Label Cloud

Showing posts with label Sampah. Show all posts
Showing posts with label Sampah. Show all posts

Wednesday, June 18, 2008

Sampah Hutan Ganggu Warga

Senin, 19-05-2008 | 01:03:40

BANJARBARU, BPOST - Kesegaran dan keindahan panorama Hutan Pinus di Kawasan Mantaos Banjarbaru, terancam pupus. Wajah hutan kebanggaan masyarakat Kota Idaman-Martapura, kini semakin suram dan terpuruk oleh timbunan sampah di mana-mana.

Ibaratnya, tak lagi seperti tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Malah sudah seperti tempat pembuangan akhir (TPA). Hutan Pinus yang masuk dalam pengelolaan kabupaten Banjar bekerjasama dengan PDAM Intan Banjar ini berubah menjadi hutan sampah.

Puluhan titik timbunan sampah bertebaran di dalam lingkungan hutan sebagaimana di TPA Hutan Panjang, Gunung Kupang Banjarbaru. Sekarang, tak hanya lingkungan dan potensi hutannya yang terancam. Bahkan, ratusan warga yang bermukim di sekelilingnya pun mulai merasakan dampak pencemaran.

Siang malam, indra penciuman mereka dipaksa menerima bau menyengat sampah. Ditambah lagi tebaran lalat sampah yang berseliweran menghinggapi rumah warga dan menebarkan ancaman berbagai bibit penyakit.

Pantauan Metro, Minggu (18/5) siang kemarin, tebaran sampah paling parah berada di deret Jalan Pinus II ujung. Sejumlah pemulung menggunakan gerobak dan sepeda motor, terlihat mengais sampah. Di sana sudah disediakan satu titik TPS dalam bentuk kontainer oleh Distako Banjarbaru sebagai penampungan sampah masyarakat.

Tapi kondisi yang terjadi sampah justru bertebaran di luar TPS. Bahkan tumpukan banyak menjalar di dalam hutan. Selain di titik Pinus II, tumpukan sampah juga mengepung hutan pinus sekitar Kompleks Griya Meranti Asri I dan Kompleks Meranti Griya Asri II.

Titik buangan sampah liar mengepung nyaris di semua titik akses jalan. Jumlah timbunan sampah mencapai puluhan titik. Mulai Jalan Pinus II Ujung, Jalan Komet, Perumahan Pinus Lama, dan Kompleks Maranti Griya Asri.   

Edi (35) warga Jalan Pinus II Ujung, RT4 RWII Kompleks Sumber Indah, yang rumahnya paling dekat dengan titik tumpukan sampah, mengaku seperti sudah habis upaya mengatasi permasalahan sampah ini. Kondisi paling parah diakui sudah berlangsung dua bulan terakhir ini.

“Siang malam bau sampahnya sangat mengganggu. Lalat-lalat sampahnya juga. Sudah dua bulan ini sampahnya semakin banyak,” aku Edi.

Hasil penelusuran, berdasarkan pengakuan warga sekitar, pada waktu-waktu tertentu ada aktivitas pembuangan sampah dengan menggunakan mobil, truk ataupun gerobak-gerobak. Waktunya kebanyakan mengambil tengah malam sampai dinihari.

Dirut PDAM Intan Banjar, Rifqie Basri, ketika dikonfirmasi mengakui, pihaknya banyak mendapat laporan adanya aktivitas pembuangan sampah ilegal oleh mobil, truk ataupun gerobak.

Untuk penanganannya, diakui PDAM masih menunggu surat resmi pengelolaan hutan Pinus dari pemkab Banjar. Namun untuk permasalahan penanganan sampah, PDAM proaktif melayangkan surat ke Distako Banjarbaru.

“Kita saat ini masih menunggu surat resmi pengelolaan Hutan Pinus dari Pemkab Banjar. Tapi untuk penanganan sampah, kita sudah melayangkan surat koordinasi ke Distako Banjarbaru. Rencananya dibuat portal supaya truk, mobil ataupun gerobak tak bisa lagi masuk hutan membuang sampahnya,” ucap Rifqie. (MTB/sar/esy)
Ulah Orang Luar

MAKSUD baik tak selamanya diterima baik. Demi menjaga lingkungan hutan dan pemukiman bebas dari tebaran sampah, Freit Sularso (45), justru berhadapan dengan tekanan dan ancaman dari pihak yang tak suka dengan aksi bersih sampah itu.

“Saya sempat diajak berkelahi oleh orang luar. Ia saya tegur karena sembarangan membuang sampah di lingkungan hutan Pinus kawasan kompleks kami. Tenyata responnya malah marah dan mengajak berkelahi,” ucap ketua RT 4 RW II Komplek Sumber Indah Jalan Pinus Indah II, Mentaos ini.

Perselisihan kecil itu untungnya tak berlanjut. Freit merespon bijak tak melayani emosi orang yang menentangnya. Baginya itu resiko yang mau tak mau harus diterima. Warga kompleks diakui sangat mendukung langkah pembenahan masalah sampah. Bahkan tiap bulan rutin bergotong royong. Namun tidak dengan warga dari luar yang tak mengerti dampak sampah bagi pemukiman sekitarnya.

“Yang penting niat kita baik. Terserah orang menganggapnya bagaimana. Masalah sampah memang menjadi masalah terberat bagi kami yang tinggal sekitar Hutan Pinus. Ada TPS kontainer, tapi orang-orang luar justru membuang sembarangan sampai ke hutan,”ucapnya prihatin.(MTB/sar)

Wednesday, February 20, 2008

Libur, Sampah Tak Terangkut

Jumat, 08-02-2008 | 00:35:15

BANJARBARU, BPOST - Penanganan sampah di Kota Banjarbaru masih menyisakan banyak permasalahan. Terbukti, di kota yang telah merebut piala adipura kedua se Kalsel tetap ditemukan sampah tak terangkut saat libur.

Pada akhir pekan dan tanggal merah seperti Kamis (7/2), saat libur imlek banyak sampah berserakan tak terangkut. Pantauan BPost, sejumlah Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang tersebar di sudut kota masih dipenuhi sampah. Seperti tampak di Jalan Mistar Cokrokusumo. Tepat di depan Citra Banjarbaru (CB) Plasa sampah tampak menumpuk.

