Label Cloud

Showing posts with label Sampah dan Kebersihan. Show all posts
Showing posts with label Sampah dan Kebersihan. Show all posts

Friday, July 18, 2008

Hutan Pinus Terancam Warga Buang Sampah Sembarangan

Selasa, 1 Juli 2008

,-

BANJARBARU – Ini peringatan bagi warga Banjarbaru. Kalau ingin keberadaan hutan pinus yang terletak di Kelurahaan Mentaos Banjarbaru tetap terjaga, prilaku buang sampah sembarang di kawasan itu harus dihentikan. Bagaimana tidak, akibat aksi buang sampah sembarang warga, kini kondisi hutan terkesan kotor. Padahal, jauh sebelumnya sebagian kawasan hutan pinus itu telah dikelola pemanfaatannya oleh PDAM Intan Banjar.

Tak hanya sikap warga yang buang sampah sembarangan, di bagian pinggir timur ada sejumlah pohon yang ditebang warga. Bahkan, beberapa areal yang ada dijaplok untuk dijadikan kawasan perumahaan.

Melihat kondisi itu, Gubernur Kalsel Drs Rudy Ariffin yang kebetulan lewat di areal hutan pinus itu mengaku prihatin. Orang nomor satu di Kalsel itu meminta warga baik itu di Kota Banjarbaru maupun Kab. Banjar untuk bersama-sama menjaga satu-satunya paru-paru kota yang didalamnya hutan pinus.

“Hutan pinus tak hanya kebanggaan Banjarbaru dan Kab. Banjar saja. Tapi, juga milik Kalsel. Ini harus dijaga dan jangan dirusak,” kata Rudy Ariifin dalam puncak HUT PDAM Intan Banjar, Minggu (29/7) kemarin.

Rudy secara tersirat mengungkapkan, keberadaan hutan pinus harus dijaga dan dikelola dengan baik tanpa harus ada penebangan. Selain itu juga, Rudy mengungkapkan bila bisa dikelola dengan baik, keberadaan hutan pinus juga bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Senada dengan Gubernur itu, Direktur PDAM Intan Banjar Drs Rifqie Basri mengatakan hampir setiap hari sampah dibuang sembarangan oleh warga. Pun selanjutnya dibersihkan, namun pola buang sampah warga itu secara langsung merusak keindahan dan tentunya keberadaan hutan pinus sendiri.

“Sudah saatnya, hutan pinus ini kita selamatkan. Ini satu-satunya aset hutan lindung kita di tengah kota. Warga harus peduli dan menjaga hutan pinus ini,” kata Rifqie.

Sekadar diketahui, saat ini keberadaan hutan pinus memang cukup dilematis. Bagaimana tidak, hutan yang sebenarnya terletak di wilayah Banjarbaru itu, saat ini pengelolaanya dilakukan Pemkab Banjar dan akhirnya dikelola PDAM Intan Banjar. (mul)

Banjarmasin Lepas dari Predikat Kota Terkotor

sabtu, 12 Juli 2008 | 00:41 WIB

BANJARMASIN, JUMAT - Tekad Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin keluar dari predikat kota terkotor di Tanah Air dengan melakukan berbagai pembenahan membuahkan hasil. Peringkat kota Banjarmasin membaik.

"Dari hasil evaluasi tim Adipura tahun 2008, Banjarmasin berada di urutan ke-13 atau membaik dari tahun sebelumnya," kata Wali Kota Banjarmasin Haji Yudhi Wahyuni sebagaimana yang disampaikan Kepala Dinas Infokom setempat, Drs Bambang Budiyanto, kepada pers di Banjarmasin, Jumat (11/7).

Menurutnya, membaiknya penilaian tim Adipura terhadap Kota Banjarmasin tak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan Pemkot Banjarmasin dan masyarakat, serta lembaga swasta dan lembaga pemerintahan lainnya, termasuk lembaga perbankan yang beroperasi di kota dengan julukan kota seribu sungai tersebut.

Upaya melakukan penataan dan penertiban kawasan yang semrawut, melakukan aksi bersih bersama, penghijauan oleh warga secara sukarela, serta pembenahan sistem drainase dan persampahan hingga kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa itu kini kian asri dan bersih.

Menurut walikota, pihaknya akan menggerakkan usaha gotong-royong untuk melakukan penanaman pohon penghijauan di lokasi strategis, terutama di ruang terbuka untuk memberikan keteduhan dan kenyamanan di lokasi tersebut.

Bahkan dalam upaya penghijauan tersebut, pihak Pemkot Banjarmasin juga menanam jenis buah langka khas Kalsel, sekaligus sebagai upaya pelestarian plasma nutfah Kalsel itu.

Yudhi Wahyuni berharap, seluruh lembaga perbankan yang ada di kota ini ikut melibatkan diri dalam upaya kebersihan dan keindahan kota. Semua pemilik pertokoan diharapkan menanam pohon di depan pertokoan agar lebih teduh dan nyaman saat berkunjung ke pertokoan tersebut.

Berdasarkan catatan, Kota Banjarmasin pernah menduduki peringkat sebagai kota terkotor kedua setelah Tangerang dalam penilaian tim Adipura, tapi setelah berbagai upaya kebersihan dan penghijauan, Banjarmasin berhasil lepas dari julukan itu. (ANT)

Wednesday, June 18, 2008

Sampah Hutan Ganggu Warga

Senin, 19-05-2008 | 01:03:40

BANJARBARU, BPOST - Kesegaran dan keindahan panorama Hutan Pinus di Kawasan Mantaos Banjarbaru, terancam pupus. Wajah hutan kebanggaan masyarakat Kota Idaman-Martapura, kini semakin suram dan terpuruk oleh timbunan sampah di mana-mana.

Ibaratnya, tak lagi seperti tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Malah sudah seperti tempat pembuangan akhir (TPA). Hutan Pinus yang masuk dalam pengelolaan kabupaten Banjar bekerjasama dengan PDAM Intan Banjar ini berubah menjadi hutan sampah.

Puluhan titik timbunan sampah bertebaran di dalam lingkungan hutan sebagaimana di TPA Hutan Panjang, Gunung Kupang Banjarbaru. Sekarang, tak hanya lingkungan dan potensi hutannya yang terancam. Bahkan, ratusan warga yang bermukim di sekelilingnya pun mulai merasakan dampak pencemaran.

Siang malam, indra penciuman mereka dipaksa menerima bau menyengat sampah. Ditambah lagi tebaran lalat sampah yang berseliweran menghinggapi rumah warga dan menebarkan ancaman berbagai bibit penyakit.

