Label Cloud

Tuesday, March 03, 2009

Rame-rame Tolak Tuntutan PT GC

Selasa, 13 Januari 2009 | 21:40 WITA

BANJARBARU, SELASA  - Sikap pihak PT Galuh Cempaka (GC) yang mengalah untuk mau membuka kembali saluran Handil Gantung ternyata tidak gratisan. Perusahaan tambang intan di Banjarbaru ini mengajukan 6 point permintaan cukup rumit sebelum pembukaan handil dilakukan.

Point pertama permintaan PT GC yang disampaikan ke Dinas PU dan Permukiman Kota Banjarbaru, bahwa mereka hanya bisa membuka tabat (penutup) Handil Gantung di bagian hulu karena untuk bagian hilir tidak bisa menggunakan alat berat.

Sebelum tabat bagian hulu mereka bongkar, PT GC meminta tabat di bagian hilir dibongkar terlebih dahulu. Meski mereka yang membuat tabat tersebut, untuk pembongkaran bagian hilir mereka meminta Dinas PU dan Permukiman yang melakukannya.

Di point ketiga bernada tidak rela handil baru yang mereka bangun digunakan untuk mengatasi banjir di sawah warga. Karena itu begitu Handil Gantung dibuka kembali, PT GC meminta handil baru ditutup.

Uniknya di point ke empat, PT GC mengajukan syarat bahwa jika perusahaan mereka beroperasi kembali, perlu ada jaminan tertulis dari Pemko Banjarbaru bisa ditutup kembali tanpa ada permasalahan.

Sedangkan point kelima, intinya menyebutkan jika pembukaan Handil Gantung tidak membawa perubahan terhadap surutnya air yang menggenangi persawahan warga, PT GC akan menutup kembali handil tersebut dan membuka handil baru tanpa tuntutan ganti rugi petani.

Terakhir, PT GC menyimpulkan bahwa jaminan tertulis dari Pemko Banjarbaru bahwa handil baru dapat dibuka tanpa permasalahan sudah mereka terima sebelum pelaksanaan handil gantung dilaksanakan.

Sementera pada pembicaraan sebelumnya, pembukaan handil gantung dilaksanakan, Rabu (14/1). Otomatis pekerjaan itu pun tampaknya batal terlaksana hari ini.

Surat itulah yang membuat pihak Pemko Banjarbaru dengan DPRD Kota Banjarbaru membahas kembali surat tuntutan PT GC bersama perwakilan petani yang sawahnya kebanjiran diduga akibat penutupan handil gantung, serta Walhi Kalsel yang mendampingi petani.

Pada pertemuan di Kantor DPRD Kota Banjarbaru, Selasa (13/1), warga yang hadir menolak mentah-mentah sebagian besar poin tuntutan PT GC tersebut. Terutama point lima yang menggambarkan seolah-olah PT GC berkuasa penuh atas Handil Gantung.

Uniknya, Camat Cempaka, Subeli yang hadir memberikan arahan seakan memojokan warga. Subeli menyatakan, di PT GC ada aset negara, dan meminta warga agar tidak alergi terhadap investor asing.

"Kami tidak alergi terhadap investor asing. Silakan mereka berusaha, tapi jangan mengganggu petani yang sudah lama bertani di sekitar. PT GC sudah sangat tidak menghargai kami, dan surat permintaan ini menunjukan mereka seakan berkuasa penuh atas Handil Gantung," ujar perwakilan petani, Budi dengan nada keras.

Budi menambahkan, dengan adanya surat permintaan PT GC tampaknya mengulur-ulur waktu. Padahal, petani harus segera menanam bibit padi. Sebab bibit padi perlu waktu tiga bulan untuk bisa disemai.

"Kami biasanya menanam di bulan ke empat. Kalau tidak segera kami menanam bibit, maka tahun ini kami terancam tidak tanam. Dari mana lagi kami memperoleh makan kalau tidak bertani," ujar Budi.

Tidak hanya warga, Ketua DPRD Banjarbaru, Arie Sophian yang memimpin rapat pertemuan kemarin juga menyatakan, surat permintaan PT GC menyakitkan mereka. Menurutnya, PT GC menggiring mereka hingga dalam posisi objek dari masalah penutupan Handil Gantung.

