Label Cloud

Tuesday, June 10, 2008

“Selamatkan Sungai Kita”

Selasa, 15-04-2008 | 01:15:40

BANJARMASIN, BPOST - Di atas kelotok puluhan peserta Workshop Konservasi yang diselenggarakan oleh Kompas Borneo dari 12-14 april 2008 melakukan orasi dan membentangkan spanduk dengan seruan untuk segera membersihkan sungai.

Mengenakan pakaian serba putih mereka mengajak masyarakat agar turut memperhatiakn sungai yang dinilai sudah kotor dan tercemar.

Aksi damai itu dimulai dari Sungai Pangeran hingga dermaga Pemko Banjarmasin, Senin (14/4). Dari awal pemberangkatan mereka sempat singgah di siring Jalan Jenderal Sudirman, depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Di sana mereka kembali membentangkan spanduk dan berorasi mengajak warta menjaga sungai.

Menurut Anhariansyah, Koordinator Pelaksana, sampai saat ini tidak ada tindakan terhadap orang yang membuang sampah di sungai padahal Perda Sungai sudah disahkan.

Dia menambahkan, banyaknya warga yang membuang sampah di sungai bisa mengakibatkan penyempitan serta banjir yang siap menghadang.

Jika kondisi seperti itu dibiarkan, ucap Anhariansyah, maka akan hilang budaya sungai dan dikhawatirkan terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat.

“Makanya kami mengimbau masyarakat bisa menjaga sungai dan tidak menjadikannya sebagai tempat membuang sampah,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah juga harus segera melakukan tindakan agar sungai tidak lagi tercemar. Apalagi, sambung dia, saat ini perdanya jelas-jelas sudah ada.

“Sampai saat ini tidak ada tindakan kongkret yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin, jadi buat apa Perda Sungai yang sudah disahkan,” ujarnya.

Menurut dia, dengan adanya aksi ini diharapkan pemerintah proaktif menindak siapapun yang membuang sampah di sungai. (bb)

Buang Limbah Masih Gratis

Sabtu, 29-03-2008 | 01:15:30

• Masyarakat Bisa Manfaatkan IPAL
BANJARMASIN, BPOST- Seorang anak kecil membawa ember bertali. Dilemparnya ember ke sungai, ditarik kembali, lalu airnya diguyurkan ke sekujur tubuh. Berkali-kali dia melakukan itu. Sementara botol, plastik dan sampah busuk mengambang di sekitar rumah bertiang galam dan ulin itu.

Di setiap rumah terlihat jamban sederhana berbentuk kotak dengan jembatan kayu, menyambung ke pintu belakang rumah. Jamban itu tidak beratap, lobang bawah untuk saluran tinja langsung jatuh ke sungai.

Hampir setiap rumah di bantaran sungai melakukan hal yang sama. Sanitasi mereka belum terkontrol dengan baik. Akibatnya, sungai menjadi kotor, melengkapi ratusan kilogram sampah yang dibuang sembarangan ke sungai.

Jika kita menyusuri Sungai Martapura, dari bawah Jembatan Dewi hingga melewati Jembatan Basirih yang dilintasi Jalan Gubernur Subarjo, tampak aktivitas harian penduduk bantaran sungai. Mereka mandi, mencuci, buang air dan aktivitas pribadi lain, langsung di sungai yang ada di belakang rumah.

Pada 22 Maret 2007 lalu, tim riset jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Lambung Mangkurat mengumumkan hasil penelitian cukup mencengangkan.

Akibat sanitasi yang buruk, di Sungai Martapura ditemukan bakteri Escherichia coli (E.coli) sebanyak 1,6 juta sel per 100 ml air.

Jumlah itu sangat banyak, lebihnya dari ambang baku mutu yang disyaratkan untuk air bersih 100 sel/100 mili liter air. Fakta ini sekaligus menunjukkan kualitas air Sungai Martapura cukup mengkhawatirkan.

Sejumlah riset di negara maju menyebutkan, jika keberadaan bakteri ini jauh lebih tinggi dari batas baku mutu air bersih, tidak hanya gangguan pencernaan saja yang terjadi. Gangguan kesehatan yang lebih parah dapat menimpa manusia yang mengkonsumsi.

Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) mungkin masih asing bagi masyarakat. Berbeda dengan sektor industri yang wajib memilikinya.