Pantauan Metro, Minggu (18/5) siang kemarin, tebaran sampah paling parah berada di deret Jalan Pinus II ujung. Sejumlah pemulung menggunakan gerobak dan sepeda motor, terlihat mengais sampah. Di sana sudah disediakan satu titik TPS dalam bentuk kontainer oleh Distako Banjarbaru sebagai penampungan sampah masyarakat.

Tapi kondisi yang terjadi sampah justru bertebaran di luar TPS. Bahkan tumpukan banyak menjalar di dalam hutan. Selain di titik Pinus II, tumpukan sampah juga mengepung hutan pinus sekitar Kompleks Griya Meranti Asri I dan Kompleks Meranti Griya Asri II.

Titik buangan sampah liar mengepung nyaris di semua titik akses jalan. Jumlah timbunan sampah mencapai puluhan titik. Mulai Jalan Pinus II Ujung, Jalan Komet, Perumahan Pinus Lama, dan Kompleks Maranti Griya Asri.   

Edi (35) warga Jalan Pinus II Ujung, RT4 RWII Kompleks Sumber Indah, yang rumahnya paling dekat dengan titik tumpukan sampah, mengaku seperti sudah habis upaya mengatasi permasalahan sampah ini. Kondisi paling parah diakui sudah berlangsung dua bulan terakhir ini.

“Siang malam bau sampahnya sangat mengganggu. Lalat-lalat sampahnya juga. Sudah dua bulan ini sampahnya semakin banyak,” aku Edi.

Hasil penelusuran, berdasarkan pengakuan warga sekitar, pada waktu-waktu tertentu ada aktivitas pembuangan sampah dengan menggunakan mobil, truk ataupun gerobak-gerobak. Waktunya kebanyakan mengambil tengah malam sampai dinihari.

Dirut PDAM Intan Banjar, Rifqie Basri, ketika dikonfirmasi mengakui, pihaknya banyak mendapat laporan adanya aktivitas pembuangan sampah ilegal oleh mobil, truk ataupun gerobak.

Untuk penanganannya, diakui PDAM masih menunggu surat resmi pengelolaan hutan Pinus dari pemkab Banjar. Namun untuk permasalahan penanganan sampah, PDAM proaktif melayangkan surat ke Distako Banjarbaru.

“Kita saat ini masih menunggu surat resmi pengelolaan Hutan Pinus dari Pemkab Banjar. Tapi untuk penanganan sampah, kita sudah melayangkan surat koordinasi ke Distako Banjarbaru. Rencananya dibuat portal supaya truk, mobil ataupun gerobak tak bisa lagi masuk hutan membuang sampahnya,” ucap Rifqie. (MTB/sar/esy)
Ulah Orang Luar

MAKSUD baik tak selamanya diterima baik. Demi menjaga lingkungan hutan dan pemukiman bebas dari tebaran sampah, Freit Sularso (45), justru berhadapan dengan tekanan dan ancaman dari pihak yang tak suka dengan aksi bersih sampah itu.

“Saya sempat diajak berkelahi oleh orang luar. Ia saya tegur karena sembarangan membuang sampah di lingkungan hutan Pinus kawasan kompleks kami. Tenyata responnya malah marah dan mengajak berkelahi,” ucap ketua RT 4 RW II Komplek Sumber Indah Jalan Pinus Indah II, Mentaos ini.

Perselisihan kecil itu untungnya tak berlanjut. Freit merespon bijak tak melayani emosi orang yang menentangnya. Baginya itu resiko yang mau tak mau harus diterima. Warga kompleks diakui sangat mendukung langkah pembenahan masalah sampah. Bahkan tiap bulan rutin bergotong royong. Namun tidak dengan warga dari luar yang tak mengerti dampak sampah bagi pemukiman sekitarnya.

“Yang penting niat kita baik. Terserah orang menganggapnya bagaimana. Masalah sampah memang menjadi masalah terberat bagi kami yang tinggal sekitar Hutan Pinus. Ada TPS kontainer, tapi orang-orang luar justru membuang sembarangan sampai ke hutan,”ucapnya prihatin.(MTB/sar)

36 Ton Sampah Menumpuk Tiap Hari

Minggu, 27-04-2008 | 00:35:25

•  Lahan TPA Kian Menyempit

BANJARBARU, BPOST - Pesatnya pertumbuhan permukiman dan penduduk di Banjarbaru berdampak signifikan terhadap tingginya produksi sampah rumah tangga dan pasar.

Saat ini armada truk sampah yang dikelola Dinas Tata Kota (Distako) Banjarbaru, setiap hari sedikitnya mengangkut 30 ton sampah dari ratusan TPS ke tempat pembuangan akhir (TPA) Hutan Panjang di kawasan Gunung Kupang, Kelurahan Cempaka, Banjarbaru.

Produksi sampah ini dinyatakan jauh lebih meningkat bila dibanding tahun-tahun sebelumnya yang tak lebih dari separonya.

Akibatnya, lahan TPA (tempat pembuangan akhir) Gunung Kupang, kian menyempit. Dari 10 hektare yang dibuka, saat ini sudah terisi setengahnya atau 5 Ha.

Berdasarkan data Distako Banjarbaru, sedikitnya ada 168 titik TPS yang tersebar dalam bentuk bak kayu, beton dan kontainer. Lokasinya di kompleks perumahan, pinggiran jalan strategis, fasilitas umum, taman kota ataupun pasar.

Sampah di ratusan TPS tersebut diangkut oleh sepuluh dumtruk dan tiga truk bak kontainer ke TPA Gunung Kupang. Di antara truk tersebut ada yang beroperasi dua kali.

"Kalau dihitung, rata-rata sehari 18 kali pengangkutan sampah oleh truk ke TPA," kata Kabid persampahan Distako Banjarbaru Noor Ramlan. Menurutnya, bila dihitung volume sampah yang terangkut ke TPA dalam sehari, satu truk paling sedikit menampung 6 meter kubik atau sekitar 2 ton sampah.

Bila 18 kali pengangkutan, sehari berarti ada 36 ton sampah yang masuk ke TPA. Ramlan memperkirakan, dua tahun ke depan lahan TPA tak bisa lagi menampung sampah. Apalagi TPA tersebut hanya berfungsi sebagai tempat penumpuhan tanpa diolah sehingga tak ada pengurangan. Praktis limbah sampah terus menggunung. (MTB/sar)
Harusnya Diolah

TAK ada pengolahan limbah sampah, membuat sampah di TPA Hutan Panjang Gunung Kupang terus menggunung. TPA ini hanya sebagai tempat penumpukan.