Bau menyengat menyeruak, sehingga banyak pengguna jalan yang melintas harus menutup hidung akibat aroma tak sedap. Semakin siang, ketika tiba hari libur atau di awal pekan, bukannya bertambah sedikit, sampahnya justru semakin menumpuk, karena belum sempat sampah yang ada terangkut, sampah tambahan datang lagi.

Akibatnya, sampah meluber ke pinggir jalan. “Apa karena kemarin libur dan hari ini belum bisa diangkut? Sampahnya sudah siang masih saja berserakan,” ujar Agus, warga Jalan Mistar Cokrokusumo.

Tak hanya di Jalan Mistar Cokrokusumo, tumpukan sampah juga terlihat. Pemandangan serupa juga masih ditemui di TPS samping RSUD Banjarbaru, Panglima Batur Barat. (niz)

Tuesday, January 08, 2008

TPA Hutan Panjang Tanpa Amdal

Sabtu, 8 Desember 2007
Radar Banjarmasin

BANJARBARU – Jangan heran bila Anda melihat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hutan Panjang sejauh ini ternyata belum mempunyai Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Tak mengherankan jika berkali-kali dalam penilaian Adipura, Amdal TPA sedikit dipertanyakan meski sejauh ini pengelolaan sampah TPA sudah berjalan cukup bagus. Namun, biar bagaimanapun sesuai dengan ketentuan, sudah menjadi kewajiban di atas areal 5 hektare diwajiban untuk menyiapkan Amdal-nya.

Mengetahui asetnya belum mengantongi Amdal, Walikota Banjarbaru Drs Rudy Resnawan pun meminta kepada instansi yang terkait untuk secepatnya melengkapi Amdal sebagai persyaratan mutlak yang harus dipenuhi.

“Kita teriak-teriak Amdal, nyatanya punya kita sendiri belum punya Amdal. Kita harus malu dan secepatnya harus kita siapkan. Semoga pada 2008 mendatang, amdal-nya sudah ada,” kata Rudy.

Menurut Rudy, keberadaan Amdal sangat dibutuhkan untuk mengetahui apakah sejauh ini keberadaan TPA memang benar-benar sesuai dan tidak mengganggu masyarakat. Meski sebenarnya, sampai saat ini keberadaan TPA Hutan Panjang dianggap telah layak sebagaimana kajian yang telah dilakukan intansinya.

Rudy pun juga menaruh keyakinan, bila Amdal-nya sudah disiapkan, ke depan pengelolaan TPA akan jauh lebih baik.

“Pengelolaan TPA menjadi perhatian serius, tak hanya semata untuk penilaian Adipura saja, namun lebih besar itu untuk menampung dan mengolah sampah warga yang setiap hari terus bertambah jumlahnya,” terang Rudy.

Tak hanya Amdal TPA saja, pada 2008 mendatang Rudy juga meminta instansi yang ditunjuk juga menyiapkan UKL/UPL untuk rencana pembangunan pasar baru di kawasan Landasan Ulin serta juga RSUD Banjarbaru.

Secara terpisah, Kepala Distam LH Drs Burhanuddin mengungkapkan, instansinya memang ditunjuk untuk mengurus keperluan Amdal dan sudah dianggarkan pada tahun 2008 mendatang.

“Semua sudah kita siapkan dan sudah kita ajukan pada 2008 mendatang. Baik itu Amdal TPA, maupun UKL/UPL pasar baru yang nanti dibangun di Landasan Ulin,” kata Burhanuddin. (mul)

Drainase Dipenuhi Sampah Lagi

Kamis, 6 Desember 2007
Radar Banjarmasin

KESADARAN para pedagang untuk menjaga kebersihan di pasar Martapura sepertinya masih sangat rendah. Buktinya, drainase di Jl Sasaran, tepatnya samping Masjid Agung Al Karomah Martapura tidak pernah bersih dari sampah, meski sering dibersihkan petugas.

Pantauan koran ini di lapangan, drainase yang berdempetan dengan pagar masjid ini, selalui saja dipenuhi sampah-sampah hasil limbah pedagang. Meski sering mendapat pembersihan dari petugas, namun sampah-sampah terus bertambah setiap hari. Hal ini seiring dengan menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di lokasi ini.

Kebanyakan sampah adalah plastik, yang biasa digunakan sebagai pembungkus bahan belanjaan, namun tidak jarang pula sampah sisa limbah dagangan milik PKL yang biasa mangkal di lokasi ini, seperti bekas sayuran dan buah-buahan.(spn)

500 Tong Sampah Hasilkan Kompos

Selasa, 4 Desember 2007
Radar Banjarmasin

AMUNTAI – Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pariwisata HSU bakal punya program ramah lingkungan terbaru. Saat ini, instansi yang menangani bersih-bersih kota ini, sudah menyiapkan program penyehatan lingkungan dengan menyediakan sedikitnya 500 buah tong sampah pengolah kompos.

Dalam waktu dekat ini, pengolahan sampah menjadi kompos ini segera digarap Distakpar HSU. “Saat ini tinggal memberikan pelatihan kepada mereka yang ditunjuk di tiap lingkungan tempat tinggal, siapa-siapa saja yang mengelola tong-tong sampah tersebut,” ujar Kadistakpar HSU, Ahmad Musaddik SSos kepada koran ini.

Recana ini bakal berhasil, ujarnya, bila didukung oleh seluruh warga pengguna tong sampah khusus pembuatan kompos tersebut. “Caranya dengan memisahkan sampah organik dan non organik, nantinya pada prosesnya didalam tong sampah tersebut, sampah organik akan secara alami membusuk dan menghasilkan kompos, sementara sampah non organiknya akan diangkut,” ujar Musaddik.

Manfaat ganda akan diperoleh pada tong sampah penghasil kompos ini. Selain mengurangi beban angkut armada sampah di Kota Bertakwa ini, komposnya bisa langsung dimanfaatkan warga. “Apalagi sekarang ini, kebutuhan kompos untuk tanaman bunga yang dimiliki ibu-ibu rumah tangga semakin ramai saja,” cetusnya.

