Label Cloud

Wednesday, May 30, 2007

Hari Libur Sampah Tak Terangkut

Tuesday, 29 May 2007 01:31

Warga khawatirkan limbah perusahaan

BANJARBARU, BPOST - Penanganan sampah di Kota Banjarbaru masih menyisakan banyak permasalahan. Terbukti, terutama hari libur, di kota yang telah berupaya mengejar piala adipura itu, pada siang hari tetap ditemukan sampah yang belum terangkut.

Pantauan BPost, sejumlah tempat pembuangan sampah (TPS) yang tersebar di sudut kota masih dipenuhi sampah. Seperti yang tampak di Jalan Mistar Cokrokusumo. Tepat di depan Citra Banjarbaru (CB) Plasa misalkan, sampah tampak menumpuk.

Bau menyengat pun menyeruak hingga pengguna jalan yang lewat tak jarang harus menutup hidung karena sampah-sampah itu memunculkan aroma tak sedap. Semakin siang, ketika tiba hari libur atau di awal pekan, bukannya bertambah sedikit, sampahnya justru semakin menumpuk.

"Apa karena kemarin libur dan hari ini belum bisa diangkut? Sampahnya sudah siang masih saja berserakan," ungkap Agus, warga di Jalan Mistar Cokrokusumo. Ia dan warga sekitarnya, ungkap Agus, mengkhawatirkan jika ini tak ditangani segera akan semakin parah. Apalagi, mengingat baru saja di CB Plasa yang juga menjadi kawasan Ekonomi Terpadu (KET) ini diresmikan menjadi pasar subuh.

Tidak hanya di Jalan Mistar Cokrokusumo, tumpukan sampah juga tampak di TPS samping RSUD Banjarbaru dan Panglima Batur Barat.

Menanggapi hal ini, Plt Kadistako Banjarbaru, Zahedy berjanji akan lebih mengintensifkan pasukan kuning dan angkutan sampah di tempatnya. Ia mengelak kalau dikatakan, hari libur sampah tak terangkut. "Kami akan cek lagi. Kalau hari libur sebenarnya kami tetap mengangkutnya," tandasnya. niz

Kemarau Datang, Kabut Asap Mengancam Oleh: Deni Mujiati*

Kamis, 24 Mei 2007

MASIH jelas diingatan bahwa musim kemarau di tahun lalu Indonesia banyak mendapat kecaman dari Negara-negara tetangga akibat kabut asap sebagai hasil kebakaran hutan disebagian besar pulau Kalimantan dan pulau Sumatera. Tidak bisa dielakkan, beberapa tahun terakhir Indonesia melaluinya dengan penuh bencana yang bertubi-tubi mulai dari tsunami, banjir, kabut asap, gunung berapi dan tanah longsor. Bahkan di beberapa daerah baru-baru ini termasuk di Kalimantan Selatan masih terjadi banjir. Berbagai fenomena alam yang telah lalu semoga (hendaknya) menjadi belajaran berharga bagi anak negeri ini, mungkin alam mulai ringkih dan telah lelah. Dan saatnya kita tersadar apa yang telah kita bebankan selama ini kepada alam di negeri ini, gangguan terhadap keseimbangan alam telah membuat alam menjadi rentan terhadap bencana.

Seperti halnya bencana-bencana tahunan yang telah kita lalui selama 10-15 tahun terakhir ini, kabut asap terjadi setiap kali musim kemarau akibat kebakaran hutan dan lahan. Untuk itu sebelum datangnya musim kemarau ada baiknya bersama-sama kita melakukan tindakan prevetif, pengalaman di tahun-tahun lalu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bencana rutin tahunan tersebut bukanlah bencana yang tidak bisa dicegah, itulah mainstream yang harus tertanam pada semua masyarakat negeri ini. Kita jangan pernah berpikir bahwa segala bencana yang terjadi adalah sebagai takdir dari Tuhan YME, Tuhan telah menganugerahkan alam semesta ini untuk dikelola secara adil oleh manusia, namun yang terjadi saat ini justru keserakahan dan eksploitasi yang berlebih-lebihan.

Pergeseran musim telah terjadi di Indonesia, Musim hujan yang masih berkepanjangan di sebagian wilayah Indonesia di Sumatera bagian Utara, Kalimantan bagian Selatan dan Jawa bagian Utara adalah akibat penguapan air secara lokal yang membentuk awan konvektif, penguapan timbul akibat kerusakan ekosistem hutan tropis Kalimantan dan polusi udara. Dalam waktu dua smapai tiga pekan mendatang angin yang berhembus menuji ekuator akan berubah dari arah tenggara yang merupakan angin kering (Kompas 15 Mei 2007). Oleh karena itu perlu kita waspadai timbulnya kekeringan dan kebakaran hutan yang dampaknya adalah kabut asap.

