 Juli nanti itu terpaksa ditunda karena padatnya jadwal kegiatan Gubernur Rudy Ariffin dan Wagub Rosehan NB yang sejatinya hadir pada kegiatan tersebut. “Kegiatan bedah sungai tetap akan dilaksanakan dan dijadwal ulang,” tambahnya.

    Rachmadi mengharapkan, kegiatan bedah sungai tersebut merupakan momentum gerakan revitalisasi sungai yang akan dicanangkan Pemprov Kalsel.

    Seperti diketahui, nasib sungai di Banjarmasin yang kian nelangsa, membangkitkan naluri Rosehan NB untuk segera membenahinya. Dia pun merancang aksi bersih-bersih sungai yang diberi nama “Bedah Sungai”. Rencananya, kegiatan ini akan dipusatkan di kawasan dekat Studion 17 Mei, Jalan Jafri Zamzam, Banjarmasin. Selanjutnya, secara serentak, aksi bersih-bersih ini akan dilakukan di 5 kecamatan yang tempatnya ditentukan kemudian.

    Menurut Rosehan, pembenahan sungai di Banjarmasin perlu perhatian serius, dan harus mendapat dukungan semua pihak. Dia mengaku miris dengan kian berkurangnya jumlah sungai, akibat pendangkalan, penyempitan, hingga banyaknya bangunan di atas sungai.

    Nah, kegiatan yang diharapkan sebagai tonggak awal kepedulian terhadap sungai, mendapat dukungan Kementerian Lingkungan Hidup RI, dan artis ibukota, Peggy Melati Sukma.(sga)

    Tuesday, May 15, 2007

    Peggy akan Bedah Sungai Banjarmasin

    Selasa, 15 Mei 2007


    Radar Banjarmasin
    BANJARMASIN ,- Artis serba bisa, Peggy Melati Sukma, mengaku merasa sangat dekat dengan warga Banjarmasin. Karenanya, bintang sinetron yang juga pernah menjadi presenter acara Rejeki Nomplok ini punya hajat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat Banua.

    Rencananya, istri Wisnu Tjandra Yusuf ini akan menggarap sebuah kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup, yaitu membedah sejumlah sungai di Banjarmasin. Nah, untuk mematangkan rencananya itu, pemilik nama lengkap Raden Peggy Melati Purnamadewi Sukma ini kemarin datang ke Banjarmasin, untuk bertemu Wakil Gubernur Kalsel Rosehan NB. “Saya tidak tahu, kok tiba-tiba ada perasaan dekat dengan warga Banjarmasin. Terlebih ketika saya menggelar acara Rejeki Nompok beberapa waktu lalu, sambutan masyarakat sini luar biasa. Sampai-sampai saya merasakan menjadi bagian dari masyarakat sini,” ujar Peggy kepada wartawan, pada sela-sela pertemuannya dengan Wakil Gubernur Rosehan NB, kemarin.

    Lebih lanjut, Ketua Yayasan Peduli Membantu Sesama (PMS) ini mengemukakan, bedah sungai akan dilaksanakan pada Juni mendatang seiring peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. “Pastinya bulan Juni, tapi tanggalnya masih dibicarakan dengan Pemprov Kalsel dan Pemkot Banjarmasin,” tambahnya.

    Lantas, kenapa terinspirasi menggelar bedah sungai di Banjarmasin?

    Selain ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk warga Banjarmasin, Peggy melihat sungai-sungai di Banjarmasin merupakan aset daerah yang menjanjikan asalkan dipelihara dengan baik. “Sungai-sungai di Banjarmasin masih dipergunakan warga sebagai sarana transportasi. Saya melihat alangkah indahnya kalau dilestarikan dan dipelihara dengan baik,” katanya.

    Nah, bedah sungai yang digagasnya tersebut, lanjut Peggy, untuk memotivasi warga agar lebih peduli akan kebersihan dan kelestarian sungai. “Apa yang saya lakukan nanti, hanya bagian kecil dari upaya untuk memotivasi masyarakat Banjarmasin peduli kebersihan sungai. Sebab, pemerintah daerah di sini sudah banyak melakukan berbagai kegiatan peduli kebersihan sungai,” tambahnya.