Setiap lingkungan nantinya, beber Musaddik, ada satu petugas khusus yang dilatih bisa mengelola tong sampah penghasil kompos tersebut. “Petugas kebersihan yang kita berikan pelatihan khusus tersebut nantinya yang akan mengelolanya, kepada warga mereka lah yang memberikan pembelajaran pembuatan kompos berbahan sampah organik tersebut,” tukasnya. (bie)


Wednesday, December 05, 2007

Pantai di Kalsel Penuh Sampah

Sabtu, 24-11-2007 | 01:05:15

BANJARMASIN, BPOST - Kondisi pantai yang ada di Kalimantan Selatan yakni pantai timur dan selatan kian memprihatinkan. Kerusakan pantai baik karena proses alam maupun akibat ulah manusia diprediksi lebih dari separuh luas wilayah pantai itu.

Demikian disampaikan Kepala Sub Dinas Prasarana dan Pulau-Pulau Kecil, Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel, HM Darban di gubernuran, kemarin. Menurutnya, aktivitas manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan menjadi faktor utama penyebab kerusakan pantai.

Bentuk kerusakan wilayah pantai itu antara lain berupa abrasi (pengikisan) yang disebabkan kuatnya gerusan ombak laut, dan sedimentasi karena lumpur-lumpur dari wilayah hulu berakhir di kawasan pantai.

Belum lagi masalah sampah. Nyaris di semua wilayah pantai tampak kotor akibat sampah organik dan non organik sehingga membuat pantai tak lagi sedap dipandang mata. Sampah-sampah itu juga dominan kiriman dari daratan dan daerah hulu.

"Aktivitas penebangan hutan dan penambangan batu bara yang pengirimannya melewati sungai dan tembus ke pantai juga telah mengotori pantai. Pantai yang rusak berpengaruh pada ekosistem laut yang pada akhirnya produktivitas kelautan menurun," tukasnya.

Dan Kamis (22/11), Pemprov Kalsel menggelar kegiatan aksi bersih-bersih pantai. Kegiatan yang dipusatkan di Pantai Taboneo, Tanah Laut itu dibuka Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB.

Dalam kegiatan itu Rosehan memberikan bantuan kepada warga pesisir berupa uang Rp 25 juta dan bagi-bagi delapan unit genset. Kegiatan dilanjutkan dialog langsung dengan masyarakat nelayan setempat.

Warga Taboneo dan sekitarnya menginginkan pemerintah provinsi membangun tanggul penahan ombak. Pasalnya, menurut mereka abrasi yang terjadi di Pantai Taboneo dan sekitarnya mengalami abrasi sekitar 5 sampai dengan 10 tahun pertahun.

Mereka juga mengharapkan adanya rambu-rambu atau petunjuk arah ketika hendak memasuki muara menuju ke sungai. ais

Sunday, December 02, 2007

Tumpukan Sampah Kotori Taman

Minggu, 16-09-2007 | 01:31:48

  • TPS Tak Resmi Marak

BANJARBARU, BPOST - Sejumlah warga di sekitar kawasan Komet, Banjarbaru mengeluhkan tumpukan sampah yang mengotori taman. Sampah yang seharusnya dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) tepat di samping taman, justru mencemari taman itu.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Banjarbaru Utara Yaser Arafat menyesalkan TPS itu diletakkan di samping taman. “Tidak ada gunanya ada taman kalau TPS di sampingnya. Lihat saja, pemandangannya jadi tak sedap,” ucapnya jengkel.
TPS di Jalan Panglima Batur tepatnya di samping taman berukuran kecil itu sebelumnya memang tak ada. Bak sampah besar sebenarnya ada di Jalan Wijaya Kusuma tepat di depan rumah mantan Bupati Tabalong H Noor Aidi.
Karena pemilik rumah terganggu dengan sampah di sana, Dinas Tata Kota (Distako) membuatkan TPS baru. Tapi TPS baru ini menyisakan masalah lain. Meski bentuknya memenuhi syarat dengan memisah tempat sampah basah dan kering, namun kebiasaan warga membuang dengan melempar mengakibatkan sampah tercecer tak hanya sekitar Komet.
Hingga kini masih banyak ditemui tumpukan sampah di TPS ilegal hingga mencemari lingkungan sekitarnya. Di kawasan Banjarbaru Utara ada dua lokasi yang dijadikan warga TPS tanpa bak. Belum lagi di Jalan Garuda dan di Sungai Ulin.
Sampah yang dibuang terkadang sampah basah hingga tak jarang mengeluarkan aroma tak sedap bagi warga sekitar ataupun lalu lintas.
Tumpukan sampah tak jarang pula dibuang sembarangan hingga ke bibir jalan, sehingga tak terangkut truk sampah.
Walaupun sudah ada yang membuat tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini” tetap saja ada yang membuangnya.
Plh Kadistako Zahedi mengakui kendala yang sering dialami dalam mengelola kebersihan kota, adalah warga yang membuang sampah tak mematuhi membuang sampah ditempat yang benar. Waktu yang ditentukan untuk membuang, yaitu malam hari juga sering dilanggar.
Padahal untuk mengangkat sampah yang tak dibuang pada tempatnya perlu tenaga dan biaya tambahan. niz 

Wednesday, August 29, 2007

Bersahabat dengan Sampah

Tuesday, 07 August 2007 02:03

Ades Hendra M
Pemerhati Lingkungan Tinggal di Jogjakarta

Pernahkah kita merenungkan bahwa sebenarnya sampah begitu dekat dengan dan dalam kehidupan kita sehari-hari? Hampir setiap aktivitas hidup kita menghasilkan sampah sebagai bagian dari proses kita mewujudkan tujuan aktivitas hidup kita. Bila kita cermati lebih jauh, ternyata dalam sehari semalam saja kita dapat menghasilkan sekian sampah. Ini baru satu rumah satu keluarga. Belum lagi jika dikalikan dengan rumah dan jumlah penduduk dalam satu wilayah, bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan dalam sehari.

Terdapat beberapa prinsip logis yang bisa diterapkan dalam keseharian, misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu: Reduce (mengurangi). Semakin banyak material digunakan, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Reuse (memakai kembali). Sebisa mungkin menggunakan barang-barang yang bisa dipakai kembali, sehingga dapat memperpanjang usia pemanfaatan barang sebelum menjadi sampah. Recycle (mendaur ulang) mengoptimalkan nilai manfaat suatu barang yang telah terpakai. Dalam tinjauan ekonomis, ini berarti penghematan. Replace (mengganti) yakni menggunakan barang-barang sehari-hari dengan barang yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan. Misalnya, memilih keranjang yang tahan lama daripada kantong plastik.

