Label Cloud

Sunday, December 30, 2007

Desember, Penghijauan Serentak

Sabtu, 24 November 2007
Radar Banjarmasin

BANJARBARU – Dalam mendukung gerakan lingkungan hijau serta menghadapi pemanasan iklim global, tepat 1 Desember mendatang, Banjarbaru serentak akan melakukan gerakan penghijauan. Gerakan ikut mendukung lingkungan hijau ini, tak hanya dilakukan sejumlah kawasan tertentu saja namun juga lingkungan masyarakat.

Jauh-jauh hari menjelang gerakan penghijauan itu, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Banjarbaru setidaknya sudah menyiapkan 1.000 pohon aneka jenis yang siap ditanam.

“Sejak awal, kita sudah menyiapkan jenis pohon yang ditanam. Mudahan saja, stok yang ada ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” kata Ir Denny D Suan, Kadishutbun kepada koran ini.

Disebutkan Denny, sebagai program utama gerakan penghijauan nanti, akan lebih diprioritaskan pada kawasan sepanjang Jl A Yani, kawasan Jl Trikora dan beberapa kawasan pemukiman masyarakat yang memiliki berbagai fasilitas umum. Dengan begitu, terang Denny, ke depan upaya untuk menghijaukan Kota Banjarbaru nantinya benar-benar bisa diwujudkan.

Tak hanya melalui program penghijauan saja pihaknya menyediakan aneka jenis pohon, sehingga dipersilahkan kepada elemen masyarakat yang membutuhkan pohon penghijauan, asalkan digunakan sesuai dengan kebutuhan dipersilahkan mengajukan permohonan ke Dishutbun.

“Silahkan saja, siapa saja tak terkecuali sekolah-sekolah membutuhkan pohon penghijauan agar mengajukan permohonan kepada kami dan pasti akan kita penuhi selama sesuai dengan keperluan,” kata Denny lagi. (mul)

Truk Fuso Resahkan Warga

Sabtu, 24 November 2007
Radar Banjarmasin

KOTABARU – Warga Kotabaru mulai resah. Pasalnya, pada rute jalan ibukota Kabupaten Kotabaru menuju Kecamatan Berangas banyak dilewati truk besar jenis fuso yang mengangkut material tambang batu gunung. Kondisi ini tidak sebanding dengan lebar jalan yang tidak sampai 6 meter tersebut.

   Bahkan, sejumlah truk pengangkut batu tersebut sebagiannya tidak mempunyai izin beroperasi di Kotabaru. Parahnya lagi yang sudah berizin pun izinnya sudah habis dan tidak diperpanjang oleh pengusaha yang bersangkutan.

   Dengan ukurannya yang besar, keberadaan truk liar ini cukup membahayakan pengguna jalan lainnya. Setiap berpapasan dengan truk ini selalu membuat pengguna jalan lainnya waswas lantaran takut bersenggolan.

   "Sejumlah truk itu melintas tanpa aturan waktu, dari pagi bahkan sampai malam hari. Melihat kondisi seperti ini Dinas Perhubungan masih belum mengambil tindakan apapun untuk mengatasi masalah ini,” keluh Radi, seorang pengguna jalan.

   Tidak hanya itu saja, Radi mengharapkan agar Dinas Perhubungan bisa segera mengatasi masalah ini dan menertibkan truk yang melebihi muatan serta yang tidak mempunyai izin tersebut. (ins)

70 Persen Pantai Rusak

Sabtu, 24 November 2007
Radar Banjarmasin

BANJARMASIN – Kondisi pantai di Kalsel cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, dari 1.330 Km garis pantai, 70 persen diantaranya mengalami kerusakan.

Kasubdin Prasarana dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Perikanan dan Kelautan Kalsel HM Darban mengemukakan, kerusakan disebabkan abrasi sebagai akibat dari kuatnya gerusan ombak laut dan banyaknya aktivitas manusia yang kurang bersahabat dengan lingkungan laut.

Tak hanya rusak, papar Darban, sejumlah pantai juga kotor akibat sampah organik dan non organik. “Sampah tersebut ada yang berasal dari daratan yang terbawa gelombang, ada pula yang sengaja dibuang manusia ke laut,” ungkapnya kepada wartawan usai pembukaan sosialisasi bersih-bersih pantai di Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut Kamis (22/11).

Selain itu, penebangan hutan juga dipandang sebagai salah satu penyebab kotornya pantai. Pasalnya, limbah dari aktivitas penebangan biasanya dialirkan melalui sungai, lalu ke luar melalui pantai.

Penyebab lain kotornya kondisi pantai di Kalsel, lanjut Darban, akibat limbah batubara yang diangkut baik melalui sungai maupun laut. “Aktivitas pengangkutan batubara memperburuk pencemaran pantai,” ungkapnya lagi.

Untuk itulah, ia mengajak masyarakat, pengusaha, nelayan, serta seluruh elemen masyarakat, bersama-sama menjaga kebersihan pantai. “Kalau limbah batubara dan sampah yang menumpuk di pantai masuk ke laut, berpotensi merusak ekosistem laut dan akhirnya mengurangi produktivitas kelautan,” ingatnya.

Dijelaskannya, luas perairan umum Kalsel sekira 1 juta hektare, dengan potensi penangkapan ikan 180 ribu ton per tahun. Jika pencemaran sudah pada titik yang memprihatinkan, ia mengkhawatirkan kekayaan laut berangsur-angsur berkurang.

Sementara itu, masyarakat Tabanio meminta kepada pemerintah daerah dibuatkan penahan gelombang atau pemecah ombak yang berfungsi mengurangi kerusakan pantai akibat kerasnya hantaman ombak. “Di Tabanio abrasi pantai mencapai 5 sampai 10 meter per tahun. Karena itu perlu dibuatkan penahan gelombang,” pinta Maksum, salah seorang warga Tabanio.

Pada acara bersih-bersih pantai di Desa Tabanio tersebut, Wagub Kalsel HM Rosehan NB menyerahkan bantuan kepada masyarakat setempat uang tunai sebesar Rp25 juta untuk pembuatan sumur bor, dan 8 unit genset untuk 7 musala dan masjid.(sga)