Label Cloud

Friday, December 01, 2006

Semburan Lumpur-Gas Masih Berlangsung

Selasa, 28 November 2006
Banjarmasin, Kompas - Semburan lumpur dan gas di Desa Kolam Kanan, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, hari Senin (27/11) masih berlangsung. Namun, aktivitas harian warga desa sudah mulai normal kembali.

Camat Barambai Taufik Hidayat mengatakan, semburan tersebut tidak lagi menghasilkan tambahan volume lumpur. Lumpur bercampur gas menyembur untuk pertama kalinya dari lubang sumur galian warga pada Rabu (22/11) pekan lalu.

Sejauh ini penghuni empat rumah diungsikan ke rumah tetangga atau kerabat yang ada di wilayah itu. Salah satu dari empat keluarga yang diungsikan itu adalah Ketut Tegal, warga yang galian sumur airnya menyemburkan lumpur tersebut. "Semburan lumpur dan gas itu belum mengkhawatirkan," kata Taufik.

Tunggu hasil penelitian

Dalam kesempatan terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertambangan Kalsel Heryozani Dharma mengatakan, sampai kemarin belum ada kesimpulan dari penelitian terhadap sampel gas.

Sampel semburan diambil oleh Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. "Kami menunggu hasil tersebut untuk memastikan apakah gas yang keluar tersebut berbahaya atau tidak," kata Heryozani.

Menurut dia, material semburan terutama terdiri dari gas ditambah lumpur yang jumlahnya lebih sedikit. Itu sebabnya sejak awal Dinas Pertambangan Kalsel telah menyurati Direktorat Jenderal Minyak dan Gas agar segera bertindak.

"Penanganan semburan gas itu bukan lagi urusan daerah, tetapi urusan instansi di lingkungan Kementerian ESDM," kata Heryozani. (FUL)

Semburan Lumpur di Kalsel Ada Unsur Gas

Sabtu, 25 November 2006
Banjarmasin, Kompas - Semburan lumpur di Desa Kolam Kanan, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Jumat (24/11) siang masih setinggi satu meter hingga dua meter. Kini material yang disemburkan sebagian besar adalah gas dengan sedikit lumpur.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang buruk, warga diminta menjauh sekitar radius 100 meter di luar batas garis polisi yang dipasang di lokasi semburan.

Sementara itu, para petugas satuan koordinasi pelaksana (satlak) penanganan bencana Kabupaten Barito Kuala, polisi, dan petugas lainnya terus mengamankan lokasi semburan tersebut. Itu dilakukan karena warga dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus berdatangan untuk menyaksikan kejadian alam tersebut.

Setiap hari di dekat semburan lumpur, warga Desa Kolam Kanan juga melakukan ritual agama Hindu Bali untuk menolak bala. Mereka berharap semburan segera berakhir.

Semburan lumpur keluar dari sumur bor sedalam 135 meter yang digali di depan rumah seorang warga, Ketut Tegal, sejak Rabu lalu. Sumur itu dibuat untuk mencari air bersih.

Semburan lumpur tersebut sempat mencapai setinggi pohon kelapa. Akibat peristiwa itu, beberapa warga mengungsi karena khawatir rumahnya terendam. Dua rumah warga terpaksa dibongkar karena mulai tergenang lumpur.

Camat Barambai Taufik Hidayat mengatakan, meski volume semburan tidak bertambah dan lebih banyak gas yang keluar, diameter lubang bertambah. Awalnya lubang semburan sebesar pipa sumur bor, kini diameternya sekitar lima meter.

"Secara umum, perkembangan semburan liar itu tidak ada yang mengkhawatirkan, tetapi warga dari berbagai daerah terus berdatangan untuk melihat langsung semburan tersebut," kata Taufik Hidayat.

Sedimen kuarter

Menurut Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertambangan Kalsel Heryo Zani Dharma, asal semburan masih berada pada sedimen kuarter—usianya relatif muda.

Hasil sampel deteksi dini yang diperiksa di laboratorium menunjukkan material gas jauh lebih banyak dibandingkan dengan lumpur.

Unsur kimia yang terbawa semburan adalah hidrogen sulfida (H>sub<2>res<>ressub<3>res<>res<), dan Nitrit (mengandung NO>sub<2>res<>res<). Nitrit perlu diwaspadai karena berbahaya bagi manusia jika kadarnya di atas 0,1 particle per million (ppm).

Saat ini kandungan nitrit masih di bawah 0,05 ppm. "Itu sebabnya, warga kami imbau untuk tidak terlalu dekat. Minimal sekitar semburan radius 100 meter diamankan," kata Heryo.

Sejak terjadi semburan, dua petugas dinas pertambangan terus memantau perkembangan dan tiga kali mengambil sampel setiap hari. "Agar perkembangan semburan bisa diketahui setiap saat," kata Heryo.