Potensi Tersembunyi
Secara garis besar, sampah dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok sampah organik, yaitu yang berasal dari alam dan mudah terurai dalam jangka waktu tidak terlalu lama oleh proses alamiah. Contohnya, sisa sayur mayur, daun-daun kering, kulit buah, kayu, sisa makanan, limbah dapur, dan lain-lain.

Kelompok kedua sampah anorganik. Sampah dari benda buatan manusia yang sulit terurai secara alamiah dan memakan waktu lama. Sampah anorganik yang dibuang ke tanah, sungai dan laut membutuhkan waktu sedemikian panjang untuk penguraiannya. Kertas dapat terurai dalam rentang waktu 3 - 6 bulan, kain 6 bulan - 1 tahun, filter rokok dan permen karet lima tahun, kayu dicat 13 tahun, nilon lebih dari 30 tahun, plastik dan logam lebih dari 100 tahun, kaca sejuta tahun, bahkan ban karet tidak bisa diperkirakan waktunya. (Intisari, Desember 2006).

Beberapa metode/kegiatan yang biasanya ditempuh dalam penanganan sampah antara lain dengan cara pengomposan, dibakar, dihancurkan, didaur ulang dan ditimbun. Kompos sangat berguna memelihara kesuburan tanah dan menjadi pasokan nutrisi bagi tanaman. Bila kompos diproduksi dalam jumlah banyak dapat dikomersialkan dengan menjualnya kepada petani, pengusaha tanaman.

Pembakaran sampah dipadukan dengan teknologi tepat guna dapat menghasilkan listrik dan energi alternatif. Sedangkan daur ulang dilakukan melalui pengolahan sampah yang tepat sehingga mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomis. Menyadari potensi besar yang tersembunyi ini, mengapa kita tidak memulai bersahabat dengan sampah?

e-mail sang_rajawali@yahoo.com


Tuesday, May 08, 2007

Geleng Kepala Lihat Sampah RSUD Ulin Kerahkan Tim Antikumuh Yudhi ‘usir’ PKL Pal 6

Rabu, 09 Mei 2007 02:24:31

BANJARMASIN, BPOST - "Lho ini semen gips untuk patah kaki, kenapa bisa dibuang di sini?," ucap Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni, sambil geleng-geleng kepala. Seorang staf RSUD Ulin yang menyertainya pun tak bisa berkata-kata lagi.

Yudhi menemukan sampah medik berserakan di lingkungan rumah sakit terbesar di Kalimantan itu. Padahal sebelumnya, Yudhi sudah mengingatkan agar pihak rumah sakit mengelola sampah medik, karena selama ini sampah produk rumah sakit itu menjadi pemicu rendahnya nilai Adipura Kota Banjarmasin.

Menanggapi temuan Yudhi tersebut, Direktur RSUD Ulin Banjarmasin dr Abimanyu dengan enteng mengatakan bahwa rumah sakit sedang melakukan pembenahan sehingga masih banyak bagian yang masih luput dari pengawasan.

"Satu hari RSUD Ulin melayani sekitar 1.500 pasien, sulit bagi kita untuk memantau terus aktivitas yang dilakukan pasien, termasuk ke mana mereka membuang sampah," kilahnya.

Ditegaskan Abimanyu, pihaknya telah membentuk tim khusus yang bertugas melakukan penanganan dan mengkoordinir masalah kebersihan. Tim ini diberi nama Tim Antikumuh, yang terdiri dari 15 tenaga sanitarian, 10 tenaga umum. "Dalam seminggu ini kita sudah menurunkan 20 tenaga kuli kasar untuk membersihkan sudut-sudut yang masih kotor," jelasnya.

Terminal Kotor

Kekecewaan Yudhi bukan hanya di RSUD Ulin. Selain banyak sampah berserakan, Yudhi menyesalkan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kembali berdagang di terminal tunggu.

"Saya benar-benar kecewa melihat kondisi terminal Pal 6, terutama PKL. Mereka sudah kita siapkan tempat di belakang, tapi kini mereka kembali menempati terminal tunggu penumpang," kesalnya.

Saking kesalnya Yudhi langsung memerintahkan Kadis Satpol PP untuk ‘mengusir’ PKL. "Kita sudah pakai cara lembut tapi mereka tak mau menghargai. Kalau perlu kita angkat dengan dagangannya," ujar Yudhi Kesal.ck6

Saturday, May 05, 2007

Predikat Kota Terkotor Kembali Mengancam

Jumat, 4 Mei 2007
Radar Banjarmasin
BANJARMASIN ,- Perhatian terhadap kondisi kebersihan dan keindahan Kota Banjarmasin kembali terfokus. Diperkirakan, memasuki minggu kedua Mei ini, hasil penilaian Adipura beberapa waktu lalu akan diverifikasi. Artinya, dalam verifikasi itu nilainya bisa bertambah, berkurang, dan tetap. Oleh karena itu, seluruh masyarakat diharapkan tetap konsisten dengan kebersihan lingkungannya.

Namun demikian, hambatan untuk meraih nilai tinggi Adipura masih dirasakan pada kurangnya pengelolaan sampah, penghijauan, dan tersumbatnya drainase. Artinya, di tempat-tempat yang strategis, tempat-tempat pembuangan sementara (TPS), masih kurang dan tak sebanding dengan volume sampah yang dibuang. Kemudian, masih terasa gersang karena kurangnya tanaman sebagai peneduh dan ruang terbuka hijau. Terakhir, tergenangnya air di jalan maupun lingkungan warga saat turun hujan atau air sungai pasang.

Menjelang verifikasi nilai Adipura di Kota Banjarmasin yang berklasifikasi sebagai Kota Besar, jajaran Pemkot Banjarmasin kembali turun ke objek-objek penilaian. Seperti membersihkan Sentra Antasari, sekolah-sekolah, puskesmas, drainase di pinggir jalan, dan lain sebagainya. Seperti kemarin, Walikota Banjarmasin HA Yudhi Wahyuni bersama Kepala Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Drs Syaidin Noor MM, Kepala Distakot Zainul Arifin MEng Sc, Kepala Bapedalda Hesly Junianto, Kasubdin Pemantauan dan Pemulihan Bapedalda Drs Hamdi, Kasubdin Prasarana Transportasi Dinas Kimpraskot Ir Gt Riduansyah S, dan staf, meninjau beberapa sekolah seperti SDN 3 dan 4 Teluk Dalam, SMPN 1 Banjarmasin, SMPN 5 Banjarmasin, SMAN 2 Banjarmasin, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1 Banjarmasin, dan SMP Sabilal Muhtadin. Banyak ditemukan TPS di sekolah yang jumlahnya kurang dan tanaman peneduh yang sedikit.