    Untuk itu, Peggy mengharapkan even bedah sungai yang digagasnya nanti, secara berkesinambungan akan dilakukan jajaran Pemprov Kalsel dan juga Pemkot Banjarmasin.

    Sementara itu, Wakil Gubernur Kalsel HM Rosehan NB menyambut baik rencana bedah sungai ini. Bahkan, untuk jangka panjangnya, Rosehan berniat kegiatan itu akan dilanjutkan Pemprov Kalsel dengan menggelar bedah sungai-sungai yang ada di kabupaten dan kota se-Kalsel. “Saya sangat mendukung kegiatan positif ini. Untuk jangka panjangnya, perlu dilanjutkan membedah sungai-sungai di Kalsel yang digagas pemprov,” kata Rosehan, yang langsung diamini Kepala Bapedalda Rahmadi Kurdi.

    Rencananya, sebut Rosehan, sungai-sungai yang akan dibedah terdapat pada 5 kecamatan di Kota Banjarmasin. “Kami akan survei dulu mana sungai yang akan dibedah. Rencananya, setiap kecamatan satu sungai yang akan dipermak,” pungkasnya.(sga)

    Peggy Melati Sukma Ingin Selamatkan Sungai Banjarmasin

    Selasa, 15 Mei 2007 03:45

    HATI Peggy Melati Sukma tertambat di Kota Banjarmasin. Begitu kira-kira perasaan artis yang dikenal dengan akting latah dan pematen kata "Puusssiiinng" ini terhadap ibukota Banua.

    2006, untuk pertama kalinya Peggy menginjakkan kaki di Kota Seribu Sungai. Saat itu Peggy menjelajahi salah sudut Banjarmasin untuk program reality show Rezeki Nomplok.

    "Saya dengan tim menggunakan perahu menyusuri sungai berkilo-kilo jauhnya. Di kanan-kiri sungai warga tidak putus memberikan sambutan. Bahkan ada yang mengikuti pakai perahu. Saya terharu dan merasa seperti pulang kampung," tuturnya di ruang kerja Wakil Gubernur Kalsel, Senin (14/5).

    Ya, kemarin, Peggy datang lagi ke Banjarmasin. Ia bersama empat Duta Lingkungan Kalsel menghadap Wagub Rosehan NB yang didampingi sang istri, Aida Muslimah.

    "Saya datang lagi ke Banjarmasin juga untuk menepati janji. Waktu pertama ke sini, saya bilang ke tim harus datang lagi ke Banjarmasin," ujar istri Wisnu Tjandra dengan penuh semangat.

    Lalu meluncurkan cerita dari wanita bernama lengkap Raden Peggy Melati Purnamadewi Sukma ini tentang kecintaannya kepada Banjarmasin. Peggy mengatakan sejak kecil di kampung halamannya di Cirebon, ia sudah akrab dengan air.

    "Saya kebetulan waktu kecil suka mandi di sawah yang airnya langsung ke laut. Jadinya setiap pulang kotor semua," kenangnya.

    Karena itu ia menyayangkan jika sungai-sungai di Banjarmasin rusak bahkan hilang karena pembangunan yang merejalela dan sikap masyarakat yang kurang peduli kebersihan.

    Peggy menegaskan sebagai ciri Banjarmasin, bagaimanapun caranya, sungai harus dipertahankan. Apalagi pesona sungai dan kehidupannya yang menyatu merupakan keunikan tersendiri.

    Lebih-lebih, sungai masih menjadi urat nadi sebagian warga. Itulah yang menjadi daya tarik bagi dunia internasional.

    Berangkat dari itulah ketika Banjarmasin mendapat predikat Kota Terkotor Peggy mengaku sedih. Makanya Peggy yang kali ini datang membawa bendera Yayasan Peggy Melati Sukma (PMS) ingin membantu Pemprov Kalsel khususnya Pemko Banjarmasin mempertahankan keasrian sungai.

    Usaha menjaga keutuhan dan kealamian sungai diberi nama Bedah Sungai. Program ini rencananya dimulai bersamaan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Juni mendatang.