Masyarakat khususnya harus mempunyai kesadaran penuh terhadap bencana kabut asap yang kemungkinan terjadi di Kalimantan. Sebelum nasi jadi bubur ada baiknya marilah bersama-sama kita kaji ulang tentang penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, tudingan banyak diarahkan kepada masyarakat yang sengaja membakar lahan untuk membuka ladang berpindah, masyarakat yang membakar lahannya dengan sengaja untuk mempercepat proses pembersihan lahan sebelum penanaman dan yang pasti adalah pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit skala besar oleh perusahaan-perusahaan nasional maupun trans internasional.

Siapa yang patut dipersalahkan dengan datangnya bencana yang terjadi, apa masyarakat adat yang bertani membuka hutan untuk ladang berpindahnya yang telah dilakukan secara turun temurun sejak zaman para leluhurnya, seberapa besar kontribusi mereka untuk menyumbang terjadinya kabut asap di Indonesia, atau para petani lahan gambut yang membersihkan lahan pertaniannya sebagai bagian dari proses pengolahan tanah, atau para pelaku illegal logging yang dengan sengaja membakar hutan untuk menghilangkan jejak, atau para perusahaan perkebunan kelapa sawit skala besar yang membuka hutan untuk alih fungsi lahan perkebunan kelapa sawitnya, atau bahkan pemerintah kita yang kurang becus dalam berbagai kebijakan yang dibuat maupun upaya teknis pencegahan dan pengendalian.

Berbagai pertanyaan itu yang harus kembali ditanyakan kemudian dianalisa oleh masyarakat dan terus dicari jawabannya, sehingga kita dapat menemukan akar permasalahan kenapa kebakaran hutan dan lahan terjadi hampir tiap tahun di Kalimantan. Hal ini penting sebagai dasar untuk melakukan upaya prevetif karena kita sendiri tahu, dampak terjadinya kabut asap bukanlah hal yang remeh. Dampak terhadap aktivitas masyarakat yang ujung-ujungnya berpengaruh terhadap kinerja, bahkan bisa mengancam integritas bangsa karena pandangan masyarakat dunia sebagai ketidakmampuan negara dalam mengelola lingkungan, dampak kesehatan yang pasti sangat jelas mengganggu sistem saluran pernapasan dan kesehatan mata.

Berdasarkan data Dinkes Kota Banjarmasin, pada Agustus 2006 mencapai 5.597 kasus penderita ISPA. Kalau dihitung mengalami peningkatan sekira 8 persen dari kasus bulan Juli sebanyak 5.163 orang (Radar Banjarmasin, 10 Oktober 2006). Peningkatan balita yang terkena ISPA pada 14 desa di Kecamatan Gambut lebih 100 persen. Pada bulan Juli, balita penderita ISPA dan pnemonia, dengan gejala utama batuk-batu dan pilek hanya 24 orang, pada Agustus langsung melonjak menjadi 137 orang. Hal ini karena anak-anak itu menghirup udara kotor dari asap kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini sangat rawan bagi penderita asma. (Kompas, 26 September 2006)

Adalah sebuah keharusan kita untuk bersama-sama mempertahankan kondisi lingkungan kita yang menjadi bagian terpenting dalam hidup. Lalu apa yg harus kita lakukan? Kita bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Di musim kemarau yang akan datang, hindari melakukan pembakaran sampah atau serasah.

2. Para perokok jangan membuang puntung rokok yang masih menyala sembarang tempat, terutama di semak belukar

3. Jika ada kebarakan lahan/hutan di sekitar anda, segera lakukan pemadaman dengan mengajak orang di sekitar atau penduduk kampung atau teman lainnya atau laporkan ke posko kebakaran terdekat atau dinas kehutanan.

4. Jika menemukan ada perusahaan perkebunan atau HTI yang dalam rangka membuka dan membersihkan lahannya dengan sengaja membakar lahan/hutan, maka catat nama pelaku, perusahaannya, lokasi, waktu dan segera laporkan ke kantor polisi terdekat atau melalui organisasi lingkungan yang anda kenal.

5. Bagi para petani tradisional dalam melakukan pembukaan dan pembersihan lahan dimusim kemarau sedapat mungkin untuk menghindari cara pembakaran, jikapun diperlukan buatlah sekat bakar agar nyala api tidak meluas.