Truk mengambil sampah di TPS, kemudian sampah dibongkar ke TPA. Sampah cuma ditumpuk. Tak ada proses pemisahan sampah anorganik dan organik. Tumpukannya menyatu sehingga tak bisa diolah.

Yunan (35), warga Sungai Ulin Banjarbaru sangat menyesalkan penumpukan tu. "Kenapa tak diolah. Padahal sampah ini bisa jadi potensi pendapatan daerah," kritiknya.

Menurutnya, setidaknya ada dua kerugian bila sampah dibiarkan menumpuk begitu di TPA tanpa ada pengelolaan limbah yang bermanfaat.

Sampah terus menumpuk dan praktis memakan lahan sebagaimana yang terjadi sekarang. Potensi nilai ekonomi sampah juga tak bisa didapat karena tak dikelola serius dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.

"Sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos. Ini jelas bernilai jual. Plastiknya, bisa didaur ulang. Itu artinya, volume sampah bisa berkurang. Jadi dengan pengolahan limbah, masalah keterbatasan lahan bisa diatasi lagi pula bisa menghasilkan pendapatan bagi daerah," katanya. (MTB/sar)

Tuesday, June 17, 2008

Buang Sampah Denda Rp 2,5 Juta

Kamis, 27-03-2008 | 00:21:13

MARTAPURA, BPOST - Upaya Pemkab Banjar menjaga kebersihan kota setelah mendapat penghargaan Adipura dua tahun berturut-turut terus dipertahankan. Bahkan, pemkab tengah menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang kebersihan kota.

Salah satu isi dari perda itu adalah mengenakan denda Rp 2,5 juta atau pidana kurungan tiga bulan kepada pembuang sampah sembarangan.

Bupati Banjar, HG Khairul Saleh mengatakan, perda itu kini sedang digodok di bagian sekretariat daerah Pemkab Banjar. Beberapa pihak juga sedang melakukan sosialisasi mengenai pemberlakuan perda ini kepada masyarakat dan para pedagang di pasar.

"Nanti kawasan pasar harus bersih dari sampah. Barang siapa yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan di pasar akan didenda maksimal Rp 2,5 juta," kata Khairul Saleh.

Menurutnya, perda ini dibuat selain untuk menjaga kota tetap bersih juga untuk menjalankan perintah agama Islam. Menurutnya, sebagai Kota santri, seharusnya Martapura bisa menjadi contoh bagi kebersihan.

Sementara, Sekda Pemkab Banjar, Yusni Anani, mengatakan, perda itu kini sedang digodok. Mengenai kapan pemberlakuan perda ini, hal itu tergantung dari penetapannya bersama dengan Dewan Banjar. Selain itu, agar masyarakat tidak kaget, perda itu juga harus gencar disosialisasikan kepada masyarakat. (sig)

Saturday, February 23, 2008

Petugas Kebersihan Mogok Kerja

Selasa, 15 Januari 2008

Menuntut Tunjangan Mereka Dibayarkan

Radar Banjarmasin
BANJARBARU – Kota Idaman bakal jadi kota kotor, jika ancaman 300-an petugas kebersihan benar-benar terbukti. Pahlawan lingkungan itu mengancam akan mogok kerja jika dana tunjangan kinerja (di luar insentif) sebesar Rp100 ribu per bulan (selama tiga bulan) tidak dibayarkan.

Menariknya tuntutan mogok kerja berjamaah ini mereka buktikan dengan mengenakan pakaian resmi kuning-kuning serta berkumpul rame-rame di depan balai kota dan menolak membersihkan sejumlah tempat. ”Hari ini kami libur. Yang dibersihkan hanya lapangan DR Murdjani, itupun karena pesanan pemilik even pameran yang sudah membayar honornya,” tegas seorang petugas kebersihan yang minta namanya tak disebutkan.

Disampaikan sumber tersebut, ratusan petugas kebersihan sangat kecewa lantaran penghasilan mereka sebagai tenaga kontrak yang dibayar di bawah Upah Minimum Regional (UMR) atau hanya Rp325 ribu per bulan terus ditekan harus kerja maksimal. “Penghasilan sebulan kami sangat minim yakni Rp325 ribu saja per bulan, mana cukup untuk hidup? Makanya tambahan penghasilan diharapkan dari tunjangan sebesar Rp100 ribu per bulan itu,” ungkapnya kepada koran ini.

Ditambahkannya, dia dan ratusan teman-temannya akan mogok kerja kalau tuntutan itu tidak dipenuhi sampai beberapa hari ke depan.”Jika tak ada kejelasan kami akan mogok kerja, biarkan saja Banjarbaru jadi kotor,” ucapnya disambut koor setuju oleh ratusan paskun lainnya.

Jasuli, pengawas kebersihan yang membawahi sedikitnya 140 pekerja kemarin juga tak sanggup menahan luapan emosi ratusan anak buahnya itu. Saat terik matahari pukul 10.00 WITA di tengah kerumunan ratusan paskun, Jasuli hanya bisa mendengarkan keluhan-keluhan paskun.

”Saya berupaya menenangkan anak buah saya, tetapi sepertinya sangat sulit. Saya yakin tak ada provokator dibelakang mereka, sebab semuanya seragam menuntut pembayaran insentif Rp100 ribu per bulan selama tiga bulan,” katanya

Jasuli yang mengabdi 24 tahun di bagian kebersihan ini akhirnya terpaksa hanya menenangkan agar anak buahnya tidak berbuat anarkis.

Plt Kadistakot, Zahedi MF dikonfirmasi di ruang kerjanya, mengakui terjadi kesalahan terhadap perhitungan keuangan di jajarannya. Kesalahan itu baru diketahui setelah pembayaran tunjangan dikeluarkan bagi 300-an paskun selama 10 bulan atau terakhir bayar, Oktober 2007 lalu. ”Seiring keluarnya Permendagri No 13 Tahun 2006 kami tak lagi berani melanjutkan pembayaran tunjangan kepada paskun ( bagian taman dan kesehatan lingkungan),” ujarnya.

Dalam Permendagri itu, terang Zahedi, disebutkan larangan membayar penghasilan ditambah tunjangan kinerja kecuali bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT).