Pada kesempatan itu, Walikota HA Yudhi Wahyuni meminta pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah untuk menyediakan tempat sampah. Dan guru terus mengimbau siswanya untuk menjaga kebersihan.(yha)

TPA Belum Miliki Amdal

Jumat, 04 Mei 2007 01:45

BANJARBARU, BPOST- Dua tahun beroperasi, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga kini tak mempunyai Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Ironisnya, selain TPA, RSUD Banjarbaru juga tak memilikinya.

Padahal kedua tempat ini sangat rentan sekali dampak lingkungan yang ditimbulkan. Apalagi rumah sakit tipe C tersebut berada di tengah kota yang dikelilingi rumah penduduk.

Kepala Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Joko Hardiono mengakui, hingga sekarang TPA hanya memilik Usaha Kelola Lingkungan (UKL) dan Usaha Pemantauan Lingkungan (UPL).

"Kalau Amdal memang belum ada. Sekarang ini baru mulai kita usahakan," ucap Joko. Untuk membuat Amdal menurutnya tak bisa sembarang, karena perlu dilakukan berbagai macam uji dan beberapa kali presentasi.

Uji yang dilakukan meliputi uji tanah, uji satwa dan terhadap lingkungan sekitar.Usaha mengurangi dampak lingkungan diupayakan dengan tak menumpuk sampah begitu saja, tapi diolah dan kemungkinan dikelola pihak swasta.

Rencana pembelian alat untuk mengolah sampah langsung di TPA segera direalisasikan. "Dengan adanya alat itu diperkirakan volume sampah bisa dikurangi," urainya.

Joko menandaskan sudah memasukkan Anggaran Biaya Tambahan (ABT), yang diperkirakan menghabiskan sekitar Rp 100 juta untuk membuat Amdal tersebut.

Mengenai amdal rumah sakot, "Kalau UKL dan UPL sudah ada tapi amdalnya belum. Kita targetkan di tahun 2008 sudah ada," kata Joko. Salah satu penyebab belum dibuatnya Amdal, menurutnya karena bangunan RSUD sebelumnya masih dalam tahap perbaikan. "Jika selesai, kita segera membuatnya,"imbuhnya. mtb/ris

Friday, May 04, 2007

Warga Ancam Gugat TPA Amdal Masih Diproses

Rabu, 2 Mei 2007
Radar Banjarmasin

BANJARBARU – Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hutan Panjang di Kecamatan Cempaka sedikit mengalami masalah. Seorang warga bernama H Murni Marhanang, warga sekitar mengacam akan menggugat keberadaan TPA yang dinilai mencaplok lahan miliknya.

Bahkan, warga tersebut melalui kuasa hukumnya secara terang-terangan menyampaikan somasi (peringatan) kepada Pemkot Banjarbaru.

Dalam somasi itu, warga meminta kepada Pemkot untuk mengembalikan 3 hektare dari total 10 hektare TPA itu kepada dirinya. Pasalnya, H Murni menganggap, tanahnya seluas 3 hektare dikuasai Pemkot untuk pembuatan TPA.

Tak tanggung-tanggung, warga tersebut juga menyerahkan bukti-bukti surat segel tanah yang letaknya hanya 200 meter dari perbatasan Banjarbaru dan Kab. Banjar itu.

Selain meminta tanahnya dikembalikan, warga juga meminta untuk sementara waktu dihentikan segala proses yang ada di TPA lantaran belum memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

Dilain pihak, meski diancam bakal digugat, Pemkot tampaknya tak bergeming. Bahkan, dalam rapat kordinasi masalah TPA itu kemarin, Pemkot mempersilakan kepada warga yang memang keberatan untuk menempuh jalur hukum.

Pasalnya, sejauh ini TPA itu sendiri memang menjadi hak pakai Pemkot Banjarbaru sesuai dengan sertifikat nomor 22 dan 23 tahun 2003.

“Tak ada yang salah dalam pembangunan TPA itu. Semua dilakukan dengan prosedur yang benar dan memiliki sertifikat,” ujar Kabag Hukum, Karifli SH saat dikonfirmasi wartawan koran ini, kemarin.

Lebih lanjut, terang Karifli, Pemkot siap melandeni bila memang gugatan itu diteruskan ke pengadilan.

“Sekali lagi, Pemkot mempunyai dasar yang kuat. Terlebih lagi, pembelian lahan ini sebelumnya dari berbagai sertifikat milik warga sekitar,” imbuh Karifli.

Adanya permasalahan patok batas Banjarbaru dan Kab.Banjar, dekat kawasan TPA itu bergeser yang membuat tanah warga turut bergeser, dibantah tegas Kabag Tapem Ahmadi Arsyad.

Bahkan, terang Ahmadi Arsyad tak ada patok yang bergeser dan letak perbatasan tetap saja seperti semula.

“Tak ada yang bergeser. Semua sesuai dengan patok sebelumnya,” kata Ahmadi Arsyad.

Sementara itu, sesuai hasil rapat koordinasi kemarin diketahui bahwa Amdal TPA Hutan Panjang ternyata belum memiliki Amdal. Kabarnya, Amdal baru akan dibuat seiring ABT 2007 mendatang. (mul)


Friday, April 20, 2007

Sampah TPA Bakal di Buldozer

Sabtu, 24 Maret 2007
 
Radar Banjarnmasin

BANJARBARU – Pemkot tampaknya tak diam begitu saja mengurusi soal sampah. Pasca penilaian tim Adipura lalu, bukan berarti berhenti begitu saja. Buktinya saja, Pemkot berencana bakal membeli alat berat buldozer untuk membantu penertiban sampah di TPA Hutan Panjang, Cempaka.