Pemerintah Kota Banjarmasin membentuk sebuah Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD PAL). Dengan adanya PD PAL tersebut diharapkan warga memanfaatkan sarana pengolahan air limbah.

Berdasarkan Perda No 16 Tahun 2006, masyarakat atau badan hukum yang berada di areal pelayanan jaringan air limbah diwajibkan memanfaatkan sarana pengolahan air limbah tersebut. Termasuk mengadakan penyambungan dari sumber air limbah ke jaringan air limbah yang telah disediakan.

Saat ini PD PAL hanya bisa melayani tiga wilayah yang ada di Banjarmasin seperti kawasan Lambung Mangkurat, Kawasan Pekapuran Raya serta kawasan Hasan Basery.

Dari ketiga tempat tersebut sudah terpasang sekitar 904 pelanggan terdiri dari rumah tangga, niaga dan industri. Pelanggan rumah tangga merupakan urutan yang paling banyak.

Direktur PD PAL, Muhidin, mengatakan, jaringan air limbah tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan warga. Demikian pula masyarakat yang sudah tahu untuk mensosialisasikan sehingga pencemaran lingkungan dapat dikurangi. (tim)

Wednesday, June 04, 2008

Nasib kAMPUNG di Tepian Sungai Barito : Hanya Jadi Lintasan Angkutan Batu Bara

 
Selasa, 27-05-2008 | 01:00:15

SUATU sore di Kelurahan Ulu Benteng, Marabahan, Barito Kuala. Terdengar suara anak-anak yang sedang mandi di Sungai Barito sambil bercengkerama diselingi suara ibu-ibu yang mengobrol sambil mencuci.

Tetapi keriuhan ini terhenti sejenak ketika melintas tongkang bermuatan ribuan ton batu bara, asal hulu Sungai Barito. Para ibu dengan cepat mengumpulkan cuciannya di batang. Maklum, kalau terlambat, gelombang air karena tongkang yang lewat ini bisa membuat pakaian hanyut.

Dulu, warga Ulu Benteng hanya ‘diganggu’ gelombang dari kelotok atau speedboat yang lewat. Tapi, dalam 10 tahun terakhir, suara tugboat penarik tongkang dan gelombang air sungai saat kapal-kapal itu lewat sering bersinggungan dengan aktivitas warga.

Adakah dampak negatif bagi warga? Tokoh pemuda di Kelurahan Ulu Benteng, Riduansyah menilai Sungai Barito sudah tak seperti dulu. Terutama saat hujan, guyuran airi menimpa tongkang, otomatis banyak batu bara yang jatuh ke sungai.

"Puluhan tongkang yang lewat setiap hari, membawa material batu bara hingga ke hilir Sungai Barito," kata Riduansyah.

Padahal, Sungai Barito selama ini menjadi sumber mata pencaharian bagi para pencari ikan. Batu bara ini akan mencemari habitatnya.

"Airnya yang telah tercemar limbah batu bara tersebut juga dikonsumsi warga setempat. Mulai dari mandi, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari lainnya," ujarnya.

Lebih parah lagi, belum semua warga menikmati air bersih dari PDAM Marabahan. Sebagian masih mengkonsumsi air Sungai Barito sebagai air minum. Dari 17 kecamatan di Bumi Selidah, 13 kecamatan dilintasi Sungai Barito.

Ada delapan perusahaan yang menggunakan Sungai Barito sebagai lalu lintas angkutan batu bara yang melewati Kabupaten Barito Kuala.

Selama ini, warga mendapat bantuan dari perusahaan-perusahaan itu berupa dana Community Develovment (CD). Dari tahun 2004 hingga 2007 kisarannya Rp 600 juta hingga Rp 700 juta.

Kepala Bappeda Batola, Supriyono mengatakan, dana ini disalurkan ke masyarakat melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Belanja Tambahan (ABT).

Wakil Bupati Batola, H Sukardhi mengatakan dampak tak langsung pada masyarakat dari pengangkutan batu bara memang ada. Pemkab Batola akan mengambil beberapa langkah penting. Di antaranya menggagas pertemuan dengan berbagai pihak, terutama dengan pengusaha batu bara.

"Dengan memahami dampak negatif yang ditimbulkannya, diharapkan pengusaha batu bara tidak saja bersedia memberikan kompensasi yang memadai. Kemudian juga segera melakukan kajian guna menekan dampak negatif yang bisa membahayakan kehidupan masyarakat dan ekosistem perairan," kata Sukardhi. (ncu)