Sementara, petugas kebersihan di lingkungan distakot itu mayoritas bukan PTT tetapi tenaga kontrak ”Kami salah membayar selama 10 bulan kepada tenaga kebersihan berstatus kontrak kerja. Yang tentunya dana dibayarkan itu merupakan 'jatah' bagi PNS dan PTT,” terangnya setelah melakukan rapat terbatas bersama kasi, kabid dan pengawas kebersihan di ruang tertutup.

Oleh karena itu Zahedi mengaku tak dapat berbuat banyak ketika dituntut petugas kebersihan yang meminta dibayarkan tunjangan sebesar Rp100 ribu per bulan untuk Oktober 2007-Januari 2008.

Disinggung langkah konkrit jika ancaman mogok kerja petugas kebersihan terbukti, Zahedi akan berupaya melakukan koordinasi ke tingkat atas di lingkungan setdakot.”Hari ini (kemarin) saya menghadap pimpinan, semoga ada solusi sehingga tidak terjadi gejolak,” katanya.

Dikaitkan pendapatan paskun jauh dibawah UMR, Zahedi lebih memilih tak banyak komentar.”Saya benar-benar terjepit,” ucapnya. (uni)

]

Distakoberpar Kekurangan Armada Sampah

Senin, 14 Januari 2008

Minta Tambahan Truk Sampah Baru

Radar Banjarmasin
AMUNTAI – Sampah dimanapun selalu menjadi persoalan, meski hanya terbilang kota kecil ternyata soal sampah masih menyisakan masalah di Kota Bertakwa ini. Setidaknya hal ini dirasakan oleh Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pariwisata (Distakoberpar) HSU dalam hal mengangkut dan menampung sampah di kota ini. Kenyataannya kondisi di lapangan masih banyak sampah yang terkumpul di TPS tidak bisa terangkut karena masih minimnya armada alat angkut yang dimiliki dinas bersih-bersih kota Amuntai ini.

“Dari total 72 meter kubik sampah yang dihasilkan per-harinya di kota ini, kenyataannya yang bisa terangkut hanya 42 meter kubiknya saja,” ujar Kepala Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pariwisata HSU, H Ahmad Musaddik SSos kepada koran ini. Ini, akunya, disebabkan jumlah kendaraan angkutan sampah hanya bisa beroperasi 1 kali berangkat dalam 1 hari. “Sehingga sampah yang dibuang pada siang hari tidak terangkut lagi,” ujarnya lagi.

Masalah lainnya, ujar Musadik, juga disebabkan oleh minimnya jumlah armada yang dimiliki dinas yang dipimpinnya ini sangat terbatas. Saat ini, hanya 9 unit truk angkut sampah yang ada. “Itupun hanya 6 unit yang dapat dioperasionalkan secara optimal,” keluhnya. Parahnya lagi, 2 unit armada sampah sudah berumur 15 tahun lebih semenjak digunakan. “Itu artinya lagi hanya 4 buah armada sampah yang bisa digunakan full,” sebutnya.

Kendati begitu, mengingat pentingnya angkutan sampah di kota ini guna memaksimalkan angkutan pada siang hari yang tidak terangkut, Musaddik berharap pada tahun 2008 nanti truk sampah bisa turut dianggarkan. “Kondisi ini bisa diantisipasi dengan cepat,” ujarnya berkemauan.

Sekedar untuk diketahui, Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pariwisata HSU mendapatkan armada truk sampah hanya dari bantuan Pemerintah Pusat dan Provinsi. Itu pun sudah dipergunakan sejak dari daerah tahun 1994 dan yang terbaru pada 1997 lalu. Ia berharap pada tahun depan angkutan sampah bisa ditambah demi peningkatan pelayanan publik dibidang kebersihan. (bie)

Wednesday, February 20, 2008

Pasukan Kuning HST Jadi Pemulung : Hasilkan Rp 63 Juta Setahun dari Sampah

Rabu, 13-02-2008 | 00:25:20

BERGELUT dengan sampah. Inilah keseharian pekerja yang tergabung dalam pasukan kuning, sebutan untuk petugas kebersihan. Namun tak ada yang mengira kalau dari hasil pekerjaan tersebut mereka bisa menghasilkan uang puluhan juta setahun. Tapi pasukan kuning di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), membuktikannya.

Di bawah Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH), petugas yang berjumlah 100 orang, dengan jam kerja 3 sampai 4 jam sehari ini dibina agar menghasilkan uang tambahan, selain honor Rp 450.000 per bulan.

Ya, mereka menjadi pemulung. Selain memungut sampah, mereka mendaur ulang sampah yang dikumpulkan. Dari hasil pemisahan sampah organik dan anorganik setiap hari,mereka mengumpulkan 33 ton sampah setahun. Sampah itu terdiri dari kardus, botol, dan plastik.

Dari hasil 33 ton, setelah dijual ke pengumpul barang bekas, mereka bisa mendapatkan uang Rp 63 juta. Kepala BPLH HST, H Sabirin Tuganal, ditemui disela pelantikan pejabat belum lama tadi mengatakan, uang sekitar Rp 63 juta itu 100 persen untuk tambahan penghasilan mereka, yang dibagi rata dengan sesama petugas yang ikut pengumpulan sampah tersebut.

Keberadaan mesin Komposting di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA), secara tak langsung membantu mereka memisahkan sampah yang bisa dijual, seperti kardus, botol, dan plastik dengan sampah yang bisa diolah menjadi kompos.

Tujuan akhir dari pekerjaan sampingan tersebut terang Sabirin, tidak lain bagaimana agar sampah yang terkumpul dari 117 tempat pembuangan sampah sementara (TPS) bermanfaat sebesar-besarnya. "Masalahnya volume sampah kita mencapai 116 kubik perhari," ujarnya. Mengenai jumlah petugas kebersihan yang hanya 100 orang di menurut Sabirin masih perlu ditambah. Dengan meningkatnya volume sampah setiap tahun, idealnya jumlah pasukan kuning 125 orang.

"Sekarang HST punya stadion, otomatis tenaga kebersihannya perlu ditambah. Kita usulkan tahun 2009 ada penambahan,"ujarnya. (yud)

Gaji Pasukan Kuning Dibayar

Minggu, 10-02-2008 | 00:33:22

AMUNTAI, BPOST - Janji Dinas Tata Kota dan Kebersihan, Kabupaten Hulu Sungai Utara akhirnya membayar gaji puluhan petugas kebersihan yang terlambat dibayar selama dua bulan, Jumat (8/2).

Puluhan petugas kebersihan yang sejak pukul 09.00 Wita telah berkumpul tampak gembira menerima rapelan gaji yang dibagikan oleh staf bendahara di kantor tersebut.