6. Bersama-sama dengan masyarakat lainnya meminta kepada pemerintah untuk menyediakan sarana pengobatan gratis bagi penderita ISPA. Hal ini bisa dilakukan dengan mengirimkan surat ke Bupati, Gubernur maupun DPRD Propinsi atau DPRD kabupaten setempat. Bisa juga dengan menyampaikannya secara langsung dengan mendatangi kantor-kantor penyelenggara negara tersebut diatas. Insyaallah mereka masih mau mendengar kita.

7. Bersama-sama dengan masyarakat lainnya mendesak pemerintah untuk membuat kebijakan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan yang komprehensif dan aplikatif secara transparan dengan melibatkan masyarakat mulai dari awal.

8. Bersama-sama dengan masyarakat lainnya mendesak aparat penegak hukum untuk menangkap dan mengadili aktor perusahaan pelaku pembakaran lahan dan hutan.***

*) Anggota Individu Walhi Kalsel

Sunday, May 27, 2007

Tambang Batu Kuning Ditutup

Senin, 21 Mei 2007 02:15

  • Tiga penambang tewas

SRAGEN, BPOST - Pemerintah Kabupaten Sragen menutup lokasi penambangan Batu Kuning, di lereng Gunung Kemukus di Dusun Sendangboto, Desa Suko, Kecamatan Miri, Minggu (20/5).

Penutupan lokasi penambangan tradisional seluas satu hektare yang dikelola swadaya oleh warga ini dilakukan, selain karena dinilai ilegal dan membahayakan, juga menyusul tewasnya tiga penambang akibat tertimpa runtuhan batu, akhir pekan kemarin.

Selain menewaskan Parno (35), Paiman, (50), keduanya warga Desa Miri, dan Paryono (35), warga Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, peristiwa ini juga melukai tiga penambang lain, Suwandi (31), Sutarman, dan Wagirin (35), ketiganya warga Desa Miri. Wagirin bahkan harus dilarikan ke Rumah Sakit Yakssi Sragen, karena mengalami patah tangan kanan.

Perintah penutupan itu disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat, Sragen, Wangsit Sukono langsung kepada Kepala Desa Suko, Kardiyo (35), disaksikan warga sekitar.

"Atas perintah Bupati, lokasi penambangan ini ditutup. Mulai besok tidak boleh lagi ada kegiatan penambangan di sini. Ini kami lakukan karena sangat prihatin dengan musibah yang menewaskan tiga warga itu," imbuh Wangsit.

Namun, meski sadar akan besarnya resiko bahaya yang setiap saat mengintai, para penambang batu tetap keberatan atas penutupan lokasi itu. Mereka beralasan, lokasi tambang yang terletak di tanah milik Pawiroman (50), itu telah menjadi sumber nafkah bagi keluarga.

"Ada 200 kepala keluarga atau sekitar 12 ribu jiwa yang menggantungkan hidupnya dari tambang ini. Kalau ini ditutup, anak dan isteri kami mau diberi makan apa," kata Koordinator Penambang, Willy Taufik.

Apalagi, kata dia, lokasi tambang yang mereka gali merupakan hak milik perorangan, bukan milik negara. Para penambang pun telah membayar sewa kepada pemiliknya. Karena itu, mewakili rekan-rekannya Willy menolak jika kegiatan penambangan yang selama ini dilakukan, disebut ilegal.

"Kami minta Pemkab tidak menutup secara sepihak. Kalau memang mau ditutup, Pemkab harus mencarikan jalan keluarnya. Tidak langsung menyikapinya seperti itu," katanya.

Sepanjang pagi hingga tengah hari kemarin, tidak terlihat adanya aktivitas penggalian yang dilakukan para penambang. Meski tetap datang ke lokasi, mereka hanya sekadar duduk-duduk sembari berbagi cerita perihal nasib naas yang menimpa tiga rekan mereka. "Ini sebagai wujud rasa bela sungkawa kami kepada pihak keluarga," kata Sugeng, salah seorang penambang.

Menurut keterangan salah satu penambang, Paino (40), di Sragen, Sabtu, kejadian itu bermula saat empat orang penambang yang bekerja secara berkelompok menambang di bawah tebing setinggi 20 meter.

"Tiba-tiba terdengar suara gemuruh tanah longsor. Tiga orang tertimpa bebatuan yang longsor, sementara Wagimin berhasil menyelamatkan diri meski tangan kirinya patah," katanya.

Menurut dia, para penambang lainnya juga sempat berteriak agar para korban segera menyelamatkan diri, sayang longsor terjadi begitu cepat.mic/ant/kcm