    "Tujuannya warga menjadi tahu dan akrab dengan program Bedah Sungai, kemudian dilanjutnya secara berkesinambungan oleh warga Banjarmasin," ujarnya penuh harap.ais

    Tuesday, May 08, 2007

    LSM Desak Penyelesaian Air Bersih

    Selasa, 8 Mei 2007
    Radar Banjarmasin

    KOTABARIU,- Masalah kekurangan air bersih di Kabupaten Kotabaru kiranya mendapat banyak perhatian sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kotabaru. Bahkan,  mereka mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotabaru agar segera menyelesaikan masalah kekurangan air bersih yang terjadi setiap musim kemarau itu.

       Desakan tersebut disampaikan tokoh LSM Formula H Abdul Gaffar, Mirkan, Jauhari, dan rekan-rekannya yang lain kepada pemerintah melalui DPRD Kotabaru melalui dengar pendapat (hearing) yang dilaksanakan awal pekan ini. Gayung bersambut, keinginan tersebut langsung diakomodir pemerintah bersama DPRD dengan menyediakan dana untuk pembuatan sumur bor, serta pencarian lokasi waduk baru.

       "Untuk mengatasi masalah air besih tersebut, saat ini disediakan dana untuk membuat enam titik sumur bor di komplek masyarakat nelayan. Dana penelitian mencari lokasi waduk yang memiliki debit air lebih besar untuk menutupi kebutuhan air bersih di Kotabaru, juga sudah ada," ujar Ketua DPRD Kotabaru Alpidri Sopiannor ST.

       Dengan pengadaan sumur bor tersebut, jelas Adfidri, masyarakat nelayan yang sebagian besar tinggal di daerah pantai seperti Batu Silira, Kotabaru Hulu dan Hilir, Baharu Utara, Dirgahayu, dan Semayap, dapat menikmati air bersih yang memenuhi standar.  

       "Dengan penelitian waduk baru itu, kita berharap tahun 2008 nanti kita dapat mulai membangun waduk untuk menutupi kebutuhan air bersih 280 ribu m3 per hari. Sebab, sekarang ini baru terpenuhi sekitar 250 ribu m3 dan masih ada divisit sekitar 30 ribu m3 per hari," ungkap Alpidri.

       Untuk mencari lokasi waduk yang memiliki debit air cukup, tim akan melakukan Survei Infestigasi Desain (SID) dan DED kpada beberapa lokasi yang dianggap potensial.

       Pemerintah menghendaki keberadaan waduk Gunung Ulin dan rencana pembangunan waduk baru yang akan dimulai pembangunannya tahun 2008 tersebut dapat memproduksi air bersih satu juta m3 per hari.

       Sementara itu, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) KOtabaru, Zulkifli AR SE M Ap mengatakan, sumber air bersih yang ada saat ini untuk memenuhi kebutuhan sekitar 6.200 pelanggan di Kotabaru masih belum cukup terutama pada musim kemarau. Sumber air bersih yang dihasilkan dari Gunung Ulin dengan kapasitas 20 liter per detik, Mandin 40 liter per detik, Tirawan I dan II masing-masing 10 liter per detik dan Gunung Perak 10 liter per detik, dalam kondisi normal hanya sekitar 250 ribu m3, sementar kebutuhan mencapai 280 ribu m3 per hari. (ins)


    Tuesday, March 20, 2007

    Air untuk Kehidupan

    Senin, 15 Januari 2007 Radar Banjarmasin

    Sebuah renungan tentang pentingnya air (Bagian 2-Habis)

    Oleh: Zulkipli Yadi Noor*

    DATA statistik UNDP menunjukkan, lebih dari 1 miliar penduduk di dunia tidak punya akses terhadap air bersih. Lebih dari 2 (dua) miliar penduduk tidak punya akses terhadap kondisi sanitasi yang cukup. Antara 10.000 sampai 20.000 penduduk, terutama anak-anak meninggal setiap hari disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan air (kolera, diare, dlsb). Setiap 15 detik, seorang bayi meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh ketidakmampuan mengakses air bersih dan sanitasi yang buruk. 5 (lima) miliar penduduk hidup dalam kondisi dimana limbah cair dialirkan ke sungai tanpa perlakuan (treatment).