Selain menerima gaji, mereka juga menandatangani kontrak kerja berikutnya.

“Hari ini pembayaran gaji petugas kebersihan yang tertunda dua bulan ini kami bayarkan sesuai tanggungjawab kerja masing-masing dan besaran gaji yang diterima plus kenaikan gaji seperti dijanjikan sebelumnya,” ujar Syahrir, pjs kadistako.

Sebelumnya petugas kebersihan protes ke kantor distako, karena pembayaran gaji Januari dan Februari 2008 terlambat dibayar. Pejabat distako beralasan keterlambatan karena perubahan sistem pengelolaan anggaran keuangan.

Sebelumnya, gaji petugas kebersihan masuk dalam pos anggaran rutin pembayaran gaji tenaga honorer dan non PNS. Karena APBD 2008 baru disahkan, sehingga untuk pencairan dana butuh waktu penyesuaian.(ori)

Libur, Sampah Tak Terangkut

Jumat, 08-02-2008 | 00:35:15

BANJARBARU, BPOST - Penanganan sampah di Kota Banjarbaru masih menyisakan banyak permasalahan. Terbukti, di kota yang telah merebut piala adipura kedua se Kalsel tetap ditemukan sampah tak terangkut saat libur.

Pada akhir pekan dan tanggal merah seperti Kamis (7/2), saat libur imlek banyak sampah berserakan tak terangkut. Pantauan BPost, sejumlah Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang tersebar di sudut kota masih dipenuhi sampah. Seperti tampak di Jalan Mistar Cokrokusumo. Tepat di depan Citra Banjarbaru (CB) Plasa sampah tampak menumpuk.

Bau menyengat menyeruak, sehingga banyak pengguna jalan yang melintas harus menutup hidung akibat aroma tak sedap. Semakin siang, ketika tiba hari libur atau di awal pekan, bukannya bertambah sedikit, sampahnya justru semakin menumpuk, karena belum sempat sampah yang ada terangkut, sampah tambahan datang lagi.

Akibatnya, sampah meluber ke pinggir jalan. “Apa karena kemarin libur dan hari ini belum bisa diangkut? Sampahnya sudah siang masih saja berserakan,” ujar Agus, warga Jalan Mistar Cokrokusumo.

Tak hanya di Jalan Mistar Cokrokusumo, tumpukan sampah juga terlihat. Pemandangan serupa juga masih ditemui di TPS samping RSUD Banjarbaru, Panglima Batur Barat. (niz)

Tuesday, January 08, 2008

TPA Hutan Panjang Tanpa Amdal

Sabtu, 8 Desember 2007
Radar Banjarmasin

BANJARBARU – Jangan heran bila Anda melihat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hutan Panjang sejauh ini ternyata belum mempunyai Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Tak mengherankan jika berkali-kali dalam penilaian Adipura, Amdal TPA sedikit dipertanyakan meski sejauh ini pengelolaan sampah TPA sudah berjalan cukup bagus. Namun, biar bagaimanapun sesuai dengan ketentuan, sudah menjadi kewajiban di atas areal 5 hektare diwajiban untuk menyiapkan Amdal-nya.

Mengetahui asetnya belum mengantongi Amdal, Walikota Banjarbaru Drs Rudy Resnawan pun meminta kepada instansi yang terkait untuk secepatnya melengkapi Amdal sebagai persyaratan mutlak yang harus dipenuhi.

“Kita teriak-teriak Amdal, nyatanya punya kita sendiri belum punya Amdal. Kita harus malu dan secepatnya harus kita siapkan. Semoga pada 2008 mendatang, amdal-nya sudah ada,” kata Rudy.

Menurut Rudy, keberadaan Amdal sangat dibutuhkan untuk mengetahui apakah sejauh ini keberadaan TPA memang benar-benar sesuai dan tidak mengganggu masyarakat. Meski sebenarnya, sampai saat ini keberadaan TPA Hutan Panjang dianggap telah layak sebagaimana kajian yang telah dilakukan intansinya.

Rudy pun juga menaruh keyakinan, bila Amdal-nya sudah disiapkan, ke depan pengelolaan TPA akan jauh lebih baik.

“Pengelolaan TPA menjadi perhatian serius, tak hanya semata untuk penilaian Adipura saja, namun lebih besar itu untuk menampung dan mengolah sampah warga yang setiap hari terus bertambah jumlahnya,” terang Rudy.

Tak hanya Amdal TPA saja, pada 2008 mendatang Rudy juga meminta instansi yang ditunjuk juga menyiapkan UKL/UPL untuk rencana pembangunan pasar baru di kawasan Landasan Ulin serta juga RSUD Banjarbaru.

Secara terpisah, Kepala Distam LH Drs Burhanuddin mengungkapkan, instansinya memang ditunjuk untuk mengurus keperluan Amdal dan sudah dianggarkan pada tahun 2008 mendatang.

“Semua sudah kita siapkan dan sudah kita ajukan pada 2008 mendatang. Baik itu Amdal TPA, maupun UKL/UPL pasar baru yang nanti dibangun di Landasan Ulin,” kata Burhanuddin. (mul)

Drainase Dipenuhi Sampah Lagi

Kamis, 6 Desember 2007
Radar Banjarmasin

KESADARAN para pedagang untuk menjaga kebersihan di pasar Martapura sepertinya masih sangat rendah. Buktinya, drainase di Jl Sasaran, tepatnya samping Masjid Agung Al Karomah Martapura tidak pernah bersih dari sampah, meski sering dibersihkan petugas.

Pantauan koran ini di lapangan, drainase yang berdempetan dengan pagar masjid ini, selalui saja dipenuhi sampah-sampah hasil limbah pedagang. Meski sering mendapat pembersihan dari petugas, namun sampah-sampah terus bertambah setiap hari. Hal ini seiring dengan menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di lokasi ini.

Kebanyakan sampah adalah plastik, yang biasa digunakan sebagai pembungkus bahan belanjaan, namun tidak jarang pula sampah sisa limbah dagangan milik PKL yang biasa mangkal di lokasi ini, seperti bekas sayuran dan buah-buahan.(spn)

500 Tong Sampah Hasilkan Kompos

Selasa, 4 Desember 2007
Radar Banjarmasin

AMUNTAI – Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pariwisata HSU bakal punya program ramah lingkungan terbaru. Saat ini, instansi yang menangani bersih-bersih kota ini, sudah menyiapkan program penyehatan lingkungan dengan menyediakan sedikitnya 500 buah tong sampah pengolah kompos.

