Label Cloud

Monday, November 03, 2008

Banjarmasin Kesulitan Kelola Sungai

Sabtu, 11-10-2008 | 06:50:19

BANJARMASIN, BPOST - Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin selama ini memang berkeinginan kuat untuk mengelola sungai yang banyak membelah kota ini, agar bisa mendukung kemajuan kota dikemudian hari.

Tetapi untuk memulai pembenahan sungai itu yang kurang dimengerti sehingga Pemko Banjarmasin kesulitan dan meminta bantuan kalangan ahli penataan sungai dari Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Kepala Kantor Pemukiman dan Prasarana Kota (Kimprask) Banjarmasin, Ir Nurul Fajar Desira, di balaikota Banjarmasin.

Selama ini memang sudah banyak seminar, dialog, yang membahas pengelolaan sungai tersebut  diselanggarakan Pemko Banjarmasin, tetapi implementasi dari semua itu hingga kini belum bisa dirasakan.

Sudah banyak ahli pula dari berbagai perguruan tinggi yang mempresentasikan makalah menganai penataan sungai di Banjarmasin tetapi masih sulit untuk menerapkan kajian tersebut.

Tetapi setelah diadakannya dialog antara Pemko Banjarmasin dengan pihak IPB maka seakan ada kesamaan panmdangan danb idealisme dalam memulai pengelolaan sungai tersebut, yaitu harus  merivisi tata ruang  yang berbasis penataan sungai.

"Penataan ruang Banjarmasin selama ini yaitu penataan sungai harus mengikuti petanaan daratan, sehingga banyak sungai yang akhirnya diurug dan ada sungai akhirnya  yang mati," kata Fajar Desira.

Tetapi dalam pandangan pihak ahli IPB penataan kota Banjarmasin harus dibalik yaitu penataan daratan harus mengikuti penataan sungai, artinya penataan sungai yang didahulukan baru penataan daratan.

Konsep demikian setelah melihat konsep pembangunan kota-kota besar di luar negeri yang berada di tepian laut, dimana potensi laut yang didahulukan bagi pengelolaan potensi daratan.

"Kalau di Banjarmasin berada di atas sungai, mengingat jumlah sungai yang membelah kota ini sebanyak 109 buah, maka konsep pembangunan harus mengutamakan  keberadaan sungai itu baru menata daratan," tambah Fajar Desira lalgi.

Menurut Nusul Fajar Desira walau perjanjian kerjasama antara Pemko Banjarmasin dan pihak IPB tidak melibatkan langsung Dinas Kimprasko, karena perjanjian itu melalui Dinas Pertanian setempat, tetapi pihak instansinya akan selalu konsen terhadap konsep perjanjian yang ditandatangani tersebut.

Dalam pembangunan fisik perkotaan yang akan dikelola Dinas Kimprasko kedepan jelas akan melihat tata ruang yang ditawarkan pihak IPB dengan mengedepankan sungai tersebut.

Bahkan ada usulan yang menginginkan di kota Banjarmasin untuk mempertahankan kawasan kosong sepadan sungai harus benar-benar dikosongkan bagi bangunan fisik perkotaan tetapi harus benar-benar diperjuangkan sebagai ruang terbuka hijau.

Bahkan ada pula keinginan pihak yang menghendaki Banjarmasin harus lebih banyak memiliki pertamanan bunga-bungaan di atas air, seperti taman bunga teratai,taman bunga melati air, serta taman bungan dari tanaman hias air lainnya agar memperkuat kota ini sebagai kota air.

Pihak IPB yang langsung menyampaikan presentasi mengenai konsep IPB dalam pengelolaan sungai bagi pembangunan Banjarmasin disampaikan oleh Siti Nurisyah dan Setia Hadi  dari Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W)-LPPM IPB Bogor.

Mahasiswa Unlam Semai Terumbu Karang

Minggu, 05-10-2008 | 00:10:10

BANJARMASIN, BPOST - Tahun 2008 ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai ‘Tahun Terumbu Karang Dunia’, dan mengimbau semua negara berpartisipasi dalam penyelamatannya.

