Label Cloud

Monday, March 26, 2007

Jangan Salahkan Alam

Selasa, 20 Februari 2007 02:15

B. Post/ Opini

Bencana alam terus saja terjadi di negeri ini. Dalam beberapa hari belakangan ini, Jakarta diterjang banjir. Sejumlah rumah penduduk terendam, dan beberapa ruas jalan di ibukota negara ini digenangi air sehingga menambah tinggi biaya transportasi. Terakhir, Kecamatan Windusari, Magelang, Jawa Tengah dilanda tanah longsor dan Jogjakarta diterjang angin puting beliung pada Minggu (18/2). Dikabarkan, seratus lebih warga dua desa di Kecamatan Windusari yang tengah mengikuti kerja bakti, tertimbun tanah longsor. Delapan orang tewas, dua lainnya belum ditemukan.

Sementara Jogjakarta tepatnya Kabupaten Bantuk yang diluluhlantakan gempa bumi berkekuatan besar pada tahun lalu, kembali ditimpa bencana. Pada Minggu (18/2) sore, daerah ini diterjang angin puting beliung hingga memporakporandakan ratusan rumah di beberapa wilayah kota tersebut. Amukan puting beliung ini juga memutus jaringan telepon dan mematikan aliran listrik. Membuat Kota Gudeg itu gelap gulita, Juga, ratusan pohon tumbang menyebabkan akses jalan terputus. Sebuah pohon beringin raksasa berusia puluhan tahun roboh dan melintang di jalan. Sebuah pemandangan yang benar-benar mengenaskan. Untungnya, petaka puting beliung yang melanda Jogjakarta ini tidak meminta korban jiwa. Meski demikian, kerugian material yang ditimbulkannya jelas sangat besar.

Di hari yang sama dan pada yang bersamaan, angin puting beliung juga mengamuk di Kota Depok, Jawa Barat. Sedikitnya tujuh rumah di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, rusak dan satu korban patah tulang. Angin kencang itu disertai hujan deras yang turun sejak Sabtu.

Semua petaka yang berkaitan dengan alam ini terjadi di saat memasuki musim penghujan. Sedangkan puncaknya diperkirakan pada Maret-April mendatang. Artinya, hingga pada puncak musim penghujan, angin kencang disertai hujan deras masih akan terus terjadi di negeri ini. Bahkan, sebagaimana dikatakan Irman Sonjaya, forecaster Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (Staklim BMG) Kelas I Banjarbaru, Kalsel juga masih akan diguyur hujan disertai angin kencang dan petir. Untuk itu, warga diminta mewaspadai ancaman angin puting beliung. Pasalnya, kata Irman, pola angin yang melewati Kalsel memiliki kontribusi memunculkan serangan angin besar dengan gerak cepat.

Selain angin kencang dan petir, banjir masih mengancam sejumlah wilayah di Kalsel. Sebagaimana dikatakan Kepala Bapedalda Kalsel, Rachmadi Kurdi, hal ini dikarenakan semakin kecilnya hutan resapan air. Di samping itu, lima daerah aliran sungai (DAS) dari 13 DAS yang ada di daerah ini dalam kondisi kritis yang membuat beberapa daerah di provinsi ini diancam banjir besar selama musim penghujan.

Harus diakui, penyebab utama bencana alam yang melanda negeri ini adalah ulah manusia sendiri. Kita, manusia, memperlakukan alam secara tidak bijak. Hutan yang menjadi tangkapan dan resapan air, musnah dibabat habis untuk kepentingan dan keuntungan sesaat tanpa mempedulikan akibatnya dan masa depan. Manusia memperlakukan alam secara semena-mena, sehingga menimbulkan kerusakan di mana-mana.

Sebenarnya, Tuhan telah mengisyaratkan hal ini dalam Alquran yang menyebutkan, kerusakan di muka bumi dan laut adalah akibat tangan manusia.

Negeri kita ini, awalnya terkenal memiliki banyak hutan tropis dan sebagai paru-paru dunia. Tapi kini apa yang terjadi. Hutan itu musnah dari hari ke hari, karena pohonnya dibabat habis. Kalau pun ada usaha untuk menanam kembali, tapi tidak seimbang dengan yang ditebang. Akibatnya, kita sendiri yang merasakannya. Banjir di mana-mana dan angin puting beliung menerjang semua benda yang dilewatinya, karena hutan sebagai resapan air dan penghalang kencangnya angin dimusnahkan.

Selama ini, alam selalu disalahkan setiap terjadi musibah yang berkaitan dengannya. Padahal, alam telah memberikan kesejahteraan dan segalanya kepada manusia. Tapi, manusianya yang tidak pernah berterimakasih kepada alam dengan memperlakukannya secara sewenang-wenang. Jadi, jangan salahkan alam kalau tidak mau lagi bersahabat dengan manusia.