Tiga penyebab

Pada Jumat siang petugas dari Pertamina juga datang membantu. Dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengirimkan tiga ahli untuk meneliti semburan.

Heryo menjelaskan, ada tiga kemungkinan penyebab semburan. Dugaan pertama, gas merupakan hasil pembentukan di daerah gambut atau disebut gas methan. Diperkirakan letak gas tersebut ada pada kedalaman sekitar 135 meter.

Dugaan kedua, daerah itu merupakan cekungan sedimentasi yang berkaitan dengan pembentukan cekungan Barito. Dugaan terakhir, gas keluar dari suatu lapisan yang kedap air karena ada tekanan yang kuat di bawahnya.

"Kami belum bisa memastikan penyebabnya. Di satu sisi, semburan menjadi berita gembira kalau gas itu berupa gas alam. Di sisi lain, kami prihatin karena belum tahu bagaimana mengatasi atau menghentikannya," kata Heryo.

Dalam kesempatan terpisah, Syamsuri, Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Akademi Teknik Pembangunan Nasional di Banjarbaru, menduga yang terjadi adalah semburan lumpur dan gas yang terperangkap dalam satu satu jebakan.

Jebakan itu berada dalam tekanan tinggi sehingga ketika ditembus mata bor langsung menghasilkan semburan yang tinggi. Tak heran jika yang keluar adalah lumpur dan gas.

Gas tidak ekonomis

Menurut Syamsuri, semburan tidak mengkhawatirkan dan diduga akan segera mati dengan sendirinya. Sebab, gas yang terperangkap itu volumenya tidak besar dan tidak ekonomis untuk dieksploitasi.

Daerah Kabupaten Barito Kuala sendiri sebenarnya memang termasuk daerah yang menghasilkan gas karena masuk dalam cekungan Barito. Namun, kantong-kantong gasnya sampai saat ini masih belum ekonomis untuk dieksploitasi. (FUL)

Semburan Liar di Barito

Jumat, 24 November 2006
Marabahan, Kompas - Akibat semburan lumpur yang mendadak keluar dari galian sumur bor, warga mengungsi karena khawatir rumah mereka akan ambles. Hingga kemarin sejumlah warga masih mengungsi.

Sumur bor yang digali sedalam 135 meter di depan rumah Ketut Tegal, warga Desa Kolam Kanan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (22/11) pukul 16.00, tiba-tiba menyemburkan lumpur setinggi pohon kelapa yang ada di daerah itu.

Saat Kompas menyaksikan Kamis (23/11) siang, semburan tinggal sekitar satu meter. Lubang semburan yang semula seukuran pipa berdiameter 1,5 inci, sekitar empat sentimeter, melebar hingga 2 meter-3 meter.

Karena semburan tidak juga berhenti, warga khawatir lubang itu terus membesar. Rumah Ketut Tegal dibongkar oleh warga karena khawatir ambles. Rumah itu dan satu rumah lain tergenang lumpur setinggi mata kaki.

Desa itu didiami 20 keluarga transmigran asal Bali yang datang tahun 1971. Desa tersebut berjarak sekitar tujuh kilometer dari Marabahan, ibu kota Kabupaten Barito Kuala, sekitar 47 kilometer dari Banjarmasin. Kemarin desa itu ramai didatangi warga dari berbagai daerah. Lubang semburan sekitar 20 meter persegi diamankan oleh polisi.

Camat Barambai Taufik Hidayat menuturkan, banyak warga mengungsi karena semburan sempat setinggi puluhan meter. Kini lima keluarga masih mengungsi. Rumah mereka berjarak sekitar 25 meter dari lubang semburan. Tenda dan dapur umum didirikan, mengantisipasi kejadian ini akan berlangsung lama.

Keterangan dari Nyoman Suke (34), anak pasangan Ketut Tegal- Kadek Kundri, semburan lumpur terjadi setelah setengah jam empat pengebor sumur bekerja. Penggalian itu untuk mencari air bersih karena empat bulan terakhir mereka kesulitan air bersih—air di daerah itu asam.

"Saat kejadian terdengar suara gemuruh dan ledakan. Kami mengungsi karena tinggi semburan lumpur sudah di atas rumah," kata Kadek Kundri. Sebanyak 36 pipa paralon ukuran 3/4 inci— sekitar dua sentimeter—yang dimasukkan ke lubang juga terlempar keluar. Malam harinya, lubang semburan membesar sehingga satu mesin penyedot air tenggelam ke dalam lumpur.

Keempat pekerja dimintai keterangan oleh polisi. "Kami sudah tujuh tahun menjadi penggali sumur, namun baru kali ini bertemu semburan lumpur," kata Suparto. Tajuddin Noor, Kepala Subdinas Perwilayahan pada Dinas Pertambangan Kalsel mengatakan, belum tahu penyebab semburan dan masih menelitinya.

Dia menduga semburan ini tak berbahaya, beda dengan semburan lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang sumbernya di kedalaman 3.000 meter. (FUL)