Penyelamatan itu bisa dilakukan dengan menggalakkan kampanye dan rehabilitasi terumbu karang yang mulai rusak atau kegiatan edukasi yang mampu menimbulkan akan pentingnya keberadaannya bagi ekosistem laut.
Salah satu kegiatan itu adalah penyemaian bibit terumbu karang di Teluk Kumai, kawasan Gosok Senggora, dekat Pelabuhan Kumai Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah.
Sebanyak 30 kapal yach dari berbagai negara turut andil dalam penyemaian 315 bibit terumbu karang tersebut. Dan di antara kapal itu, terdapat kapal milik Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat.
Bukan hanya kapalnya, mereka juga mengirim enam mahasiswanya yang mewakili enam Program Studi Fakultas Perikanan Unlam. Dipimpin oleh dosennya, mereka berangkat dari Pelabuhan Trisaksi, Banjarmasin, Sabtu (4/10).
Mereka membawa 96 unit petak yang digunakan sebagai tempat menyemai bibit terumbu karang. “Semuanya, ada yang digunakan untuk induknya dan ada untuk yang sudah besar,” ujar Hamdani SPi Msi, Dosen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Unlam yang menyertai kepergian mereka.
Menurutnya, selain berpartisipasi untuk mendukung tahun terumbu karang dan kegiatan penyemaiannya, kegiatan tersebut bisa dijadikan ajang edukasi bagi para mahasiswa akan arti pentingnya terumbu karang bagi ekosistem laut.
“Di Kalsel sendiri ada dua wilayah terumbu karang yakni Kintab dan di Tanah Bumbu. Jika tidak dijaga, kemungkinan rusak bisa saja terjadi,” katanya.
Mereka dijadwalkan berpartisipasi disana selama delapan hari, mulai tanggal 4 hingga 11 Oktober ini. Kemudian dilanjutkan hingga tanggal 20 Oktober dengan kegiatan lain, pemetaan laut atau yang lebih dikenal dengan nama oseanografi.

Monday, October 13, 2008

Mitigasi Meminimalisasi Dampak Pencemaran

Selasa, 30 September 2008
KOTABARU - Aktivitas usaha penangkapan ikan oleh nelayan di Kabupaten Kotabaru, yang berpotensi cukup tinggi menimbulkan pencemaran laut, perlu segera dilakukan aksi mitigasi pencemaran.

Pencemaran laut diakibatkan limbah-limbah yang timbul, yang dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap ekosistem laut, kehidupan biota maupun kesehatan manusia. Untuk meminimalisasi dampak pencemaran jangka panjang maka perlu segera dilakukan aksi mitigasi pencemaran.

Hal ini disampaikan oleh Ronal Sihombing dari PT. Dessi Mecasilvest, Banjarmasin selaku mitra kerja yang ditunjuk oleh Pemkab Kotabaru untuk melakukan mitigasi pada rapat Koordinasi dan Sosialisasi Mitigasi Pencemaran Kapal Nelayan di Kabupaten Kotabaru yang dilaksanakan di Operation Room.

Maksud dan tujuan dilakukannya sosialisasi yang dihadiri oleh perwakilan nelayan yang ada di Kabupaten Kotabaru, para Kepala Desa dan instansi terkait adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat nelayan dan kepedulian masyarakat nelayan Kabupaten Kotabaru akan bahaya limbah kapal nelayan utamanya limbah minyak dan oli bekas.

Selain itu, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan laut dan pesisir di Kabupaten Kotabaru. “Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi ini adalah membangun penampungan limbah minyak kapal nelayan sebagai usaha mitigasi,” ujarnya.

Upaya ini juga dimaksudkan untuk merubah paradigma yang tadinya laut menjadi keranjang sampah, maka sekarang laut menjadi halaman kita. “Bagaimana kita menginginkan halaman kita menjadi bersih, maka sekarang keinginan tersebut juga diwujudkan untuk laut kita. Hal ini kita lakukan agar laut dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya,” kata Ronal.

Kadis Perikanan dan Kelautan Ir Sabri Madani menjelaskan, sosialisasi ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya 3 bulan yang lalu dilakukan kegiatan yang sama. “Sosialisasi ini dilakukan untuk meminimalisasi limbah kapal nelayan karena jumlahnya yang cukup banyak. Perlu sosialisasi dan pembinaan terus-menerus. Untuk pencemaran kapal-kapal besar ada aturannya tersendiri,” ungkap Sabri.

Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Kotabaru tahun 2006, kondisi faktual jumlah kapal nelayan sebanyak 6.647 (<5 GT), 39 unit (5-10 GT), 19 unit (>10 GT).

Sedangkan Wabup Kotabaru Fatizanolo mengatakan, jangan sampai laut sebagai tempat mencari nafkah tercemari oleh limbah yang dapat merugikan nelayan itu sendiri. Tugas nelayan bukan hanya memancing tetapi juga mengawasi perairan yang ada di sekitarnya.

Wabup berharap jika ada hal-hal yang mencurigakan, segera mungkin dilaporkan kepada instansi terkait. Menurut Fati, nelayan bukan untuk melakukan tindakan tetapi memberikan informasi.

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi tersebut, saat ini telah dibentuk lima kelompok nelayan di Desa Rampa Baru dan Desa Rampa Lama yang terdiri atas 5 nelayan sebagai motor penggerak nelayan yang ada di sekitarnya untuk menyadarkan dan memberikan penyuluhan secara berkala. “Anggota kelompok nelayan tersebut akan diberikan pelatihan mengenai pengolahan limbah nelayan,” ungkap Ronal.(ins)