“Memang ini baru rencana, tapi bila itu lebih baik dengan adanya buldozer, kita akan mengupayakan pembelian alat berat itu,” ujar Sekdakot Drs Budi Yamin kepada wartawan koran ini.

Untuk diketahui, selama ini dalam mempersiapkan penilaian Adipura, Pemkot menyewa alat berat buldozer selama 50 jam khusus digunakan di TPA Hutan Pajang. Dimana, setiap jamnya sendiri ditarif seharga Rp250 ribu.

Pun berencana membeli alat berat, Budi menegaskan semua belum merupakan keputusan final. Sebab, sesuai petunjuk dari Walikota, akan dikaji lebih dulu tingkat efektifnya dibandingkan dengan biaya menyewa beberapa waktu lalu.

Nah, bila ternyata biaya menyewa lebih murah dan efektif penggunaannya ketimbang membeli untuk jangka panjang, mau tak mau Pemkot akan memilih mana yang lebih baik.

“Prinsipnya, kita akan mengkaji dulu. Mana yang terbaik kita lakukan. Bila terpaksa kita membeli itu jauh lebih baik, ya kita usulkan pembelian. Tapi sebaliknya, bila lebih baik menyewa yang tentu itu yang kita lakukan,” terangnya.

Terpenting, tambah Sekdakot, upaya penertiban sampah khusus di TPA Hutan Panjang bisa dikelola dengan baik. Tentu dengan tindak menimbulkan masalah-masalah lainya.

“Tapi perlu diingat, semakin hari jumlah sampah yang masuk ke TPA terus bertambah banyak. Ini dibutuhkan penangannya yang serius juga agar kedepan tak menimbulkan masalah baru,” imbuhnya.

Sementara itu, sesuai pengamatan koran ini, pasca penilaian Adipura beberapa waktu lalu, tumpukan sampah masih terlihat dibeberapa TPS. Memang, tumpukan sampah itu terjadi lantaran disebabkan sikap warga yang tak mematuhi jam membuang sampah. Akibatnya, sampah dibuang seenaknya dan akhirnya tak terangkut oleh truk pembuang sampah ke TPA. Padahal jelas, bila ingin sampah dibuang ke TPS, warga harus membuang pada malam hari. (mul)

Wednesday, April 18, 2007

Batulicin Bebas Sampah

Selasa, 13 Februari 2007
Radar Banjarmasin


BATULICIN,- Sampah memang menjadi persoalan di sejumlah kota di Kalsel. Bahkan, akibat sampah tersebut, Kalsel masuk dalam lima besar sebagai salah satu provinsi terkotor di Indonesia. Tapi, tidak demikian dengan Kota Batulicin.

Di jantung kota Kabupaten Tanah Bumbu, sampah bukan menjadi momok yang menakutkan. Pasalnya, Kantor Pengelola Pasar dan Kebersihan Kabupaten Tanah Bumbu telah menerapkan pola hidup bersih kepada masyarakatnya.

“Dengan menerapkan pola hidup yang bersih, setidaknya akan mengurangi dampak buruk akibat tingginya curah hujan akhir-akhir ini,” ujar Kepala Kantor Pengelola Pasar dan Kebersihan Drs M Farhan, kepada koran ini, kemarin.

Sebagai instansi teknis yang memiliki otoritas penuh terhadap kebersihan pusat kota, pihaknya menyatakan, sejauh ini dengan sarana dan prasarana yang dimiliki telah berupaya semaksimal mungkin menciptakan kondisi pusat kota Batulicin yang bersih dan bebas sampah.

Meskipun, diakuinya, langkah yang telah dilakukan pihaknya masih belum didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Faktanya, di sejumlah titik masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan, khususnya masyarakat yang tinggal di dalam gang-gang.

Padahal ujar Farhan, instansinya telah menempatkan tiga TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di wilayah pusat kota. Dengan didukung sebanyak 135 petugas kebersihan, pengelolaan sampah di pusat Kota Batulicin sudah dapat ditangani, untuk selanjutnya dikelola di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Desa Sungai Dua Kecamatan Simpang Empat.

Sementara itu, produksi sampah masyarakat yang dikelola setiap harinya sebanyak 38 ton memang masih harus ditambah. Bahkan volume sampah meningkat pada tiga bulan terakhir karena seiring dengan datangnya musim buah.

Petugas setiap hari melakukan pembersihan sampah-sampah jalanan serta memungut sampah yang dibuang oleh masyarakat baik di TPS maupun di tepi-tepi jalan yang ditempatkan di kantongan plastik, mulai pukul 03.00 wita hingga 05.30 wita. Karena itu warga diminta untuk membuang sampah pada jam-jam sebelum petugas melakukan pemungutan yakni antara pukul 08.00 Wita hingga pukul 02.00 Wita.

“Sekali lagi kami mengimbau agar masyarakat membuang sampah pada tempat yang sudah ditentukan. Dan yang terpenting, untuk masyarakat yang membuang sampah di TPS agar membuang sampah pada jam yang telah kami tentukan,” pintanya.

Terkait datangnya musim hujan saat ini, Farhan mengimbau kepada masyarakat agar melakukan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya di sejumlah wilayah Tanah Bumbu. Cara praktis yang harus dilakukan oleh masyarakat guna menghindari dan mengurangi dampak limpahan air yang besar akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini adalah melalui penerapan pola hidup yang bersih.

“Ya itu tadi, salah satu penerapan pola hidup bersih yang harus dilakukan oleh masyarakat tersebut adalah melalui pengelolaan sampah yang baik dan benar. Kami minta kepada masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya. Jangan membuang sampah di sembarang tempat, apalagi di selokan. Karena hal itu akan memperparah kondisi lingkungan pusat kota Batulicin yang memang tata pembuangan airnya belum baik,” ujar Farhan. (kry)


Sampah Pasar Ancam Sungai Astambul

Senin, 12 Februari 2007
Radar Banjarmasin

PENATAAN PKL di Pasar Astambul berdampak serius terhadap lingkungan. Soalnya, lokasi yang dijadikan sebagai kawasan penataan tepat di pinggir Sungai Astambul. Akibatnya Sungai Astambul terancam pendangkalan akibat sampah organik.

Menanggapi ancaman tersebut, Kadis Pasar Ir Farid Soufyan mengaku tidak khawatir.