    Bagaimana di banua kita? Seberapa banyak penduduk yang tidak punya akses terhadap air bersih? Atau kalau pertanyaannya di balik, seberapa banyak penduduk yang bisa menikmati air bersih? Seberapa banyak penduduk yang sudah punya akses terhadap sanitasi (MCK) yang baik? Seberapa banyak penduduk yang menikmati air sungai yang tidak tercemar? Bersyukurlah kita yang hidup di Ibukota, baik Ibukota Propinsi atau Ibukota Kabupaten/kota, karena bisa menikmati pelayanan atau bahasa kerennya punya akses terhadap air bersih. Masih banyak saudara-saudara kita di desa-desa yang tidak punya kesempatan “menikmati” air bersih yang aman untuk diminum. Bayangkan saudara kita yang ada di Barambai (Batola), karena ingin mencari sumber air yang bersih harus menggali tanah ratusan meter, tapi bukan air yang didapat, malah gas yang keluar. Bayangkan juga saudara kita yang di pelosok, apabila musim kemarau datang harus berjalan berkilometer jauhnya, hanya untuk mendapatkan air “bersih”. Bayangkan juga saudara-saudara kita yang harus membeli di jeriken untuk keperluan minum dan memasak. Kalau kita di sini cuma buka kran sudah bisa langsung ada air. Walaupun kita yang tinggal di kota sekarang dapat menikmati air bersih, bukan tidak mungkin suatu saat nanti akan kesulitan mendapatkannya. Seperti yang penulis singgung di muka, dengan semakin bertambahnya penduduk, maka kebutuhan akan airpun meningkat. Di sisi lain sumber daya airnya terbatas.

    Untuk Kota Banjarmasin menurut data dari PDAM Bandarmasih, sampai tahun 2005 dari 612.697 penduduk Kota Banjarmasin sudah terlayani 83 persen (491.076 penduduk). Terjadi peningkatan pelayanan yang cukup signifikan dari tahun 2000 yang hanya bisa terlayanan 58 persen. Ini bisa dilayani melalui produksi intake Bilu (Sungai Martapura), intake Pematang Panjang, Intake Sungai Tabuk, MTP Sutoyo, MTP Kayu Tangi dan MTP Sungai Lulut.

    Pada saat ini Pemerintah Kota Banjarmasin bersama dengan DPRD sedang memproses Perda tentang sungai, mudahan dengan Perda tersebut keberadaan sungai yang ada bisa dipertahankan dan sedapat mungkin ditingkatkan kualitasnya. Kalau tidak, bisa jadi suatu saat nanti keberadaan sungai di sini seperti lagu karangan Gesang Bengawan Solo “Riwayatmu Dulu”, hanya jadi cerita untuk anak cucu, karena hilang ditutup oleh bangunan.

    Daerah-daerah lain juga perlu memikirkan untuk menyelamatkan sumber daya air di daerahnya masing-masing. Dengan tekanan yang semakin berat terhadap sumber daya air, perlu adanya upaya-upaya yang konkrit. Karena karakteristik air yang bergerak (fugitive), upaya yang dilakukan haruslah terkoordinasi antar Pemerintah Daerah. Kalau istilah di daerah kita air itu mengalir dari hulu ke hilir (upstream-downstream). Artinya upaya daerah yang ada di hilir akan lebih bermakna kalau juga diikuti oleh daerah yang ada di hulu, dan sebaliknya.

    Kita yang sudah “terlena” dengan mudahnya mendapatkan air bersih, mudah-mudahan sadar akan pentingya sumber daya air bagi kehidupan. Bisa dibayangkan repotnya kalau kita tidak bisa mendapatkan air sama sekali. Air ledeng tidak jalan beberapa jam/hari saja (misalnya karena ada perbaikan atau pembersihan) banyak yang protes. Kita yang beruntung bisa menikmati air bersih, agar bijaksana menggunakannya.

    Bagaimana caranya? Mudah saja seperti anjuran Da’i kondang A’a Gym dengan 3 M, yaitu Mulailah dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulailah sekarang juga. Berikut ini penulis sampaikan cara-cara menghemat air yang diambil dari leaflet PDAM Bandarmasih:

    1. Manfaatkan air secara optimal, cegah kebocoran dan jangan biarkan kran air terbuka terus menerus.

    2. Saat gosok gigi, cuci muka atau mencukur, kran westafel jangan dibiarkan mengucur. 1 (satu) menit kran mengucur , 9 (sembilan) liter air bisa mubazir.