Dalam waktu dekat ini, pengolahan sampah menjadi kompos ini segera digarap Distakpar HSU. “Saat ini tinggal memberikan pelatihan kepada mereka yang ditunjuk di tiap lingkungan tempat tinggal, siapa-siapa saja yang mengelola tong-tong sampah tersebut,” ujar Kadistakpar HSU, Ahmad Musaddik SSos kepada koran ini.

Recana ini bakal berhasil, ujarnya, bila didukung oleh seluruh warga pengguna tong sampah khusus pembuatan kompos tersebut. “Caranya dengan memisahkan sampah organik dan non organik, nantinya pada prosesnya didalam tong sampah tersebut, sampah organik akan secara alami membusuk dan menghasilkan kompos, sementara sampah non organiknya akan diangkut,” ujar Musaddik.

Manfaat ganda akan diperoleh pada tong sampah penghasil kompos ini. Selain mengurangi beban angkut armada sampah di Kota Bertakwa ini, komposnya bisa langsung dimanfaatkan warga. “Apalagi sekarang ini, kebutuhan kompos untuk tanaman bunga yang dimiliki ibu-ibu rumah tangga semakin ramai saja,” cetusnya.

Setiap lingkungan nantinya, beber Musaddik, ada satu petugas khusus yang dilatih bisa mengelola tong sampah penghasil kompos tersebut. “Petugas kebersihan yang kita berikan pelatihan khusus tersebut nantinya yang akan mengelolanya, kepada warga mereka lah yang memberikan pembelajaran pembuatan kompos berbahan sampah organik tersebut,” tukasnya. (bie)


Wednesday, December 05, 2007

Buang Sampah Langsung Didenda

Jumat, 30-11-2007 | 00:20:23

AMUNTAI, BPOST - Langkah jajaran aparatur Kecamatan Amuntai Tengah dalam menciptakan lingkungan bersih dan sehat patut ditiru. Kantor kecamatan itu dinyatakan bebas sampah termasuk puntung rokok. Jika ada yang melanggar, langsung dikenakan denda.

Peraturan itu mulai diterapkan awal November lalu. Namun efektif diterapkan sekitar dua pekan ini. Sebagai pemberitahuan bagi karyawan dan masyarakat, di depan kantor kecamatan di Jalan Empu Jatmika Kelurahan Sungai Malang itu, dipasang spanduk besar berukuran panjang tiga meter dan lebar satu meter.
Di spanduk warna putih tersebut tertulis “Anda Memasuki Wilayah Bebas Sampah/Puntung Rokok. Jika Membuang Sampah Sembarangan Kena Denda”.
Sebagai pendukung peraturan itu, di beberapa sudut ruangan diletakkan tempat sampah. Begitu pula di dekat meja piket tamu, ditempatkan asbak rokok.
Meski nilai dendanya tergolong ringan, hanya diwajibkan membayar uang Rp 1.000, setidaknya aturan itu cukup menimbulkan efek jera bagi warga dan karyawan yang tak mematuhinya serta dapat membiasakan budaya bersih.
“Kalau dihitung-hitung sudah banyak karyawan dan warga yang ingin berurusan di sini terkena denda akibat membuang sampah dan puntung rokok sembarangan. Mudah-mudahan ini dapat ditiru oleh para kepala desa dan lurah khususnya di Kecamatan Amuntai Tengah dalam hal membiasakan budaya bersih dan sehat,” tutur Camat Amuntai Tengah, Adi Lesmana, kepada BPost, Kamis (29/11).
Menurutnya, setelah diberlakukan aturan seperti itu, ada perubahan yang tampak terlihat di lingkungan kantornya. Karyawan maupun warga tak berani dan segan membuang sampah dan puntung rokok sembarangan.
“Tak hanya kantor sudah mulai terlihat bersih perilaku karyawan dan warga juga mulai kelihatan. Alhamdulillah, tujuan kita untuk mendidik dan membudayan betapa pentingnya kebersihan, direspon dengan baik oleh seluruh staf dan warga,” jelas Adi.
Tak sekadar membuat aturan disiplin bersih, di Kantor Kecamatan Amuntai Tengah juga diberlakukan disiplin waktu bagi seluruh kegiatan yang dilakukan. “Jika ada acara, misal pertemuan dan rapat di ruang aula, kalau acara dimulai pukul sembilan, ya harus dimulai tepat waktu itu meskipun yang datang baru dua atau tiga orang,” ungkap Adi. ori

Pantai di Kalsel Penuh Sampah

Sabtu, 24-11-2007 | 01:05:15

BANJARMASIN, BPOST - Kondisi pantai yang ada di Kalimantan Selatan yakni pantai timur dan selatan kian memprihatinkan. Kerusakan pantai baik karena proses alam maupun akibat ulah manusia diprediksi lebih dari separuh luas wilayah pantai itu.

Demikian disampaikan Kepala Sub Dinas Prasarana dan Pulau-Pulau Kecil, Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel, HM Darban di gubernuran, kemarin. Menurutnya, aktivitas manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan menjadi faktor utama penyebab kerusakan pantai.

Bentuk kerusakan wilayah pantai itu antara lain berupa abrasi (pengikisan) yang disebabkan kuatnya gerusan ombak laut, dan sedimentasi karena lumpur-lumpur dari wilayah hulu berakhir di kawasan pantai.

Belum lagi masalah sampah. Nyaris di semua wilayah pantai tampak kotor akibat sampah organik dan non organik sehingga membuat pantai tak lagi sedap dipandang mata. Sampah-sampah itu juga dominan kiriman dari daratan dan daerah hulu.

"Aktivitas penebangan hutan dan penambangan batu bara yang pengirimannya melewati sungai dan tembus ke pantai juga telah mengotori pantai. Pantai yang rusak berpengaruh pada ekosistem laut yang pada akhirnya produktivitas kelautan menurun," tukasnya.

Dan Kamis (22/11), Pemprov Kalsel menggelar kegiatan aksi bersih-bersih pantai. Kegiatan yang dipusatkan di Pantai Taboneo, Tanah Laut itu dibuka Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB.

Dalam kegiatan itu Rosehan memberikan bantuan kepada warga pesisir berupa uang Rp 25 juta dan bagi-bagi delapan unit genset. Kegiatan dilanjutkan dialog langsung dengan masyarakat nelayan setempat.

Warga Taboneo dan sekitarnya menginginkan pemerintah provinsi membangun tanggul penahan ombak. Pasalnya, menurut mereka abrasi yang terjadi di Pantai Taboneo dan sekitarnya mengalami abrasi sekitar 5 sampai dengan 10 tahun pertahun.