"Namun permintaan PT GC belum final. Sekarang yang akan kita buktikan ke PT GC bahwa pembukaan Handil Gantung akan membuat sawah petani surut. Kalau ini terbukti, saya pasang badan agar Handil Gantung dibuka selamanya," tegas Arie.

Dalam rapat kemarin, warga juga menghendaki saat tabat Handil Gantung dibuka, handil baru juga tidak ditutup agar air cepat surut.

Hari ini, Rabu (14/1) DPRD Banjarbaru kembali memanggil, warga, PT GC, dan Pemko Banjarbaru duduk bersama untuk merumuskan kesepakatan bersama.

Sebagaimana diberitakan, warga menuding penutupan Handil Gantung oleh PT GC adalah biang dari banjir yang menggenangi persawahan warga.(ais)

Perusahaan Bijih Besi Surabaya Lirik Tala

Sabtu, 24 Januari 2009 | 08:34 WITA

PELAIHARI, SABTU - Satu lagi investor melirik Kabupaten Tanah Laut (Tala) untuk menanamkan investasinya yaitu PT Delta Prima Steel dari Surabaya. Rombongan yang dipimpin Cholid Aboud Bawazeer kemarin sore telah menghadap Bupati Tanah Laut Adriansyah di kediaman rumah dinas di Jalan Pancasila, Pelaihari.

Dalam pertemuan tersebut, Cholid mengatakan pihaknya berminat membangun pabrik pengolahan bijih besi menjadi bahan setengah jadi. Area yang dikhendaki yaitu di wilayah Kecamatan Jorong.

Bupati H Adriansyah sendiri menyambut baik rencana investasi tersebut dan berharap bisa diwujudkan secepatnya. (idda royani)
Buzz up!
ARTIKEL LAINNYA

    *
      Selasa, 3 Maret 2009 | 08:21 WITA
      Busyet, di Tanjung Alat Cuci Darah Dibiarkan di Gudang!
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:19 WITA
      Sibuk Ceramah, Guru Bakeri Tunda Melapor
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:17 WITA
      Remaja Tabalong Wajib Tamat SMA
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:15 WITA
      Warga Ancam Tutup Jalan Tambang
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:09 WITA
      PNS-Honorer Pemkab Banjar Digrebek

posting komentar anda:
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Name (required)
Email (required)
Alamat
Isi Komentar
Security Code (required)

Pegunungan Meratus Terancam Rusak

Selasa, 24 Februari 2009 | 15:16 WITA

BANJARMASIN, SELASA - Kawasan Pegunungan Meratus terancam rusak karena terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup akibat aktivitas aejumlah areal pengusahaan pertambangan. Demikian disampaikan Ir Anang Rosadi Adenansi, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Ancaman kerusakan itu antara lain adanya aktivitas penambangan batu gunung di Batu Tangga, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel, kata Wakil Ketua Komisi IV Bidang Kesra DPRD provinsi itu, di Banjarmasin, Selasa (24/2).

"Saya baru datang dari Batu Tangga (sekitar 200 km utara Banjarmasin) dan melihat aktivitas warga membongkar batu yang terdapat di perbukitan Meratus tersebut sebagai barang dagangan," kata wakil rakyat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Menurutnya, aktivitas penambangan batu gunung di Batu Tangga di kawasan Meratus tersebut sama dengan perusakan lingkungan hidup.  Oleh karena itu, politikus muda yang terkenal "vokal" itu meminta pemerintah atau pihak aparat terkait menghentikan kegiatan penambangan batu gunung yang berdampak pada kerusakan lingkungan serta bisa mengancam terhadap sumber daya alam (SDA) lainnya.

"Apapun alasannya, pengrusakan lingkungan tak bisa ditolerir, dan pemerintah harus segera menghentikan bila tidak ingin kerusakan lingkungan makin bertambah parah," tandasnya.

Pemerintah harus mencarikan solusi untuk menghentikan aktivitas pembongkaran batu gunung yang menjadi salah satu mata pencaharian sampingan masyarakat setempat, katanya.

"Karena dari pengakuan penduduk setempat saat berbincang-bincang dengan saya, mereka membongkar batu gunung itu merupakan mata pencaharian sampingan. Sedangkan usaha mereka yang utama  perkebunan karet serta menanam padi tegalan," ungkapnya. (Antara)
Buzz up!