“Masalah sampah menjadi tanggung jawab Dinas Pasar. Seperti pasar-pasar lainnya, di sana melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Astambul, kami menempatkan petugas kebersihan yang setiap hari bertugas membersihkan sampah,” ujar pejabat yang lama menggeluti masalah lingkungan ini.

Soal kebersihan pasar, Farid mengungkapkan jika lokasinya akan dikeraskan dengan jalan pengaspalan.

“Mudah-mudahan tahun ini pengaspalan bisa dilaksanakan. Sehingga selain soal kebersihan, hal ini sekaligus mengatasi masalah lokasi yang jika turun hujan becek,” katanya. (yan)

Friday, April 13, 2007

Pemkot Datangkan Mesin Sampah Canggih

Senin, 5 Februari 2007

Radar Banjarmasin, BANJARBARU – Masalah kebersihan tampaknya menjadi proritas utama di Banjarbaru. Tak sekadar mengejar penilaian Adipura semata, berbagai usaha terus dilakukan untuk bisa menciptakan suasana bersih. Salah satunya dengan usaha pengolahan sampah di TPA Hutan Panjang, Cempaka. Ini wajar, setiap hari di TPA ini ada 15 truk yang selalu membuang sampah, dimana truk bisa 4-5 kali membuang.

Bila keberadaan sampah yang ada dibuang lalu ditutup, tentu tak akan memiliki nilai lebih. Merealisasikan itu, tak lama lagi Pemkot Banjarbaru akan menempatkan satu paket mesin pengolah sampah lengkap di TPA Hutan Panjang. Mesin canggih ini memiliki beberapa fasilitas. Mulai mesin pengolah (penghacur plastik), konveyor, mesin pengayak, bioktivator cair dan padat, mesin penjahit karung, alat pengemas plastikhingga mesi pencacah plastik.

“Insya Allah, sebentar lagi mesin itu akan kita datangkan. Anggarannya sendiri memang telah dimasukan, kini tinggal menunggu pembelian saja,” terang Sanusi Enani, Asisten II Pemkot kepada koran ini.

Hanya saja, Sanusi enggan menyebutkan berapa harga mesin yang baru pertama kali di datangkan ke Banjarbaru tersebut. Dengan adanya mesin itu, beber Sanusi, akan bisa memudahkan pengelolaan sampah warga Banjarbaru yang setiap harinya jumlahnya selalu bertambah.

Apalagi, sampah yang sudah diolah itu memiliki nilai jual untuk dijadikan pupuk organik.

Selama ini sendiri, terang Sanusi langkah pemisahan sampah untuk dijadikan pupuk kompos telah dilakukan warga Komplek Berlina Jaya 1 RT Jl Hercules, Landasan Ulin.

Dengan dipelopori seorang dosen MIPA Unlam Anang Hendraso, demplot sampah itu menampung seluruh sampah yang ada di lingkungan sekitar yang dipisahkan terlebih dulu lalu diolah menjadi pupuk kompos. Hasilnya, sampah yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan tanaman.

“Demplot seperti itu patut dicontoh. Kita berharap, ke depan peran masyarakat terkait masalah sampah ini benar-benar meningkat,” tandas Sanusi. (mul)


Wednesday, April 04, 2007

Sampah Siang Berserakan

Selasa, 20 Maret 2007 01:08

Banjarbaru, BPost
Usaha pemerintah kota Banjarbaru meraih tropi adipura masih perlu kerja keras. Pasalnya, sampah siang hari di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang tersebar di sudut kota masih sering tak terangkut.

Tak jarang, sampah tak berada dalam kotak TPS dan meluber ke pinggir jalan. Bau menyengat menyeruak hingga pengguna jalan yang lewat harus menutup hidung.

Upaya menyadarkan warga agar membuang sampah di mulai pukul 18.00 hingga 06.00 wita masih harus dilakukan. Sebagai contoh, TPS di kawasan Jalan Wijaya Kusuma, Banjarbaru Utara, menjelang pukul 12.00 Wita TPS masih ditumpuki sampah.

Begitu pula di TPS samping RSUD Banjarbaru, Panglima Batur Barat. Padahal jarak TPS ini cukup dekat dengan ruang IGD RSUD yang setiap orang sakit, pertama kali ditangani di ruang itu.

Warga yang membuang sampah juga tak memasukkan ke dalam kotak TPS. Ketidak disiplinan ini membuat sampah yang rata-rata sudah dalam kantong plastik, berserakan di pinggir jalan.

Kondisi ini diperparah pemulung yang mengorek-ngorek sampah dan membuka bungkusan kantong plastik. Otomatis sampah yang telah terbungkus rapi berhamburan.

Sementara pasukan kuning (petugas kebersihan) yang bertugas mengangkut sampah baru datang lagi sekitar pukul 18.00 wita. Sementara menunggu waktu sore, aroma sampah terus menyeruak ke jalan dan sekitar rumah warga.

Hal seperti ini membuat warga di kawasan tertentu tak bersedia kalau ada TPS di sekitar tempat tinggal mereka. Warga terkadang lebih memilih mengupah orang lain mengangkut sampah rumah tangganya.

Namun menjadi kebiasaan pula, kebanyakan warga turun ke tempat kerja sekaligus membuang sampah. Padahal petugas kebersihan sudah mengangkut sampah paling lambat pukul 06.00 wita.

Wakil walikota Ruzaiddin Noor mengakui kepedulian warga menciptakan kebersihan harus terus ditingkatkan. mtb/ris

Tuesday, April 03, 2007

Sampah Busuk Tak Terangkut

Kamis, 08 Maret 2007 01:24

* Warga protes

Pelaihari, BPost
Tempat pembuangan sampah (TPS) di Kurau Pasar Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut tak mampu lagi menampung sampah sejak beberapa pekan lalu. Tak hanya itu, aroma tak sedap semakin menusuk hidung dan mulai membuat warga di sekitarnya gelisah.

"Tak hanya sangat bau, tapi kondisi itu berpotensi menimbulkan penyakit. Kasihan warga, terutama empat kepala keluarga yang rumahnya berdekatan dengan TPS itu," tutur tokoh pemuda Kurau Tamjid Mukhtar, Selasa (6/3).

Tamjid berada di Pelaihari untuk menemui Kadis Kimprasda Tala guna menyampaikan keluhan warga. Namun rencananya itu gagal, karena Kadis ke luar daerah.