Mereka juga mengharapkan adanya rambu-rambu atau petunjuk arah ketika hendak memasuki muara menuju ke sungai. ais

Sunday, December 02, 2007

Tumpukan Sampah Kotori Taman

Minggu, 16-09-2007 | 01:31:48

  • TPS Tak Resmi Marak

BANJARBARU, BPOST - Sejumlah warga di sekitar kawasan Komet, Banjarbaru mengeluhkan tumpukan sampah yang mengotori taman. Sampah yang seharusnya dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) tepat di samping taman, justru mencemari taman itu.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Banjarbaru Utara Yaser Arafat menyesalkan TPS itu diletakkan di samping taman. “Tidak ada gunanya ada taman kalau TPS di sampingnya. Lihat saja, pemandangannya jadi tak sedap,” ucapnya jengkel.
TPS di Jalan Panglima Batur tepatnya di samping taman berukuran kecil itu sebelumnya memang tak ada. Bak sampah besar sebenarnya ada di Jalan Wijaya Kusuma tepat di depan rumah mantan Bupati Tabalong H Noor Aidi.
Karena pemilik rumah terganggu dengan sampah di sana, Dinas Tata Kota (Distako) membuatkan TPS baru. Tapi TPS baru ini menyisakan masalah lain. Meski bentuknya memenuhi syarat dengan memisah tempat sampah basah dan kering, namun kebiasaan warga membuang dengan melempar mengakibatkan sampah tercecer tak hanya sekitar Komet.
Hingga kini masih banyak ditemui tumpukan sampah di TPS ilegal hingga mencemari lingkungan sekitarnya. Di kawasan Banjarbaru Utara ada dua lokasi yang dijadikan warga TPS tanpa bak. Belum lagi di Jalan Garuda dan di Sungai Ulin.
Sampah yang dibuang terkadang sampah basah hingga tak jarang mengeluarkan aroma tak sedap bagi warga sekitar ataupun lalu lintas.
Tumpukan sampah tak jarang pula dibuang sembarangan hingga ke bibir jalan, sehingga tak terangkut truk sampah.
Walaupun sudah ada yang membuat tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini” tetap saja ada yang membuangnya.
Plh Kadistako Zahedi mengakui kendala yang sering dialami dalam mengelola kebersihan kota, adalah warga yang membuang sampah tak mematuhi membuang sampah ditempat yang benar. Waktu yang ditentukan untuk membuang, yaitu malam hari juga sering dilanggar.
Padahal untuk mengangkat sampah yang tak dibuang pada tempatnya perlu tenaga dan biaya tambahan. niz 

Wednesday, August 29, 2007

Bersahabat dengan Sampah

Tuesday, 07 August 2007 02:03

Ades Hendra M
Pemerhati Lingkungan Tinggal di Jogjakarta

Pernahkah kita merenungkan bahwa sebenarnya sampah begitu dekat dengan dan dalam kehidupan kita sehari-hari? Hampir setiap aktivitas hidup kita menghasilkan sampah sebagai bagian dari proses kita mewujudkan tujuan aktivitas hidup kita. Bila kita cermati lebih jauh, ternyata dalam sehari semalam saja kita dapat menghasilkan sekian sampah. Ini baru satu rumah satu keluarga. Belum lagi jika dikalikan dengan rumah dan jumlah penduduk dalam satu wilayah, bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan dalam sehari.

Terdapat beberapa prinsip logis yang bisa diterapkan dalam keseharian, misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu: Reduce (mengurangi). Semakin banyak material digunakan, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Reuse (memakai kembali). Sebisa mungkin menggunakan barang-barang yang bisa dipakai kembali, sehingga dapat memperpanjang usia pemanfaatan barang sebelum menjadi sampah. Recycle (mendaur ulang) mengoptimalkan nilai manfaat suatu barang yang telah terpakai. Dalam tinjauan ekonomis, ini berarti penghematan. Replace (mengganti) yakni menggunakan barang-barang sehari-hari dengan barang yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan. Misalnya, memilih keranjang yang tahan lama daripada kantong plastik.

Potensi Tersembunyi
Secara garis besar, sampah dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok sampah organik, yaitu yang berasal dari alam dan mudah terurai dalam jangka waktu tidak terlalu lama oleh proses alamiah. Contohnya, sisa sayur mayur, daun-daun kering, kulit buah, kayu, sisa makanan, limbah dapur, dan lain-lain.

Kelompok kedua sampah anorganik. Sampah dari benda buatan manusia yang sulit terurai secara alamiah dan memakan waktu lama. Sampah anorganik yang dibuang ke tanah, sungai dan laut membutuhkan waktu sedemikian panjang untuk penguraiannya. Kertas dapat terurai dalam rentang waktu 3 - 6 bulan, kain 6 bulan - 1 tahun, filter rokok dan permen karet lima tahun, kayu dicat 13 tahun, nilon lebih dari 30 tahun, plastik dan logam lebih dari 100 tahun, kaca sejuta tahun, bahkan ban karet tidak bisa diperkirakan waktunya. (Intisari, Desember 2006).

Beberapa metode/kegiatan yang biasanya ditempuh dalam penanganan sampah antara lain dengan cara pengomposan, dibakar, dihancurkan, didaur ulang dan ditimbun. Kompos sangat berguna memelihara kesuburan tanah dan menjadi pasokan nutrisi bagi tanaman. Bila kompos diproduksi dalam jumlah banyak dapat dikomersialkan dengan menjualnya kepada petani, pengusaha tanaman.

Pembakaran sampah dipadukan dengan teknologi tepat guna dapat menghasilkan listrik dan energi alternatif. Sedangkan daur ulang dilakukan melalui pengolahan sampah yang tepat sehingga mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomis. Menyadari potensi besar yang tersembunyi ini, mengapa kita tidak memulai bersahabat dengan sampah?

e-mail sang_rajawali@yahoo.com


Tuesday, May 08, 2007

Geleng Kepala Lihat Sampah RSUD Ulin Kerahkan Tim Antikumuh Yudhi ‘usir’ PKL Pal 6

Rabu, 09 Mei 2007 02:24:31

BANJARMASIN, BPOST - "Lho ini semen gips untuk patah kaki, kenapa bisa dibuang di sini?," ucap Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni, sambil geleng-geleng kepala. Seorang staf RSUD Ulin yang menyertainya pun tak bisa berkata-kata lagi.

