| Selasa, 18-03-2008 | 00:30:05 | |
| • Petani Kesulitan Jangkau Sawah PELAIHARI, BPOST - Sejak enam bulan lalu, sejumlah petani di Desa Ambungan Kecamatan Pelaihari kesulitan menjangkau sawahnya. Satu-satunya akses jalan utama, rusak berat akibat intensnya angkutan tambang galian batu gunung. "Kalau kena hujan, badan jalan sama sekali tidak bisa dilewati sepeda motor. Jalan berubah seperti sawah, licin, dan lengket," keluh Bakri, petani Ambungan, Senin (17/3). Bersama dua warga Ambungan lainnya, Jumadi dan Samsu Hudaya, Bakri mengatakan kerusakan badan jalan tersebut secara nyata berdampak pada menurunnya usahatani. Pendapatan pun berkurang, karena pembudidayaan tanaman maupun pengelolaan budidaya ikan tak bisa tertangani secara optimal lagi. "Setiap harinya minimal dua kali kami harus ke kolam. Tapi, dengan kondisi jalan yang rusak parah begini, kadang tak bisa tiap hari lagi ke kolam. Ikan yang kami pelihara menjadi kurang terpelihara," ucap Samsu, mantan kades Ambungan ini. Samsu menyebutkan ada beberapa warga yang memelihara ikan (nila dan mas) dengan luasan setidaknya 3,5 hektare. Tak jauh dari tempat ini, ada beberapa petak persawahan seluas 30 hektare. Kawasan ini juga menjadi lumbung pakan ternak bagi para pemilik ternak sapi, karena melimpahnya rerumputan liar. "Namun sekarang kami semua, petani padi, pembudidaya ikan, dan peternak sapi kesulitan mengjangkau tempat itu. Rusaknya badan jalan ini benar-benar menyusahkan kami," sebut Bakri dan Jumadi. Memang ada jalan alternatif, namun jarak tempuhnya lumayan jauh (4 kilometer) atau dua kali lipat jalan yang ada. Umumnya warga enggan melalui jalan alternatif itu, karena selain memutar juga kondisinya sulit dilalui dan sempit. Samsu menuturkan badan jalan utama itu sendiri merupakan jalan koridor milik PTPN XIII. Sejak beberapa tahun lalu pihak PTPN mengizinkan penambang batu gunung menggunakan jalan tersebut, dengan syarat wajib memelihara badan jalan, namun diabaikan penambang. (roy) |
Label Cloud
Sunday, March 23, 2008
Warga Ancam Tutup Jalan
BKSDA Selidiki Penyelundupan Trenggiling
| Jumat, 14-03-2008 | 00:40:15 | |
| BANJARBARU, BPOST - Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menggagalkan pengiriman 41 kilogram daging trenggiling (manis javanicus) yang diselundupkan melalui Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. Kini, pelaku penyelundupan masih diselidiki. Pengiriman ini diketahui dari kecurigaan polisi kehutanan di bandara akhir pekan tadi. Informasinya, daging hewan langka yang dilindungi ini diketahui setelah ada kecurigaan petugas, baik dari BKSDA maupun petugas keamanan bandara. Saa itu ada dua bungkusan kotak yang akan dikirim melalui terminal cargo bandara. Semula bungkusan barang itu akan dikirim ke Jakarta Sabtu (8/3) sore melalui salah satu biro jasa pengiriman barang di Jalan Cempaka Banjarmasin. Petugas segera menghentikan pengiriman ini karena dari deteksi pemeriksaan barang dengan sinar X-Ray di terminal pengiriman ini, terlihat ada gumpalan daging dalam bungkusan. Setelah dibuka baru diketahui kalau isi kotak ini daging trenggiling yang sudah dibekukan dengan es. Setelah ditimbang, diperkirakan daging berbobot 41 kilogram ini dari hasil penyembelihan 15 ekor trenggiling. Petugas pun meneliti isi barang yang dituliskan pengirim. Di situ tertera pengirim barang berupa udang dan ikan yang sudah dibekukan. Kepala BKSDA Kalsel, Amir Hamzah mengatakan penyitaan ini dilakukan karena melanggar Undang-Undang nomor 05/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Undang-Undang ini dengan tegas melarang penangkapan, atau melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperdagangkan satwa yang dilindungi undang-undang dalam keadaan hidup mapun mati. "Sampai kini kami masih terus selidiki siapa pengirimnya. Barang buktinya ada di kantor BKSDA. Besok Jum,at (14/2) rencananya dibuka segelnya. "Penyelundupan 41 kilogram daging beku trenggiling dari 15 ekor trenggiling ini pertama kali. Pengiriman ini ilegal tanpa bukti dan dokumen yang sah," ungkap Amir. Daging trenggiling ini menurut pria asal Tanah Pasundan itu diduga akan dikirim sampai ke luar negeri, karena daging hewan liar yang banyak hidup di hutan Kalimantan ini digemari di luar negeri. "Kabarnya harganya mahal di luar negeri. Banyak peminatnya karena dipergunakan sebagai obat kuat lelaki," ucap Amir. (niz) |
Pelaihari Kurang Penghijauan
| Sabtu, 08-03-2008 | 00:35:10 | |
| PELAIHARI, BPOST - Hutan kota di kawasan Jalan Hadji Boejasin, Pelaihari dinilai belum hijau. Jumlah dan keragaman populasi tanaman penghijauan yang ada masih terbatas. "Masih diperlukan penambahan jumlah dan jenis pohon. Itu sebabnya keberadaan hutan kota menjadi salah satu sasaran dalam rangkaian kegiatan reuni akbar alumni SMPN1 Pelaihari," kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup Tala Zlkifli Chalid, Jumat (7/3). Zulkifli yang juga menjadi ketua pelaksana Reuni Akbar alumni SMPN1 Pelaihari mengatakan kegiatan penanaman pohon di hutan kota telah dimulai sejak beberapa hari lalu. Jumlah pohon yang ditanam mencapai ratusan batang. Pohon yang ditanam cukup bervariasi yang sebagian besar adalah pohon berkayu hutan tropis. Diantaranya dalah jenis mahoni. Pohon yang memiliki nilai ekonomis ini akan melengkapi dan dimungkinkan sebagai pengganti pepohonan yang ada di hutan kota yang umumnya masih didominasi akasia. "Akasia itu sebenarnya kan hanya sebatas pohon perantara. Jadi, kelak pepohonan yang kami tanam bisa menjadi pengganti," sebut Zulkifli. Hutan kota mendapat perhatian dalam rangkaian kegiatan reuni akbar, sebut Zulkifli, karena keberadaannya yang vital dan memiliki arti penting dalam menjaga kesejukan kota Pelaihari. (roy)
|