    3. Lebih baik mencuci mobil memakai ember dan lap. Mengguyur mobil ¼ jam berarti beratus-ratus liter air terbuang.

    4. Mencuci langsung di bawah kran bisa 15 kali lebih boros air dibanding dengan ditampung. Bila cucian banyak, pakai saja 3 (tiga) ember. Satu untuk merendam dan menyabun, satu untuk membersihkan dan satu lagi untuk membilas.

    5. Menggunakan mesin cuci piring dan cuci pakaian bila yang dicuci sangat banyak.

    6. Mandi berendam (bath tub) paling boros air. Mandi dengan gayung bisa 3 (tiga) kali lebih boros dibandingkan pancuran atau shower. Usahakan mandi dengan pancuran dan tidak berendam.

    7. Air limbah yang tidak terlalu kotor masih dapat dipakai untuk menyiram tanaman dan memelihara ikan.

    8. Upayakan membuat sumur resapan dan tidak menghabiskan semua lahan dengan disemen. Untuk mempertahankan air hujan dapat meresap agar sumber air anda tetap berlimpah di musim kering.

    Sekecil apapun upaya kita untuk menghemat pemakaian air akan besar sekali manfaatnya, tidak hanya bagi kepentingan pribadi yakni turunnya tagihan air setiap bulan, tetapi juga dalam konteks yang lebih luas menyelamatkan sumber daya air. Selamat menghemat air, masih banyak saudara-saudara kita yang belum bisa menikmati air bersih. “Some water for all forever”.***

    * Staf Dinas Perikanan Dan Kelautan Kab Batola

    Wednesday, January 10, 2007

    Sungai Rimba Tercemar

    Rabu, 27 Desember 2006 01:24
    Banjarbaru, BPost
    Keluhan pencemaran lingkungan oleh warga sekitar Sungai Rimba, Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru direspon Pemko Banjarbaru dengan menurunkan tim ke lokasi.

    Tim gabungan Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup (Distam LH), Dinas Kesehatan, Dinas Tata Kota, Dinas Kimpraswil, Satpol PP, itu menemukan, ada tiga industri tahu di Jalan Manggis, tidak menjalankan pengelolaan limbah dengan baik.

    Bahkan berdasarkan hasil temukan tim, limbah tahu ternyata langsung dibuang ke Sungai Rimba dan menimbulkan pencemaran.

    Berdasarkan temuan tersebut, ketiga pemilik industri telah dipanggil dan membuat perjanjian dengan warga secara tertulis yang diketahui tim.

    Dalam perjanjian tersebut, pemilik industri diwajibkan mengaktifkan kembali sistem pengolahan limbahnya dan itu direalisasikan paling lambat tiga bulan ke depan. Bila melanggar, pemilik industri terancam sanksi berat dari dinas terkait.

    Selain itu, pengusaha industri tahu berkewajiban memberdayakan warga sekitar dan aktif memberikan bantuan dalam usaha memelihara lingkungan.

    Lurah Syamsudin Noor, Hidayaturrahman yang turut hadir dalam peninjuan tersebut, mengatakan, ketiga industri itu sudah ada sistem pengolahan limbahnya, tapi tidak digunakan lagi.

    Ketua RT 4 Sukadi mengaku lega, dengan adanya perkembangan tersebut. Ia berharap, pemilik industri benar-benar bersikap serius menangani limbahnya.

    "Ini untuk kebaikan kita bersama. Kami bukannya keberatan apalagi melarang pabrik tahu di sini. Keberadaannya sebagai sumber pendapatan. Tapi, limbahnya pun harus diperhatikan supaya tidak menjadi sumber penyakit," kata Sukadi. mtb/sar

    Copyright © 2003 Banjarmasin Post

    Friday, December 08, 2006

    Riam Kiwa Tercemar

    Jumat, 10 Nopember 2006 01:07:22
    Martapura, BPost
    Bapedalda Banjar mengakui, hasil pemeriksaan sampel air Sungai Riam Kiwa di sejumlah titik terindikasi tercemar.

    "Dari hasil pemeriksaan sampel air Sungai Riam Kiwa yang dilaksanakan laboraturium perindustrian di Banjarbaru, ada dua zat yang signifikan melebihi ambang batas di air sampel," kata Kepala Bapedalda Banjar Ir Achmad Suprapto, Kamis (9/11).