Limbah Rumah Sakit Dibuang Di TPA

Senin, 19 Februari 2007 00:39

Pelaihari, BPost
Sampah yang teronggok di tempat pembuangan akhir (TPA) di Bakunci, Kecamatan Pelaihari, tak hanya berupa limbah rumah tangga dan sejenisnya. Limbah rumah sakit juga terdapat ditempat ini.

Sejumlah wartawan yang sedang meliput aktivitas pemulung di lokasi TPA yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kota Pelaihari itu terkejut ketika mennemukan sejumlah barang bekas yang merupakan limbah dari rumah sakit. Barang itu antara lain berupa botol infus bekas dan media jarum suntik.

Limbah rumah sakit itu berada di antara onggokan barang bekas (sebagian besar botol air mineral) yang dikumpulkan pemulung. Botol air mineral, terutama berupa gelas, adalah barang bekas yang paling diburu pemulung karena mudah dijual.

Diperkirakan masih banyak limbah rumah sakit yang berada di lobang-lobang sampah di TPA Bakunci. Keberadaan limbah itu berpotensi menimbulkan dampak negatif karena tergolong B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Tala Ir Zulkifli Chalid terkejut ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan limbah rumah sakit di TPA. "Masa? Ada ya? Wah, itu nggak boleh. Limbah rumah sakit tak boleh dibuang di TPA karena termasuk B3," katanya.

Menurutnya, memang ada sebagian limbah rumah sakit yang boleh di buang ke TPA yaitu limbah dari dapur umum. Selebihnya, barang-barang bekas medis (botol infus, jarum suntik, dan lainnya) tidak boleh dibuang ke TPA.

"Limbah medis itu harus ditangani dengan alat tersendiri oleh pihak rumah sakit. Tapi, saya dengar alatnya (incenerator) rusak," ucap Zulkifli.

Dikonfirmasi via telepon, Plt Direktur RSUD Hadji Boejasin H Abdullah tak menepis pembuangan limbah medis ke TPA Bakunci. "Ini terpaksa kami lakukan karena incenerator rusak sejak kebakaran beberapa waktu lalu."

Incenerator adalah alat/tempat pembakaran sampah. Harganya cukup mahal mencapai ratusan juta. Saat ini mungkin harganya berkisar Rp300 juta.

Pihaknya, jelas Abdullah, tahun ini telah mengajukan usulan untuk pengadaan alat tersebut. Usulan ini diharapkan terakomodasi dalam APBD 2007 sehingga sampah medis tidak lagi dibuang ke TPA.

"Mudah-mudahan sekitar bulan Juni mendatang incenerator itu sudah terbeli. Jadi, mulai saat itu sampah medis kita masukkan ke incenerator," jelas Abdullah.roy

Pengelolaan Sampah Belum Standar

Sabtu, 17 Februari 2007 01:30

* Ditimbun tanpa perlakuan

Pelaihari, BPost
Sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) di Bakunci mulai tertata dan tidak lagi berhamburan. Namun pengelolaannya masih jauh dari standar yang diinginkan.

"Pengelolaan sampah di TPA Bakunci saat ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tapi yang masih kurang penanganan sampah di lobang timbunan,"kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup Zulkifli Chalid.

Menurut Zulkipli Kamis (15/2), lobang sampah yang penuh langsung ditutup tanah. Padahal, mestinya harus ada perlakuan. Setidaknya penimbunan secara bertahap dengan material tanah tiap tumpukan sampah mencapai ketebalan tertentu.

"Ketika tumpukan tebalnya sudah 40 sentimeter, harus ditimbun dengan tanah dengan tebal 20 sentimeter. Kemudian ditumpuki sampah lagi, lalu ditimbun tanah. Begitu seterusnya hingga lobang sampah penuh," beber Zulkifli.

Perlakuan sederhana itu antara lain untuk menciptakan kondisi aerob. Dengan begitu proses dekomposisi (pembusukan) berlangsung lancar dan lebih cepat. Lobang sampah yang penuh, jelas Zulkifli, tidak bisa langsung ditimbun begitu saja.

Harus dibuatkan lobang udara dengan menggunakan sejenis pipa guna mengalirkan gas metan (hasil proses dekomposisi). Tanpa adanya lobang udara, timbunan sampah berpotensi akan meledak. Karena itu pembuatan lobang udara penting sampai menyentuh hingga dasar timbunan.

Secara umum, Zulkifli menilai pengelolaan sampah di TPA Bakunci cukup baik.Ini antara lain terlihat dari pembuatan lobang-lobang timbunan sampah yang cukup dalam dan teratur, pembuatan sumur kontrol, pos penjagaan, dan gapura pintu masuk. roy