Humas Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat Kalsel ini membeberkan TPA tersebut dibangun akhir 2006. Jumlahnya dua unit, di Kurau Pasar dan dekat gedung pelayanan rawat inap. Plus pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Maluka Baulin.

Keberadaan TPS tersebut diakui cukup bermanfaat. Masyarakat langsung memanfaatkannya sejak selesai dibangun akhir tahun lalu. "Tapi, anehnya pengelolaannya kok tidak jelas," sebut Tamjid.

Tamjid mengaku sudah menanyakan ke pihak desa, namun mereka menyatakan tidak tahu siapa yang menangani sampah tersebut. "Kalau warga yang diminta membuang ke TPA, tidak mungkin, karena lokasinya jauh 11 kilometer. Lagipula warga tidak punya angkutan."

Ia berharap Dinas Kimprasda segera turun ke lapangan guna menangani sampah tersebut.

Keberadaan TPS itu sendiri dinilainya tidak tepat, karena sangat dekat dengan rumah warga. Contohnya TPS di Kurau Pasar.

Dikonfirmasi Kadis Kimprasda Tala H Anang Aderiani Basuni mengatakan, pembangunan TPS di Kecamatan Kurau tersebut didasarkan atas permintaan warga. "Karena itu, selanjutnya kami harapkan warga setempat yang menangani sampahnya."

Mengenai lokasi TPS yang dilaporkan sangat dekat dengan perumahan dan pembangunannya tidak pernah dikoodinasikan dengan warga, Anang mengatakan akan menindaklanjutinya. roy

Monday, March 26, 2007

Limbah Rumah Sakit Dibuang Di TPA

Senin, 19 Februari 2007 00:39

Pelaihari, BPost
Sampah yang teronggok di tempat pembuangan akhir (TPA) di Bakunci, Kecamatan Pelaihari, tak hanya berupa limbah rumah tangga dan sejenisnya. Limbah rumah sakit juga terdapat ditempat ini.

Sejumlah wartawan yang sedang meliput aktivitas pemulung di lokasi TPA yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kota Pelaihari itu terkejut ketika mennemukan sejumlah barang bekas yang merupakan limbah dari rumah sakit. Barang itu antara lain berupa botol infus bekas dan media jarum suntik.

Limbah rumah sakit itu berada di antara onggokan barang bekas (sebagian besar botol air mineral) yang dikumpulkan pemulung. Botol air mineral, terutama berupa gelas, adalah barang bekas yang paling diburu pemulung karena mudah dijual.

Diperkirakan masih banyak limbah rumah sakit yang berada di lobang-lobang sampah di TPA Bakunci. Keberadaan limbah itu berpotensi menimbulkan dampak negatif karena tergolong B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Tala Ir Zulkifli Chalid terkejut ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan limbah rumah sakit di TPA. "Masa? Ada ya? Wah, itu nggak boleh. Limbah rumah sakit tak boleh dibuang di TPA karena termasuk B3," katanya.

Menurutnya, memang ada sebagian limbah rumah sakit yang boleh di buang ke TPA yaitu limbah dari dapur umum. Selebihnya, barang-barang bekas medis (botol infus, jarum suntik, dan lainnya) tidak boleh dibuang ke TPA.

"Limbah medis itu harus ditangani dengan alat tersendiri oleh pihak rumah sakit. Tapi, saya dengar alatnya (incenerator) rusak," ucap Zulkifli.

Dikonfirmasi via telepon, Plt Direktur RSUD Hadji Boejasin H Abdullah tak menepis pembuangan limbah medis ke TPA Bakunci. "Ini terpaksa kami lakukan karena incenerator rusak sejak kebakaran beberapa waktu lalu."

Incenerator adalah alat/tempat pembakaran sampah. Harganya cukup mahal mencapai ratusan juta. Saat ini mungkin harganya berkisar Rp300 juta.

Pihaknya, jelas Abdullah, tahun ini telah mengajukan usulan untuk pengadaan alat tersebut. Usulan ini diharapkan terakomodasi dalam APBD 2007 sehingga sampah medis tidak lagi dibuang ke TPA.

"Mudah-mudahan sekitar bulan Juni mendatang incenerator itu sudah terbeli. Jadi, mulai saat itu sampah medis kita masukkan ke incenerator," jelas Abdullah.roy

Pengelolaan Sampah Belum Standar

Sabtu, 17 Februari 2007 01:30

* Ditimbun tanpa perlakuan

Pelaihari, BPost
Sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) di Bakunci mulai tertata dan tidak lagi berhamburan. Namun pengelolaannya masih jauh dari standar yang diinginkan.

"Pengelolaan sampah di TPA Bakunci saat ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tapi yang masih kurang penanganan sampah di lobang timbunan,"kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup Zulkifli Chalid.

Menurut Zulkipli Kamis (15/2), lobang sampah yang penuh langsung ditutup tanah. Padahal, mestinya harus ada perlakuan. Setidaknya penimbunan secara bertahap dengan material tanah tiap tumpukan sampah mencapai ketebalan tertentu.

"Ketika tumpukan tebalnya sudah 40 sentimeter, harus ditimbun dengan tanah dengan tebal 20 sentimeter. Kemudian ditumpuki sampah lagi, lalu ditimbun tanah. Begitu seterusnya hingga lobang sampah penuh," beber Zulkifli.

Perlakuan sederhana itu antara lain untuk menciptakan kondisi aerob. Dengan begitu proses dekomposisi (pembusukan) berlangsung lancar dan lebih cepat. Lobang sampah yang penuh, jelas Zulkifli, tidak bisa langsung ditimbun begitu saja.

Harus dibuatkan lobang udara dengan menggunakan sejenis pipa guna mengalirkan gas metan (hasil proses dekomposisi). Tanpa adanya lobang udara, timbunan sampah berpotensi akan meledak. Karena itu pembuatan lobang udara penting sampai menyentuh hingga dasar timbunan.

Secara umum, Zulkifli menilai pengelolaan sampah di TPA Bakunci cukup baik.Ini antara lain terlihat dari pembuatan lobang-lobang timbunan sampah yang cukup dalam dan teratur, pembuatan sumur kontrol, pos penjagaan, dan gapura pintu masuk. roy