    Dua zat yang melebihi ambang batas berdasar ketentuan syarat standar kesehatan air sungai yang tertuang dalam SK Gubernur Kalsel No 28/1994, adalah raksa dan lemak/minyak.

    Dalam ketentuan, zat raksa di setiap liter air paling tinggi 0,001, sedangkan lemak/minyak harus nihil atau tidak ada. Namun, di sejumlah titik ditemukan zat raksa dan lemak yang melebihi ambang batas, ungkapnya.

    Sampel yang diambil di Pengaron menunjukkan raksa 0,044, Mataraman 0,057, Martapura 0,051 dan Sungai Tabuk 0,051. Dari data itu, kadar raksa terbesar dijumpai pada sampel air Sungai Riam Kiwa yang diambil di Pengaron.

    Kandungan lemak/minyak di Pengaron ada 11, Mataraman 1, Martapura 2 dan Sungai Tabuk 0. Semestinya, kandungan lemak/minyak harus tidak ada agar memenuhi standar kesehatan air.

    "Jika melihat ada kandungan raksa, ada kemungkinan terdapat tambang emas ilegal di kawasan hulu. Pasalnya, raksa ini biasanya digunakan untuk menghimpun butiran emas. Masalah ini tentu akan kita koordinasikan dengan Distamben Banjar untuk menentukan langkah selanjutnya," bebernya.

    Adapun mengenai kandungan lemak/minyak, Suprapto mengatakan ada kemungkinan oli bekas yang dibuang secara sembarangan ke sungai.

    Bina Lingkungan Hidup Indonesia (BLHI) Kalimantan menuding, pencemaran Sungai Riam Kiwa disebabkan ulah oknum warga yang menyebar potas untuk mengambil ikan di sungai.

    "Berdasarkan laporan hasil penelitian sampel yang dilakukan Fakultas Kedokteran Unlam Banjarbaru, Sungai Riam Kiwa di kawasan Batang Banyu Kecamatan Sambung Makmur tercemar potas. Itu adalah bukti bahwa oknum warga sendiri yang mengakibatkan sungai tercemar," ujar Direktur BLHI Kalimantan Badrul Ain Sanusi.

    Disinggung hasil sampel yang berbeda dengan Bapedalda, Badrul mengatakan bahwa hal itu bisa saja terjadi, tergantung dari mana sampel diambil.

    Hal ini harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata dari instansi pemerintah, agar air sungai yang menjadi kebutuhan pokok warga tidak tercemar lagi. Bapedalda dan Distamben Banjar mesti berani menertibkan pihak tertentu yang menjadi biang pencemaran, ujarnya. adi

    Copyright © 2003 Banjarmasin Post

    Friday, November 24, 2006

    Air Sungai Pandahan Menghitam

    Sabtu, 04 Nopember 2006 03:53:16
    Diduga tercemar limbah industri
    Pelaihari, BPost
    Sejak kemarau beberapa bulan lalu hingga kini warga Desa Pandahan Kecamatan Bati Bati kesulitan memperoleh air bersih. Sementara air sungai setempat tak layak lagi dimanfaatkan karena rasanya menjadi kalat dan berwarna kuning kehitaman.

    Keberadaan sungai itu sendiri selama ini cukup vital bagi warga setempat. Setidaknya digunakan untuk mandi dan cuci. Bahkan tak sedikit yang memanfaatkan untuk air minum.

    Melalui pemerintah desa, warga Pandahan meminta bantuan material kepada Pemkab Tala untuk menutup aliran air dari Guntung Manggis, Banjarbaru, yang bermuara di Sungai Pandahan. Permohonan tertulis telah disampaikan beberapa waktu lalu ditandatangi Kades dan Ketua BPD Zainal Ilmi.

    Warga Pandahan meyaikini penutupan aliran air dari Guntung Manggis tersebut mampu mengatasi pencemaran yang terjadi. Pasalnya, sumber pencemaran Sungai Pandahan dipastikan berasal dari Guntung Manggis.

    Sekedar diketahui, Guntung Manggis merupakan kawasan industri di Kota Banjarbaru. Sejumlah pihak menduga limbah industri beberapa perusahaan mengalir ke aliran sungai yang diantaranya mengalir ke Sungai Pandahan.