Yudhi menemukan sampah medik berserakan di lingkungan rumah sakit terbesar di Kalimantan itu. Padahal sebelumnya, Yudhi sudah mengingatkan agar pihak rumah sakit mengelola sampah medik, karena selama ini sampah produk rumah sakit itu menjadi pemicu rendahnya nilai Adipura Kota Banjarmasin.

Menanggapi temuan Yudhi tersebut, Direktur RSUD Ulin Banjarmasin dr Abimanyu dengan enteng mengatakan bahwa rumah sakit sedang melakukan pembenahan sehingga masih banyak bagian yang masih luput dari pengawasan.

"Satu hari RSUD Ulin melayani sekitar 1.500 pasien, sulit bagi kita untuk memantau terus aktivitas yang dilakukan pasien, termasuk ke mana mereka membuang sampah," kilahnya.

Ditegaskan Abimanyu, pihaknya telah membentuk tim khusus yang bertugas melakukan penanganan dan mengkoordinir masalah kebersihan. Tim ini diberi nama Tim Antikumuh, yang terdiri dari 15 tenaga sanitarian, 10 tenaga umum. "Dalam seminggu ini kita sudah menurunkan 20 tenaga kuli kasar untuk membersihkan sudut-sudut yang masih kotor," jelasnya.

Terminal Kotor

Kekecewaan Yudhi bukan hanya di RSUD Ulin. Selain banyak sampah berserakan, Yudhi menyesalkan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kembali berdagang di terminal tunggu.

"Saya benar-benar kecewa melihat kondisi terminal Pal 6, terutama PKL. Mereka sudah kita siapkan tempat di belakang, tapi kini mereka kembali menempati terminal tunggu penumpang," kesalnya.

Saking kesalnya Yudhi langsung memerintahkan Kadis Satpol PP untuk ‘mengusir’ PKL. "Kita sudah pakai cara lembut tapi mereka tak mau menghargai. Kalau perlu kita angkat dengan dagangannya," ujar Yudhi Kesal.ck6

Saturday, May 05, 2007

Predikat Kota Terkotor Kembali Mengancam

Jumat, 4 Mei 2007
Radar Banjarmasin
BANJARMASIN ,- Perhatian terhadap kondisi kebersihan dan keindahan Kota Banjarmasin kembali terfokus. Diperkirakan, memasuki minggu kedua Mei ini, hasil penilaian Adipura beberapa waktu lalu akan diverifikasi. Artinya, dalam verifikasi itu nilainya bisa bertambah, berkurang, dan tetap. Oleh karena itu, seluruh masyarakat diharapkan tetap konsisten dengan kebersihan lingkungannya.

Namun demikian, hambatan untuk meraih nilai tinggi Adipura masih dirasakan pada kurangnya pengelolaan sampah, penghijauan, dan tersumbatnya drainase. Artinya, di tempat-tempat yang strategis, tempat-tempat pembuangan sementara (TPS), masih kurang dan tak sebanding dengan volume sampah yang dibuang. Kemudian, masih terasa gersang karena kurangnya tanaman sebagai peneduh dan ruang terbuka hijau. Terakhir, tergenangnya air di jalan maupun lingkungan warga saat turun hujan atau air sungai pasang.

Menjelang verifikasi nilai Adipura di Kota Banjarmasin yang berklasifikasi sebagai Kota Besar, jajaran Pemkot Banjarmasin kembali turun ke objek-objek penilaian. Seperti membersihkan Sentra Antasari, sekolah-sekolah, puskesmas, drainase di pinggir jalan, dan lain sebagainya. Seperti kemarin, Walikota Banjarmasin HA Yudhi Wahyuni bersama Kepala Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Drs Syaidin Noor MM, Kepala Distakot Zainul Arifin MEng Sc, Kepala Bapedalda Hesly Junianto, Kasubdin Pemantauan dan Pemulihan Bapedalda Drs Hamdi, Kasubdin Prasarana Transportasi Dinas Kimpraskot Ir Gt Riduansyah S, dan staf, meninjau beberapa sekolah seperti SDN 3 dan 4 Teluk Dalam, SMPN 1 Banjarmasin, SMPN 5 Banjarmasin, SMAN 2 Banjarmasin, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1 Banjarmasin, dan SMP Sabilal Muhtadin. Banyak ditemukan TPS di sekolah yang jumlahnya kurang dan tanaman peneduh yang sedikit.

Pada kesempatan itu, Walikota HA Yudhi Wahyuni meminta pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah untuk menyediakan tempat sampah. Dan guru terus mengimbau siswanya untuk menjaga kebersihan.(yha)

TPA Belum Miliki Amdal

Jumat, 04 Mei 2007 01:45

BANJARBARU, BPOST- Dua tahun beroperasi, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga kini tak mempunyai Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Ironisnya, selain TPA, RSUD Banjarbaru juga tak memilikinya.

Padahal kedua tempat ini sangat rentan sekali dampak lingkungan yang ditimbulkan. Apalagi rumah sakit tipe C tersebut berada di tengah kota yang dikelilingi rumah penduduk.

Kepala Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Joko Hardiono mengakui, hingga sekarang TPA hanya memilik Usaha Kelola Lingkungan (UKL) dan Usaha Pemantauan Lingkungan (UPL).

"Kalau Amdal memang belum ada. Sekarang ini baru mulai kita usahakan," ucap Joko. Untuk membuat Amdal menurutnya tak bisa sembarang, karena perlu dilakukan berbagai macam uji dan beberapa kali presentasi.

Uji yang dilakukan meliputi uji tanah, uji satwa dan terhadap lingkungan sekitar.Usaha mengurangi dampak lingkungan diupayakan dengan tak menumpuk sampah begitu saja, tapi diolah dan kemungkinan dikelola pihak swasta.

Rencana pembelian alat untuk mengolah sampah langsung di TPA segera direalisasikan. "Dengan adanya alat itu diperkirakan volume sampah bisa dikurangi," urainya.

Joko menandaskan sudah memasukkan Anggaran Biaya Tambahan (ABT), yang diperkirakan menghabiskan sekitar Rp 100 juta untuk membuat Amdal tersebut.

Mengenai amdal rumah sakot, "Kalau UKL dan UPL sudah ada tapi amdalnya belum. Kita targetkan di tahun 2008 sudah ada," kata Joko. Salah satu penyebab belum dibuatnya Amdal, menurutnya karena bangunan RSUD sebelumnya masih dalam tahap perbaikan. "Jika selesai, kita segera membuatnya,"imbuhnya. mtb/ris