    Zainal menuturkan pencemaran sungai di desanya selalu terjadi setuap tahun pada musim kemarau dan menjelang musim penghujan. Saat kemarau, air berubah menjadi asin akibat intrusi payau air laut. Rasanya menjadi kalat dan warnanya berubah kuning kehitaman ketika hujan mulai turun.

    Pada musim penghujan, aliran air dari Guntung Manggis akan bergerak dan turun ke Sungai Pandahan. Air dari Guntung Manggis diperkirakan membawa gas atau zat-zat berbahaya dari limbah industri yang terus mengendap dan berakumulasi selama musim kemarau.

    Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, penurunan kualitas air Sungai Pandahan tersebut akan menyebabkan kematian populasi ikan. Biasanya ini terdeteksi bulan Desember yang ditandai mengapungnya jasad ikan. Bahkan saat ini populasi ikan di Sungai Pandahan dilaporkan mulai langka.

    Dalam proposalnya, Desa Pandahan meminta bantuan ke Pemkab Tala senilai Rp9,2 juta. Ini untuk kebutuhan pengadaan material (kayu galam, karung, dan lainnya). Material ini digunakan untuk menutup aliran air dari Guntung Manggis di muara Sungai Pandahan. Lebar aliran 5 meter. roy
    Copyright © 2003 Banjarmasin Post

    Wednesday, October 25, 2006

    Atasi Air Bersih, Pemrov Diminta Peduli

    Radar Banjarmasin - Senin, 2 Oktober 2006
    Baru 7 Kecamatan yang Mendapatkan Air Bersih

    MARABAHAN – Sejumlah masyarakat di Kabupaten Batola begitu mendambakan layanan air bersih. Jangankan warga yang tinggal di Komplek Perumahan yang tersebar di Kelurahan Handil Bakti dan Desa Berangas Timur Kecamatan Alalak, masyarakat yang ada di pelosok desa pun turut mendambakannya.

    Sekadar diketahui, seperti yang pernah dijelaskan Direktur PDAM Batola Nazhirni SE MM, air bersih sebagai kebutuhan masyarakat yang sangat vital diakui tak bisa dijangkau seluruh Kabupaten Batola. Pasalnya dari 17 kecamatan yang ada, PDAM Batola baru mampu melayani 7 kecamatan.

    Yaitu Kecamatan Marabahan melalui Unit PDAM Marabahan, Kecamatan Bakumpai melalui IKK Bakumpai, Kecamatan Cerbon melalui IKK Cerbon, Kecamatan Rantau Badauh melalui IKK Rantau Badauh, Kecamatan Anjir Pasar melalui IKK Anjir Pasar, dan dan Kecamatan Alalak melalui IKK Alalak, serta Kecamatan Tamban melalui Instalasi Pengolahan Air Bersih Sederhana (IPAS) Tamban.

    Akibatnya, dari 260.967 jiwa penduduk Kabupaten Batola, baru 12,40 persen atau 24.360 jiwa saja yang mampu menikmati layanan air bersih. Masyarakat pun menyadari kemampuan dari Pemerintah Kabupaten Batola yang tidak banyak memiliki dana untuk membangun fasilitas air bersih tersebut.

    “Karena itu, menurut saya, Pemerintah Provinsi Kalsel harus turut memikirkan masalah ini, karena ini terkait dengan masalah kesehatan masyarakat Kalsel sendiri,” ujar H Hasan, tokoh masyarakat Kelurahan Berangas Kecamatan Alalak.

    Lain lagi yang dikemukakan Riduan warga Desa Tatah Masjid Kecamatan Alalak. Menurut Riduan, Pemkab Batola harusnya menjadikan layanan air bersih sebagai prioritas pembangunan. “Harapan saya, selain transportasi darat yang menjadi priortas, Pemkab Batola hendaknya juga memprioritaskan layanan air bersih sebagai prioritas pembangunan,” ujar Riduan.

    Sekedar diketahui, kapasitas yang dimiliki masing-masing unit PDAM Batola masing-masing, Unit Kota Marabahan dengan kapasitas 30 liter per detik, IKK Bakumpai 5 liter per detik, IKK Rantau Badauh 5 liter per detik, IKK Cerbon 5 liter per detik, IKK Alalak 35 liter per ditik, IKK Anjir 10 liter per detik.(gtm)